Aksi Menegangkan Kolonel Kopassus Selamatkan Nyawa Presiden RI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejarah Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) akan mencatat nama seorang Perwira Menengah (Pamen) TNI Angkatan Darat, yang berkali-kali mempertaruhkan nyawanya demi menjaga hidup Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2. Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto.

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Paspampres, sosok ini adalah salah satu dari 11 Pamen TNI yang pernah menjadi Komandan Grup A Paspampres. Ya, dia adalah Letjen TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin.

Perlu diketahui, Grup A Paspampres adalah satuan di jajaran Pasukan Pengamanan Presiden yang memiliki tugas melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat setiap saat terhadap Presiden beserta keluarganya.

Sjafrie adalah Komandan Grup A Paspampres kedua, setelah Kolonel Inf Subagyo Hadi Siswoyo. Seperti halnya Subagyo, Sjafrie juga adalah anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Sebagai anggota Kopassus, kemampuan tempur pria kelahiran Makassar 30 Oktober 1952 ini tentu berada di atas rata-rata prajurit TNI biasa. Tak hanya itu, pria yang pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jayakarta/Jaya ini juga kenyang dengan pengalaman perang dalam sejumlah operasi militer.

Lewat akun Facebook pribadinya, Sjafrie mengisahkan pengalamannya saat mengawal Presiden Soeharto dalam lawatannya ke Hannover, Jerman, 1 April 1995.

Disebut Sjafrie, kedatangan Soeharto ke Negeri Panser saat itu adalah untuk menghadiri pameran Hannover Fair. Indonesia adalah satu dari 60 negara yang ikut ambil bagian dalam pameran industri internasional, dan jadi salah satu yang paling mahsyur di dunia hingga saat ini.

Siapa sangka, meski sudah berada ribuan kilometer dari Jakarta, Soeharto tetap saja menjadi sasaran demonstran. Sejumlah aktivis di Jerman mengepung Soeharto. Soeharto tak sendirian, ia juga didampingi oleh Ibu Negara, Tien Soeharto dan anak keempatnya, Titiek Soeharto.

Para demonstran itu tak henti-hentinya meneriaki Soeharto dengan isu-isu yang tengah menyeruak di dalam negeri. Sjafrie cukup salut dengan keberanian Soeharto. Sebab meski mendapat caci maki dari para demonstran, wajah Soeharto tetap tegak dan terus berjalan menuju sebuah museum.

"Pak, ini ada yang mengganggu," ucap Sjafrie kepada Soeharto.

"Jalan saja terus," jawab Soeharto.

Walaupun Soeharto, istri dan putrinya sudah berada di dalam museum, para demonstran juga berusaha keras untuk masuk. Hal ini lah yang membuat Sjafrie langsung merancang strategi, untuk mengamankan Soeharto dari kepungan pendemo.

"Saya pun berkoordinasi dengan counterpart (rekan) saya untuk mengeluarkan presiden dari museum, dengan tidak menggunakan rencana semula," kata Sjafrie melanjutkan.

"Saya katakan kepada mereka, 'situasinya sudah begini. Saya minta Anda bisa memahami kami. Bagaimana, apakah Anda bisa bekerja sama? Saya ambil alih pimpinan rencana darurat'. Kita akan jalankan contingency plan (rencana cadangan) yang kami punya'," ujarnya.

Siasat Sjafrie itu sangat jitu. Anggota rombongan dipecah menjadi dua. Salah satu rombongan keluar dengan pintu masuk, untuk mengecoh para pendemo. Sementara itu, Sjafrie mengawal langsung Soeharto, istri dan putrinya keluar dari museum lewat pintu lainnya.

Benar saja, saat rombongan yang keluar dari pintu semula para pendemo langsung mengepungnya. Sementara di sisi lain, mobil yang ditumpangi Soeharto meluncur mulus hingga masuk ke hotel tempat menginap.