Aksi Dalang Pembunuh Berantai di Meja Penyidik

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyidik Polda Metro Jaya terus berupaya mengungkap kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Wowon alias Dukun Aki Cs. Namun sejumlah kendala ditemui penyidik.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi mengatakan, pihaknya mengaku sulit meminta keterangan dari pada Wowon alias Aki.

Dukun Aki hanya bisa dimintai keterangan apabila dirinya disuruh menjadi dalang.

Belakangan diketahui, Wowon berprofesi sebagai Dalang usai penyidik mendalami keterangan daripada pelaku.

"Yang jelas yang unik pada saat memeriksa si Wowon ini kalau ditanya langsung susah. Tapi kalau jadi dalang kebuka semua itu. Sambil dalang, dia," ujar Hengki kepada wartawan, Rabu (25/1).

Diceritakan Hengki, sosok Wowon yang menjadi dalang pun diakuinya dirinya memang benar ketika Wowon turut mempraktekkan aksi dalangnya di hadapan penyidik. Pada saat itu dipraktikkan tersebut pun Wowon memiliki suara yang berbeda. Usai dipraktikkan permainan dalang tersebut lah penyidik mendapatkan berbagai fakta baru.

"Wowon ini selain profesinya adalah dalang jadi suaranya bisa berubah berubah, dipraktikkan pada saat pemeriksaan kemarin," jelas dia.

"Sambil dalang, dia. Dimana korbannya, disimpan di sini. Ini fakta kejadiannya," sambungnya.

Sekadar informasi, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran mengungkap, seluruh peran dari tiga tersangka pembunuhan berencana. Dengan peran masing-masing melancarkan aksi meracuni korban sekeluarga di Bekasi.

"Pelaku ada saudara, Wowon Erawan alias Aki, Solihin Alias Duloh, dan saudara M Dede Solehudin ketiganya ternyata orang dekat dari para korban," kata Fadil saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (19/1).

Berawal dari Dulah, menarasikan dirinya untuk mampu meningkatkan kekayaan seseorang. Lalu menyuruh Aki untuk mencari korban, ketika korban telah merasa ditipu oleh Dulah barulah para korban direncanakan dibunuh.

Nyatanya pembunuhan juga tidak menyasar kepada korban, namun orang yang mengetahui kejahatan mereka tak luput jadi sasaran. Seperti Ai Maimunah (40); Ridwan Abdul Muiz (20); dan Muhammad Riswandi (16).

Mereka dibunuh dengan cara diracuni, karena dianggap berbahaya mengetahui kejahatan yang dilakukan para tersangka. Atas tindak pidana penipuan berkedok supranatural demi memberikan kekayaan.

"Maka, Aki melaporkan kepada Dulah, maka Dulah yang mengeksekusi dengan mengajak korban ke rumahnya. Dikasih minum racun, dan orang yang mengetahui pun dianggap berbahaya (3 korban diracun di Bekasi) maka akan dihilangkan," jelasnya.

Maka skenario pembunuhan lantas disusun Aki yang diduga jadi otak pembunuhan. Dengan berperan pemberi instruksi sekaligus pemberi dana untuk melakukan pembunuhan.

Sementara Duloh bertugas mengantar ketiga korban dari Cianjur ke Kontrakan di Bekasi yang menjadi TKP pembunuhan. Lalu tersangka lain, M Dede Solehudin bertugas menggali lubang di TKP, serta menyajikan kopi yang bakal dikasih racun untuk ketiga korban.

"Dan dari hasil pemeriksaan para tersangka mengakui memang pernah melakukan modus yang sama, melakukan pembunuhan," jelasnya.

Sedangkan dari tersangka Dede sendiri yang kedapatan menjadi korban keracunan. Ternyata ikut menegak minuman racun tersebut hingga dirinya ikut dirawat.

"Jumlah korban pembunuhan berantai di bekasi, 3 orang meninggal dunia. 1 selamat. Walaupun 1 selamat ini patut diduga terlibat tindak pidana penipuan. Kemungkinan akan kita sidik," sebutnya.

Mereka pun dijerat dengan Pasal 340 KUHP, subsider 338, 339 KUHP, ancaman pidana paling berat hukuman mati. [rnd]