Aksi Penolakan BBM di Mataram Berlangsung Sporadis

Mataram (ANTARA) - Aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak yang dilakukan mahasiswa di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa, berlangsung sporadis di berbagai lokasi.

Wartawan ANTARA di Mataram, melaporkan, aksi pertama berlangsung di Jalan Pendidikan, Kota Mataram, sekitar pukul 09.30 Wita yang sempat diwarnai bentrokan fisik dengan aparat kepolisian.

Bentrokan itu terjadi ketika polisi berupaya mencegah ulah kelompok mahasiswa yang memblokade jalan dan menyandera mobil dinas dengan nomor polisi DR 90 AK milik Pemerintah Kota Mataram.

Pengemudinya disuruh turun dari ruang kemudi, kemudian mahasiswa menempel karton bertuliskan `mobil ini dilelang untuk rakyat` di kaca belakangnya.

Kelompok mahasiswa dengan jumlah massa lebih dari 50 orang itu juga membakar kursi dan benda lainnya di badan jalan beraspal, sehingga sejumlah anggota polisi berupaya meredam aksi tersebut dengan cara menangkap koordinator aksi.

Saat koordinator aksi hendak ditangkap, rekan mahasiswa lainnya melakukan perlawanan hingga terjadi insiden baku pukul antara mahasiswa dan polisi. Insiden itu berlangsung cepat dan kedua kubu dipisah oleh pewira polisi disertai imbauan harus bersabar.

Kelompok mahasiswa yang menggunakan atribut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mataram itu kemudian melakukan konvoi sepeda motor dan berunjuk rasa di SPBU Ampenan. Aksi di SPBU dijaga ketat polisi dan TNI AU, sehingga relatif terkendali.

Aksi selanjutnya berlangsung di samping kawasan terminal bahan bakar minyak (BBM) atau Depo Ampenan, namun polisi menghadang upaya mahasiswa memasuki kawasan itu.

Kapolres Mataram AKBP Kurnianto dengan tegas melarang mahasiswa memasuki kawasan Terminal BBM itu.

"Kalau adik-adik bersikeras masuk kami minta pulang saja, jangan berdemo. Kami hargai demokrasi tetapi jangan di dalam kawasan depo," ujar Kurnianto kepada seorang mahasiswa yang berkoordinasi dengan polisi.

Mahasiswa kemudian mengalah dan berorasi sesaat lalu kembali ke jalan utama untuk melanjutkan aksinya.


Kelompok mahasiswa lainnya berunjuk rasa di lokasi lain di Kota Mataram, namun akhirnya mereka terkonsentrasi di perempatan Jalan Udayana-Langko-Pejanggik-Air Langga.

Lebih dari 300 orang mahasiswa dari berbagai organisasi berkumpul dan berorasi serta menggelar aksi treatrikal yang menggambarkan protes terhadap kenaikan harga BBM yang direncanakan pemerintah 1 April 2012.

Selanjutnya mereka menuju DPRD NTB untuk berorasi dan menyampaikan pernyataan sikap bersama sebagai Aliansi Rakyat NTB.

Mereka diterima anggota DPRD NTB Mouri Hanafi dari Partai Gerindra, dan Machsoen Ridwani dari PKPB, di pintu masuk gedung DPRD NTB.

"Kami juga mendukung perjuangan adik-adik mahasiswa dan ini memang perlu diperkuangkan. Makanya politisi di DPR tengah mnenggunakan hak politilknya," ujar Mouri. (tp)




Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.