Aksi unjuk rasa Chile kembali dimulai

Santiago, Chile (AP) - Ribuan warga Chile kembali turun ke jalan pada Senin (4/11) untuk menuntut layanan sosial yang lebih baik. Beberapa orang bentrok dengan polisi ketika para pemrotes menuntut diakhirinya kesenjangan ekonomi bahkan ketika pemerintah mengumumkan bahwa demonstrasi berminggu-minggu itu telah menghambat pertumbuhan ekonomi negara itu.

Protes terbaru terjadi setelah jeda singkat gelombang demonstrasi selama berminggu-minggu itu di mana 20 orang tewas dalam bentrokan di tengah penjarahan dan pembakaran yang memaksa pembatalan dua KTT internasional di salah satu negara terkaya di Amerika Latin tersebut.

Sebagian besar warga Chile mulai pekan lalu libur panjang akhir pekan dan protes Senin relatif kecil dibandingkan dengan demonstrasi sebelumnya. Namun ribuan orang yang muncul menunjukkan bahwa gerakan protes tampaknya tidak gagal.

Sebagian besar demonstran yang mendukung gerakan nasional tanpa pemimpin itu berpawai dengan damai, tetapi beberapa kelompok melemparkan batu dan bom api ke petugas polisi anti huru hara - yang menanggapi dengan tembakan gas air mata dan semprotan meriam air untuk mencoba membubarkan massa. Pemerintah mengatakan bahwa setidaknya enam petugas polisi terluka, termasuk dua yang diserang dan dilukai dengan bom molotov.

Demonstrasi dimulai bulan lalu setelah pemerintah mengumumkan kenaikan tarif kereta bawah tanah yang berubah menjadi gerakan nasional tanpa pemimpin dengan tuntutan yang lebih luas atas pendidikan, layanan kesehatan, dan ketimpangan ekonomi. Sistem kereta bawah tanah Santiago mengatakan bahwa sistem itu telah mengalami kerusakan senilai hampir $ 400 juta, sementara bisnis di Chile diperkirakan telah merugi lebih dari $ 1,4 miliar akibat kerusakan karena pembakaran, penjarahan dan hilangnya penjualan.

Sebelum pawai dimulai, Menteri Keuangan Ignacio Briones memperingatkan dampak ekonomi negatif dari protes di negara yang merupakan produsen tembaga terkemuka di planet ini yang telah memaksa para pejabat untuk menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 mereka menjadi antara 2% dan 2,2% dari semula 2,6%.

Pengumuman itu disambut dengan remeh oleh pengunjuk rasa yang mengatakan mereka belum merasakan kemakmuran ekonomi Chilie

Marcos Díaz, seorang guru berusia 51 tahun yang melakukan protes di ibukota Santiago, mengatakan perusahaan besar telah menjadi penerima manfaat terbesar.

"Selama bertahun-tahun demokrasi ini, kita hidup dengan upah minimum yang menempatkan 60 persen pekerja di bawah garis kemiskinan," katanya. "Pertumbuhan adalah kekeliruan yang diciptakan oleh model ini untuk menyembunyikan kesenjangan negara ini."

Akuntan Veronica Gonzalez mengatakan meskipun dia yakin orang kehilangan uang akibat aksi protes, mereka akan mendapatkannya kembali nanti dan bahwa "pertarungan ini harus tetap berjalan."

Para pengunjuk rasa mengecam apa yang mereka beri label sebagai model ekonomi "neoliberal" yang di permukaan membuat Chile tampak seperti kisah sukses ekonomi Amerika Latin - menutupi sistem pensiun yang banyak dikritik dan sistem kesehatan dan sistem pendidikan hibrida publik dan swasta yang memberikan manfaat lebih baik bagi orang kaya atau siapa yang mampu membayar lebih.

Banyak pengunjuk rasa menuntut konstitusi baru untuk menggantikan piagam 1980 yang ditulis di bawah kepemimpinan diktator militer Jenderal Augusto Pinochet pada 1973-1990. Konstitusi itu memungkinkan banyak layanan sosial dan sumber daya alam, termasuk air, diprivatisasi sepenuhnya atau sebagian.

Dari kejauhan, Chile telah dipandang sebagai kisah sukses regional di bawah presiden yang terpilih secara demokratis baik dari kelompok kiri dan kanan. Konsensus pasar bebas telah mendorong pertumbuhan, penurunan kemiskinan dan menempatkan Chile pada skor tertinggi Amerika Latin untuk Indeks Pembangunan Manusia PBB, perpaduan antara harapan hidup, pendidikan dan pendapatan nasional per kapita.

Dan pada 2010, Chile menjadi anggota Latin kedua dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), setelah Meksiko.

Tetapi sebuah laporan PBB tahun 2017 menemukan bahwa 1% dari populasi terkaya Chile mendapatkan 33 persen dari kekayaan negara. Itu membantu menjadikan Chile sebagai negara yang paling tidak setara di OECD, sedikit lebih buruk daripada Meksiko.

Presiden Sebastián Piñera adalah seorang miliarder dan salah satu orang terkaya di negara itu. Piñera telah mengganti kepala beberapa kementerian dengan pejabat yang umumnya lebih muda dan dipandang lebih sentris dan mudah diakses serta memperkenalkan serangkaian reformasi ekonomi, termasuk kenaikan upah minimum dan pensiun negara. Namun dia telah berjuang untuk mengatasi protes dan menghadapi seruan pengunduran diri.

"Tantangan bagi gerakan ini adalah menjaga tekanan pada Piñera. Karena pemerintah dan oposisi sekarang sedang merundingkan reformasi dan Kongres membahas beberapa reformasi itu, ada peluang besar gerakan itu terbagi menjadi sayap yang lebih radikal dan moderat," "kata Patricio Navia, seorang ilmuwan politik di New York University.

"Sayap radikal ingin Piñera mengundurkan diri dan kelompok-kelompok yang lebih moderat ingin mendapatkan hasil dan memastikan beberapa reformasi disahkan, yang akan memiliki dampak positif pada kehidupan orang-orang, terutama peningkatan pensiun dan upah minimum," katanya.