Aksi penyandang disabilitas di Festival Batang Hari Fashion Week

Model penyandang disabilitas melenggang di Festival Batang Hari dengan menampilkan busana modifikasi kain batik dalam Parade Tekuluk Gentala Sunset Fashion Week di atas Jembatan Gentala Arasy yang membelah sungai Batang Hari, Jambi.

Dalam peragaan busana itu ada enam penyandang disabilitas yang tampil terdiri dari anak disabilitas fisik, sensorik dengar dan intelektual yang melenggak-lenggok bagai peragawan dan peragawati, kata Pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Jambi Dewi, Jum'at.

"Yang tampil anak-anak disabilitas dan remaja berprestasi dan kami sebenarnya tidak melakukan banyak persiapan, mereka sudah berani tampil dikarenakan sering mengikuti penyambutan menteri dan acara penyambutan tamu lainnya," katanya.

Menariknya, anak-anak disabilitas itu menampilkan peragaan dalam balutan baju yang apik dengan kreasi sendiri dari kain batik bukan pakaian jadi.

Baca juga: Festival Batanghari kembalikan keasrian sungai terpanjang di Sumatera

Baca juga: Ribuan emak-emak ikuti Festival Tudung Lingkup di Jambi

Dewi juga berharap ajang itu menjadi sosialisasi, artinya masyarakat bisa mengenal kelompok-kelompok disabilitas dimana selama ini mereka terpinggirkan, tidak terekspos, orang-orang hanya melihat disabilitas dengan kekurangan.

"Maka pada penampilan kali ini menunjukkan kemampuan mereka bahwa juga bisa bersaing dengan yang lainnya," katanya.

Anak disabilitas yang tampil pada acara yang memeriahkan Festival Batang Hari tersebut diantaranya ada Novi, Nur Asiyah Harahap, Tripio, Novia Rahmayani. Sedangkan remaja berprestasi Mario dan Siti Aisyah.

Para anak disabilitas ini tampil di peragaan busana tersebut bersama dengan anak normal lainnya di acara yang digagas Pemerintah Provinsi Jambi meriahkan Festival Batang Hari yang juga merupakan rangkaian acara Kenduri Swarnabhumi 2022.*

Baca juga: Misi penyelamatan Sungai Batanghari dengan Kenduri Swarnabhumi

Baca juga: Gubernur: Kenduri swarnabhumi wadah pemulihan ekosistem budaya