Aku yang Sekarang Sudah Cukup, Tak Perlu Jadi Orang Lain untuk Bisa Diterima

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

***

Oleh: Triani Apriliansyah

Ayah, aku pulang.

Tadi, teman-temanku di kelas bercerita tentang bagaimana liburan mereka. Rasanya aku jadi rindu. Yah, kapan ya, kita pulang kampung lagi ke Sumatra? Aku cinta Cianjur, tapi aku rindu suasana di sana juga. Apakah pekarangan depan rumah nenek masih rimbun seperti dulu? Apakah ikan-ikannya masih banyak berenang di kolam milik kita? Apakah toilet sekarang sudah dibangun di sana?

Apakah rambut nenek masih saja panjang ketika rambutku bahkan sudah berkali-kali dipangkas?

Banyak yang ingin kutanyakan sekarang. Aku menyesal tidak menanyakannya dulu, saat kita bertemu hampir setiap hari di rumah. Aku tak seberani itu untuk menanyakan hal-hal yang memang ingin kuketahui, dan aku tak sering mengobrol panjang denganmu. Aku harap suatu saat kita bisa kembali lagi ke sana.

Yah, entah sejak kapan, aku jadi canggung begini. Meski begitu, aku masih anak yang sama dengan anak yang kau beri namanya 20 tahun lalu. Aku masih mengingat dengan jelas wajah lelahmu ketika kau harus mengantarkanku ke taman kanak-kanak dengan sepeda motor yang bannya bocor, dengan jarak rumah-sekolah yang cukup terbentang jauh. Namun, aku yang sekarang, bersyukur hari itu memilih duduk diam menunggu tambalan ban bersamamu dibanding berangkat ke sekolah tepat waktu. Entah kenapa, aku menikmati melodi dari sunyi dan ketenangan saat aku bersamamu. Aku rindu saat-saat ketika aku tak banyak berpikir; bisa bebas berkata dan melakukan hal yang kumau.

Tertawa tanpa jeda; menangis tiba-tiba; rasanya aku yang sekarang lebih mirip botol kaca.

Botol kaca yang terlihat buram dari luar. Hampa, begitu kosong.

Aku Masih Gadis Kecil Ayah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/aslysun
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/aslysun

Yah, betapa saat itu kakek meninggal tepat saat kita sudah pulang dari Sumatra. Aku tak tahu dan tak mengerti bebanmu, sesedih apa dirimu kala itu? Menjadi dewasa bukan berarti nihil kesedihan ataupun kesepian, kan? Dirimu hanya terlalu pandai menyembunyikannya. Selalu mencoba terlihat sama di depanku. Tegar dengan wajah tanpa ekspresi yang kau perlihatkan setiap waktu.

Aku belajar arti kesepian dari kedua orangtuaku, kau dan ibuku. Betapa main kartu portabel di komputer usang kantormu sendirian membuatku berpikir bahwa hidup sendiri adalah memang sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku rasa kita tak membutuhkan orang lain, dan begitu pun dibutuhkan orang lain. Namun, pada akhirnya, sepandai-pandainya aku dalam teori bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial, aku tumbuh menjadi seorang yang mereka sebut asosial.

Maaf juga ya, ayah, aku tidak tumbuh menjadi gadis yang terbuka seperti kakakku. Tidak ceria dan ramah pada semua orang. Tidak memiliki banyak teman di luar teman sekelasku. Maaf, aku tak bisa menjadi anak yang bisa kau banggakan.

Maaf, ayah, aku malah tumbuh menjadi seorang gadis yang kikuk. Gadis yang harus meminta izin pada ibunya terlebih dahulu untuk dimintakan izin pada ayahnya karena bingung bagaimana harus berkata-kata. Seseorang yang tidak seharusnya melakukan itu, sebab orang yang ingin dia ajak bicara eksis juga di tempat yang sama.

Maaf.

Aku tak bisa berhenti meminta maaf, karena aku pun kecewa pada diriku sendiri. Aku kecewa karena diriku tak bisa menjadi apa yang orang ekspektasikan tentangku, tetapi bukankah kita hidup bukan untuk orang lain?

Meskipun begitu, aku yang sekarang sudah punya banyak teman, lo, Yah. Bertemu dengan mereka yang meyakinkanku bahwa tidak perlu jadi orang lain agar diterima, memberiku harapan bahwa aku yang sekarang sudah cukup. Tentu, hal itu bukan berarti aku akan lebih memilih berkumpul bersama kerumunan yang tak kukenal dibanding memperhatikan ikan di sisi lain akuarium sendirian atau bersama seorang teman; karena aku masihlah gadis kecil ayah.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel