Aktivis akar rumput menghadapi hambatan dan dampak pribadi dalam melakukan gerakan digital

·Bacaan 6 menit
<span class="caption">Peserta pawai wanita di Edmonton, Alta pada 21 Januari 2017.</span> <span class="attribution"><span class="source">Mylynn Felt</span>, <span class="license">Author provided</span></span>
Peserta pawai wanita di Edmonton, Alta pada 21 Januari 2017. Mylynn Felt, Author provided

Penggunaan media sosial yang meluas telah memudahkan mobilisasi aksi bersama, namun aktivis warga kesulitan menggunakan peralatan digital ini dan semakin sering melaporkan merasa kelelahan mental (burned out).

Penelitian kami tentang aktivisme digital akar rumput di Kanada telah mengungkapkan beberapa strategi yang diterapkan oleh penyelenggara aksi ketika berhadapan dengan hambatan teknologi, interaksional, dan pribadi dalam aktivisme digital.

Penggunaan media sosial untuk tujuan aktivisme oleh masyarakat sejatinya berbenturan dengan tujuan komersial platform itu sendiri. Sebagai contoh, karena platform ini memprioritaskan konten populer dan terkini, pesan aktivisme harus terus diperbarui dan disukai atau dibagikan agar tetap terlihat oleh khalayak yang lebih luas.

Ini menjadi tantangan bagi para aktivis untuk beradaptasi; mereka dituntut untuk memanfaatkan alat ini sebaik mungkin dalam batasan yang ditetapkan oleh algoritme platform.

Lire la suite: Aktivisme berbasis karya seni digital sangat ampuh di tengah pandemi: pelajaran dari negara lain

Tersebar luas atau hilang dalam kerumunan?

Media sosial dapat meningkatkan komunikasi aktivis, namun dengan mengorbankan kendali atas pesan-pesan tersebut. Ini penting dipertimbangkan dalam tindakan kolektif, karena demi mendapatkan pengakuan politik, komunikasi jelas atas serangkaian tuntutan dan keluhan sangatlah dibutuhkan.

Selama aksi mogok guru di British Columbia, Kanada, pada 2014, tiga orang tua memiliki ide mengadakan aksi taman bermain di depan kantor anggota Majelis Legislatif (MLA) British Columbia. Para orang tua ingin menekan pemerintah setempat untuk bernegosiasi dengan guru dan mengakhiri aksi mogok. Saat mereka mengedarkan gagasan #MLAPlaydates di media sosial, mereka merenungkan kemungkinan pesan tidak sampai sesuai niat mereka:

Ini bukan perintah dan kendali tradisional. Ajakan ini seperti mengatakan: ini ada sebuah ide, coba gunakan dan lihat apa yang dapat kita lakukan dengan ide ini. Kita berbagi, kita menyampaikan ke orang-orang lain. Jadi, ini adalah kerangka aktivisme yang berbeda. Ini seperti pengujian beta, kita tidak tahu ke mana hal ini akan beranjak.

Solusi mereka adalah bentuk “aktivisme terbuka”, yang mengharuskan pemantauan lewat media sosial untuk memperkuat pesan dan mencegah gerakan tersebut diambil alih, seraya mengundang pendukung untuk menyesuaikan dan mempersonalisasi gerakan tersebut.

Efek ruang gema

Gelembung filter pada orang-orang dengan pandangan serupa mempersulit aktivis digital untuk menyampaikan pesan mereka di luar jaringan kelompok. Namun, beberapa platform bersifat lebih publik dibanding yang lain, menggunakan algoritme yang berbeda untuk menampilkan konten pada penggunanya.

Penyelenggara aksi #SafeStampede Alberta ingin menarik perhatian pada isu kasus pemerkosaan tahunan di sekitar Calgary Stampede. Mereka menemukan bahwa:

Facebook bukanlah tempat terbaik untuk membahas wacana aktual [seputar masalah ini], tetapi bagaimana pun, platform ini membuat kita lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman, jadi umpan balik dapat terjadi.

Untuk mengatasi masalah ini ini, penyelenggara aksi membuat profil publik di platform yang lebih terbuka seperti Twitter dan Tumblr demi menerobos efek ruang gema.

Adu popularitas

Di media sosial, kekuatan visibilitas konten sering bergantung pada seberapa baru konten itu dan bagaimana reaksi orang terhadapnya.

Aktivis perlu terus memantau bagaimana algoritme mendorong konten agar cepat terlihat oleh pengguna yang lain. Sistem ini menuntut mereka untuk berpikir dan bertindak seperti pemasar digital, menyusun strategi produksi dan sirkulasi pesan.

Aktivis digital dalam penelitian kami berbicara tentang perlunya beradaptasi dengan praktik pengelolaan platform, serta tahap pembelajaran yang perlu dilalui untuk memahami praktik ini.

Kita harus berhati-hati dengan algoritme; jika kita terlalu banyak mengunggah konten, kita tidak akan mendapatkan audiens yang luas. Di Instagram, jika dalam seminggu kita dapat mengunggah tiga atau empat gambar yang sangat bagus dengan deskripsi dan tagar yang bagus, kita akan mendapatkan lebih banyak tanggapan daripada jika kita mengunggah konten terlalu banyak, misalnya, lima kali dalam sehari selama beberapa hari turut menurut. Dengan sistem ini, kita akan lebih berhati-hati dengan apa yang kita unggah, dan mempertimbangkan kurun waktu pengunggahan tersebut.

Sekutu dan pengganggu

Di samping algoritme, interaksi di media sosial membawa tantangan tersendiri bagi aktivisme digital.

Bagi para penyelenggara aksi #SafeStampede, platform media sosial membantu mereka menemukan satu sama lain melalui jaringan yang ada. Koneksi online tumbuh menjadi pertemuan dan hubungan tatap muka, memfasilitasi upaya kritis di belakang panggung untuk kampanye publik di media sosial:

Saya pikir segala sesuatu kini tidak akan terjadi hanya di media sosial saja. Perlu ada masa saat hal-hal ini dapat bergerak melampaui media sosial dan kita, pada akhirnya, dapat melakukan percakapan nyata dengan orang-orang, lalu kemudian membangun hubungan.

Media sosial juga membuat kampanye yang aktivis lakukan rentan terhadap pelecehan dan trolling. Inilah yang dialami sebuah aksi tentang gender, Pawai Perempuan, di Alberta. Para penyelenggara aksi menggambarkan bagaimana orang di media sosial dengan sengaja mencari istilah-istilah “transgender” dan “vagina” di mesin pencari web dalam rangka serangan beberapa hari sebelum hari H aksi. Untuk mengatasi hal tersebut, penyelenggara menggunakan strategi “blokir, hapus, laporkan, ulangi,” dengan menunjukkan bahwa:

Cara ini harus dilakukan, dan kita perlu berusaha sangat keras untuk tidak membiarkan semua waktu dan energi emosional kita untuk aksi ini tersedot oleh serangan-serangan itu.

Persahabatan yang dibangun secara online dan offline membantu mengurangi dampak dari konfrontasi ini. Namun, serangan dan trolling online dapat dengan mudah menghabiskan sumber daya langka yang dimiliki oleh aktivis.

Kelelahan mental lalu menyerah

Responden penelitian kami berbagi tentang cara meminimalkan dampak (pribadi dan profesional) dari aktivisme digital mereka, namun, mereka juga berbicara tentang kelelahan dalam keterlibatan jangka panjang yang tidak bisa dilakukan terus-menerus.

Harga emosional atas trolling yang dilontarkan, serangan balik, dan agresi tinggi di media sosial sulit dihindari oleh penyelenggara aksi karena media sosial mengikat nama publik mereka dengan aktivisme mereka:

Kita seakan-akan menarik perhatian komentator-komentator negatif untuk menghampiri kita … menarik perhatian orang yang merasa berhak menyerang kita … Saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal ini, berbagi terlalu banyak informasi ke luar sana membuat saya terancam dikuntit, atau disakiti orang-orang yang mungkin dapat mengancam saya atau anak saya.

Menjauhkan diri, baik dari gerakan atau dari potensi risiko aktivitas kita, tampaknya menjadi satu-satunya strategi bagi penyelenggara aksi dalam situasi ini.

Selain itu, karena algoritme media sosial menampilkan penampakan si pembawa pesan bersebelahan dengan pesan, penyelenggara aksi juga mengkhawatirkan visibilitas aktivisme mereka yang, kelak, mungkin dapat berisiko pada karir.

Strategi pengorganisasian digital

Aktivis warga yang kami wawancarai dalam penelitian menggunakan berbagai strategi untuk mengatasi hambatan terhadap aktivisme digital. Berikut adalah beberapa hal yang mereka pelajari dan ingin bagikan untuk aktivis lainnya:

  • Tetap up-to-date tentang bagaimana algoritme platform dirancang dan diperbarui.

  • Gunakan beberapa platform untuk menjangkau audiens yang berbeda dan mengurangi efek ruang gema.

  • Biarkan beberapa perubahan terjadi dalam pesan Anda, tetapi pantau percakapan untuk mempertahankan intinya.

  • Teruslah terhubung dengan sesama penyelenggara aksi dan pendukung secara offline.

  • Bergabunglah dengan komunitas lokal, regional, atau nasional sehingga kita memiliki rekan aktivis untuk bersandar dan memberikan tongkat estafet ketika kita harus meninggalkan aktivisme.

  • Antisipasi dampak dan risiko aktivisme, dan renungkan di mana kita perlu menentukan batasan bagi diri sendiri.

  • Pastikan faktor fleksibilitas dan adaptasi ada dalam rencana taktik tindakan.

Aktivisme digital dapat menjadi bagian penting dari setiap kampanye yang sukses, namun para aktivis perlu tetap sadar tentang dampak dan keterbatasan media sosial.

Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel