Aksi Protes Kematian George Floyd di Paris Berakhir Ricuh

Zulfikar Husein, Zulfikar Husein

VIVA – Demonstrasi menuntut keadilan atas kematian George Floyd di Paris, Prancis, berakhir ricuh. Aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata ke arah pendemo pada Selasa 2 Juni 2020.

Baca Juga: Putri Donald Trump Dukung Demo Bela George Floyd

Para pendemo melakukan aksinya di depan gedung Pengadilan Paris. Selain itu, para pengunjuk rasa juga memberikan penghormatan kepada Adama Traore, seorang pria kulit hitam yang meninggal dalam tahanan polisi Prancis pada Juli 2016.

Aksi ini awalnya berjalan damai. Namun, saat aksi akan berakhir, pendemo terlihat melempari polisi anti huru-hara dengan puing-puing dan membakar gedung-gedung di sekitar lokasi kejadian.

Ketegangan serupa juga terjadi di Marseille. Sejumlah warga kesal karena kasus Traore masih belum selesai meski sudah terjadi empat tahun lalu.

Hingga saat ini, investigasi atas kematian Traore masih berlangsung. Pendemo pun menyamakan kematian Traore dengan kasus Floyd sebagai simbol kebrutalan polisi.

Baca Juga: Mantan Polisi Ditembak Mati Saat Penjarahan Demo George Floyd?

"Ketika Anda menolak untuk menangani rasisme ... itu mengarah pada apa yang kita lihat di Amerika Serikat," kata perwakilan SOS Racisme, Dominique Sopo, seperti dikutip Sky News, Rabu 3 Juni 2020.

"Kasus George Floyd menggemakan apa yang kita takuti di Prancis," ujarnya.

Diketahui, George Floyd meninggal dunia setelah seorang polisi kulit putih, Derek Chauvin menginjaknya dengan lutut di Minneapolis selama 8 menit. Padahal, Floyd sudah mengerang tidak bisa bernapas ketika lehernya diinjak.

Floyd meninggal tak lama setelah itu, dan Chauvin menghadapi tuntutan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan tingkat dua.

Demonstrasi atas kematianGeorge Floyd dengan cepat menyebar ke seluruh AS hingga ke berbagai kota di dunia. Banyak aksi demonstrasi yang berubah menjadi kekerasan.