Aksi Penyelamatan Kawasan Puncak Demi Meminimalisir Dampak Banjir

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Komitmen bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah diperlukan dalam menyelamatkan kawasan Puncak Bogor. Hal ini mengacu pada implementasi Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabek –Punjur).

Untuk itu Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Pemanfaataan Tata Ruang menginisiasi penanaman pohon dan pembangunan sumur resapan di Kawasan Puncak demi meminimalisir dampak banjir di kawasan hilir.

Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Dirjen PPTR), Dr. Ir. Budi Situmorang, MURP menjelaskan bahwa kawasan Puncak sebagai hulu Kawasan Strategis Nasional (KSN) Jabodetabekpunjur berfungsi sebagai kawasan resapan air dengan kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga tutupan vegetasi di kawasan Puncak agar fungsinya sebagai kawasan resapan air tetap terjaga.

“Kenyataanya, fungsi resapan air di kawasan puncak mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil analisis tutupan lima tahun terakhir dengan menggunakan peta citra tahun 2016 dan tahun 2021, ditemukan perubahan tutupan vegetasi lahan, antara lain luas hutan berkurang sekitar 3.876 Hektar. Perubahan hutan tercatat menjadi pertanian sekitar 2.373 Hektar, menjadi semak belukar sekitar 1.221 hektar, dan menjadi pemukiman sekitar 282 Hektar,” sebutnya saat berbicara dalam acara “Pesan Puncak untuk Penyelamatan Kawasan Puncak” dalam rangkaian peringatan HANTARU 2021 di Puncak, Bogor, Jawa Barat, Senin (8/11/2021).

“Untuk itu diperlukan aksi nyata penyelamatan kawasan Puncak dengan kolaborasi antar pihak untuk menghasilkan penanganan yang tepat. Adapun upaya pemulihan kawasan Puncak dilakukan melalui beberapa tahapan program, yakni penanaman pohon; pembuatan sumur resapan untuk mengurangi limpasan air hujan yang mengalir di permukaan tanah; pembangunan bendungan kering untuk mengendalikan banjir; penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang untuk memberikan efek jera terhadap pelaku pelanggaran pemanfaatan ruang; dan pengendalian hak atas tanah,” ungkapnya.

Penanaman 5 Ribu Pohon dan Pembangunan 100 Sumur Resapan

Upaya pemulihan kawasan Puncak dilakukan melalui beberapa tahapan program, di antaranya seperti penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan untuk mengurangi limpasan air hujan.
Upaya pemulihan kawasan Puncak dilakukan melalui beberapa tahapan program, di antaranya seperti penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan untuk mengurangi limpasan air hujan.

Desa Tugu Utara dan Kecamatan Cisarua dipilih menjadi percontohan pertama dalam program penanaman pohon. Sebab, kecamatan Cisarua merupakan kecamatan terbesar di kawasan hulu DAS Ciliwung; pada tahun 2003-2014 terjadi perubahan lahan hutan menjadi kebun; terdapat villa yang letaknya di kawasan HGU atau eks HGU; banyak villa yang berkembang pesat, namun terdapat lahan kosong/minim tegakan, serta umumnya tidak dimiliki oleh masyarakat asli; dan lebih dari 60 persen dari total luas desa belum memiliki HAT. Selain itu, pembangunan sumur resepan yang melibatkan komunitas masyarakat setempat.

Untuk diketahui bahwa dalam pohon-pohon yang ditanam berupa pohon buah-buahan produktif seperti pohon jambu sebanyak 1300 bibit; sirsak sebanyak 1525 bibit; nangka sejumlah 125 bibit; alpukat sebanyak 50 bibit; dan lemon sebanyak 100 bibit, yang bila ditotal keseluruhannya mencapai 3.100 bibit. Selain itu, kami juga menanam pohon pala sejumlah 200 bibit; pohon kopi 1.500 bibit, dan pohon bambu sebanyak 200 bibit.

Sebenarnya, sumur resapan bukanlah hal asing di kawasan Puncak. Tapi, fakta di lapangan, sumur resapan yang telah dibangun banyak yang tidak terawat dan ada pula yang tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini dipicu karena tidak ada yang melakukan pemeliharaan pasca pembangunan.

“Dengan latar belakang itulah, dibuatlah program fasilitasi pembangunan sumur resapan dengan berbasis komunitas masyarakat dengan pola, yakni penguatan peran masyarakat dengan melibatkan masyarakat setempat; meminta masyarakat dan komunitas peduli lingkungan untuk berkomitmen mengurangi limpasan air hujan yang mengalir di permukaan tanah melalui pembangunan sumur resapan,” ujar Budi.

Dalam pengadaan sumur resapan, sambung Budi, bekerja sama dengan badan usaha atau perusahaan melalui program CSR seperti PT Pertamina atau bekerja sama dengan sektor lain seperti Kementerian PUPR.

Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat AreaInsider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel