Aksi Sempurna Tim Intelijen Pasukan Tengkorak TNI Libas Pemberontak

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Menjalankan tugas adalah sebuah kehormatan bagi seluruh prajurit TNI. Tak peduli nyawa harus menjadi taruhannya, misi negara yang diberikan harus selesai dengan sempurna. Ada kisah heroik dari satuan elite TNI Angkatan Laut, Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang terjadi 15 tahun silam.

Dikutip VIVA Militer dari buku "Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus", sebuah peristiwa penyanderaan awak kapal terjadi di Perlak, Aceh Timur. Saat itu, sebuah kapal ikan dibajak oleh anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Setelah membajak kapal, para anggota pemberontak GAM pun menyandera nahkoda kapal dan kepala kamar mesin. Keduanya dijadikan alat untuk meminta uang tebusan.

Pada awalnya, para pemberontak ini meminta uang tebusan sebesar 250 hingga 500 juta Rupiah. Melaluli negosiasi yang cukup alot, anggota Kopaska yang menyamar menjadi operator kapal pun berhasil menurunkan harga tebusan menjadi 69 juta Rupiah.

Penyamaran anggota Kopaska sebagai operator kapal merupakan bagian dari operasi pembebasan sandera. Setelah mengetahui ada pembajakan dan penyanderaan kapal, tim intelijen Kopaska segera membentuk tim yang dinamakan Tim Kejar.

Saat bernegosiasi, anggota pemberontak GAM sama sekali tak mengetahui bahwa saluran komunikasinya sudah disadap. Penyadapan ini lah yang menjadi kunci keberhasilan Tim Kejar Kopaska menggagalkan upaya penyanderaan.

Proses transfer dana tebusan kemudian dijanjikan anggota Kopaska melalui sebuah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Awalnya kami mau antar sendiri uangnya, tapi mereka tidak mau, takut ditipu. Jadinya kami transfer 20 juta dulu lewat bank di Lhoksumawe," ucap Kopral Dua (Kopda) (P) Toto, anggota Tim Kejar Kopaska.

Setelah uang tebusan ditransfer, anggota Kopaska yang menyamar menjadi operator kapal pun memberi informasi lanjutan kepada pemberontak GAM. Ia memberi tahu bahwa uang tebusan sudah ditransfer ke bank di Lhoksumawe, sementara tim penyadap di Jakarta melacak nomor yang digunakan oleh pemberontak.

Benar saja, pemberontak GAM itu pun langsung bergerak menuju bank Lhoksumawe. Sementara itu, sejumlah anggota Kopaska sudah berada di bank dan berkoordinasi dengan pihak setempat, untuk melakukan penyamaran. Sejumlah anggota Kopaska menyamar menjadi nasabah dan teller bank tersebut.

Setelah beberapa saat, anggota GAM itu pun datang memasuki bank. Anggota Kopaska yang menyamar menjadi teller bank sempat mengulur waktu, hingga akhirnya anggota Kopaska lain yang menyamar menjadi nasabah langsung membekuk targetnya. Diketahui, anggota GAM itu bernama Syafrizal Sofyan.

Sofyan yang sudah tertangkap diminta untuk menghubungi Budiansyah alias Jepang, pimpinan pemberontak GAM yang menyandera nahkoda dan salah satu awak kapal. Setelah penangkapan Sofyan, nahkoda dan awak kapal pun dibebaskan setelah empat hari disekap.

Di sisi lain, Jepang yang merasa khawatir Sofyan tak juga kembali melaporkan ke pihak kepolisian di Perlak. Saat itu pula, ada beberapa anggota Kopaska yang menyaksikan Jepang langsung di depan matanya. Namun demikian, anggota Kopaska ini tak langsung membekuk Sofyan. Pasalnya, daerah itu sudah dikuasai penuh oleh anggota pemberontak GAM.

Anggota Kopaska pun membuntuti Jepang yang menuju rumah sang kakak. Saat ini pun anggota Kopaska tidak langsung membekuk Jepang dan kakanya, namun melanjutkan membuntuti Jepang ke bank di Lhoksumawe untuk mencairkan dana tebusan.

Setelah mencairkan uang tebusan, Jepang dan kakaknya pun bergegas untuk kembali ke Perlak. Di tengah perjalanan itu lah, Jepang berhasil ditangkap sejumlah anggota Kopaska yang telah lama membuntutinya.