Aksi Gila Tim Kopassus Pimpinan Prabowo Terobos Hutan Perawan Papua

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bukan perkara mudah bagi satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk memburu Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKS), Organisasi Papua Merdeka (OPM). Peristiwa ini dialami oleh eks Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa.

VIVA Militer melaporkan dalam berita Senin 8 Januari 2021, Nyoman adalah salah satu prajurit Kopassus yang ikut serta dalam Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma 1996. Di bawah komando Danjen Kopassus saat itu, Brigjen TNI Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Misi tim Kopassus yang diterjunkan ke Papua yang saat itu bernama Irian Jaya, adalah untuk membebaskan puluhan sandera yang ditawan oleh kelompok pemberontak OPM pimpinan Kelly Kwalik.

Jelas bukan perkara mudah bagi Nyoman dan rekan-rekannya untuk mencari keberadaan OPM dan para sandera. Sebab menurut Nyoman, ia dan rekan-rekannya harus masuk ke dalam hutan belantara. Tak hanya itu, proses pencarian jejak juga tak mudah. Karena, medan yang sangat luas.

Yang lebih gila, Nyoman mengakui bahwa ia dan rekan-rekannya saat itu hanya dimodali peta sungai sebagai panduan. Peta itu hanya bergambar garis-garis yang menunjukkan letak aliran sungai.

"Untuk yang Irian Jaya ini memang agak unik. Karena di sana dari segi medan, itu cukup luas. Kemudian ini hutan belantara yang belum pernah terjamah oleh manusia," ucap Nyoman.

"Saya tanya ke komando atas, mana peta Irian Jaya. Yang ada hanya peta sungai. Jadi ini betul-betul prajurit yang di lapangan, harus bisa menganalisa medan. Mereka dengan peta sungai hanya berupa garis-garis, harus bisa bayangkan mana ketinggian, mana lembah, mana sungainya," katanya.

Hal sulit lainnya yang juga pernah dihadapi Nyoman adalah proses pencarian jejak. Para prajurit Kopassus saat itu harus membuka jalan di tengah hutan. Sebab, tidak ada jalur pendakian yang sudah ada dan hanya ada jejak-jejak burung kasuari.

Dikatakan Nyoman juga, proses pengejaran akan dihentikan manakala hari sudah gelap. Sebab dengan kondisi cuaca yang dingin dan tak ada cahaya, mustahil untuk tetap meneruskan pencarian. Namun demikian, Nyoman tetap mendorong anak buahnya untuk tetap dalam kondisi siap hingga misi selesai.

"Saat pengejaran itu sangat sulit untuk melacak jejak mereka. Aplikasinya di sana sangat-sangat sulit, karena begitu banyak jejak yang ada, kemudian jalan jadi juga tidak ada. Yang ada, hanya jalan burung kasuari," ujar lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1990 itu.

"Pengejaran kami kalau sudah gelap, sudah enggak bisa dilalui. Kabut turun, suasana di hutan gelap. Dengan kemauan keras, kita terus dorong prajurit bahwa ini adalah pertaruhan bangsa, sehingga tidak ada kata lelah," katanya.