Aktivis KAMI Ditangkap Diborgol Polisi, Gatot Nurmantyo Tak Ciut Nyali

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gatot Nurmantyo, sudah mengingatkan kepada para aktivis KAMI untuk siap dengan risiko yang akan dihadapi dalam perjuangan. Ia meyakinkan para anggota KAMI selama menyampaikan hati nurani rakyat dan kebenaran tidak perlu khawatir apalagi malu dengan anggapan orang.

Pernyataan Gatot itu merespons penangkapan delapan anggota KAMI dan perlakuan polisi saat menampilkan mereka dalam jumpa pers dengan tangan diborgol. Gatot menegaskan tidak akan ciut nyali meskipun dengan perlakuan berlebihan polisi kepada para aktivis KAMI.

"Saya ini mantan Panglima TNI, kalau dilihatin tiga orang saudara kami yang diborgol, terus saya takut, saya minta maaf lah, apa lah, bagaimana saya menjaga adik-adik saya yang sekarang menjabat Panglima TNI, Kasad, Kasal, Kasau, akan diomongin orang," kata Gatot Nurmantyo di ILC tvOne, Selasa malam, 20 Oktober 2020.

Baca: Polisi Cecar Mayjen Purn Soenarko soal Kaitannya dengan KAMI

"Itu masih menjabat aja gagah itu kayak macan, begitu pensiun kayak kucing tuh Gatot. Kalau Kasad, Kasal, Kasau, Panglimanya kayak kucing, nah anggotanya kucing kurap," ucapnya lagi.

Gatot menegaskan sebagai mantan Panglima TNI, Ia tidak akan takut dengan perlakuan polisi terhadap sejumlah aktivis KAMI. Baginya, prajurit TNI di mata dunia internasional dicap sebagai tentara super nekat, bukan lagi sekadar pemberani.

"Saya bukan sombong, sebagai mantan Panglima TNI saya harus menjaga marwah prajurit-prajurit TNI. Itu belum lagi dari Kopasssus, Denjaka, Kopaskhas, Taifib, Taipur, Kostrad, lebih lagi, enggak usah diceritakan,” tuturnya.

Sementara itu, Ekonom Senior Rizal Ramli juga mengkritik cara-cara aparat Kepolisian menangkap aktivis KAMI yang dinilainya terlalu berlebihan. Ia menyindir perlakuan polisi kepada aktivis KAMI seperti menangkap para teroris.

"Jumhur itu ditangkap oleh 30 polisi, dobrak pintunya, istrinya masih pakai night gaun, enggak ada waktu buat ganti baju. Jumhur sendiri luka bekas operasi empedu, mau ambil obat saja enggak dikasih," kata Rizal di ILC.

Rizal mengaku pernah merasakan ditahan di rezim pemerintahan Presiden Soeharto sebagai aktivis mahasiswa saat itu. Sekalipun ditahan di penjara militer, tapi perwira TNI saat itu masih bersikap sopan dan memperlakukan mahasiswa dan aktivis dengan baik.

"Ini kalau temannya sendiri, jenderal polisi korup enggak diborgol, mahasiswa aktivis diborgol. Taipan-taipan Djoko Tjandra bebas tangannya lepas gitu aja, apaan ini?" ketusnya.

Diketahui, sejumlah anggota hingga pentolan KAMI diamankan Polri terkait kerusuhan unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja di Jakarta dan Medan, Sumatera Utara. Di antaranya Khairi Amri, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat (JH), Anton Permana (AP), Juliana (JG), Novita Zahara (NZ), Wahyu Rasasi Putri (WRP), Kingkin Anida (KA) dan Deddy Wahyudi.

Atas perbuatannya, Jumhur Hidayat dan Anton Permana dijerat Pasal 28 Ayat (2), Pasal 45a Ayat (2) UU ITE dan Pasal 14 Ayat (1) serta Ayat (2) dan Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 dan Pasal 207 KUHP dengan ancamannya 10 tahun.

Sementara itu, Syahganda Nainggolan dijerat Pasal 14 Ayat (1) dan Ayat (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan/atau Pasal 45a Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang UU ITE. (ase)