Akuisisi Saham SUPR Rp 16,7 Triliun, Transaksi Terbesar Sarana Menara Nusantara dalam 6 Tahun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMN) (TOWR) telah menuntaskan proses akuisisi kepemilikan atas saham pengendali PT Solusi Tunas Pratama Tbk (STP) (SUPR) melalui pengalihan 94,03 persen STP kepada PT Protelindo senilai Rp 16,7 triliun.

Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Direktur dan CEO dari Sarana Menara NusantaraAming Santoso melalui keterbukaan informasinya melalui siaran pers yang diterima Liputan6.com, Jumat (1/10/2021).

Redpeak Advisers bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif untuk Protelindo dalam transaksi ini, dan Duane Morris dan Makes & Partners bertindak sebagai penasihat hukum.

Dalam enam tahun terakhir, kata dia, transaksi ini adalah transaksi akuisisi SMN yang ke-6 dan merupakan transaksi dengan nilai terbesar. Dengan akuisisi ini, Protelindo akan memiliki sekitar 28.300 tower dengan sekitar 53.000 tenant dan lebih dari 67.800 km jaringan kabel fiber optic.

Perseroan menambahkan, akan ada penambahan pendapatan dari akuisisi STP dengan nilai lebih dari Rp 2,1 triliun dan EBITDA hampir Rp1,9 triliun, sehingga bisa memperkuat posisi Protelindo sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi independen terbesar di Indonesia.

Saat ini STP merupakan perusahaan tower independen terbesar ke-3 di Indonesia dengan 6.780 tower,12.500 penyewaan dan lebih dari 9.000 km jaringan kabel fiber optic.

"Skala bisnis yang lebih besar akan semakin memperkuat posisi keuangan Protelindo, sekaligus memperluas layanan yang dapat disediakan kepada para pelanggan. Selain itu, efisiensi operasional serta sinergi akan semakin meningkat”, kata Aming.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pendanaan Akuisisi dari Pinjaman Baru

Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)
Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)

Aming mengatakan, untuk pendanaan akusisi ini perseroan mengambil pinjaman baru sebesar Rp 14 triliun ditambah denganmenggunakan fasilitas pinjaman yang telah ada sekitar Rp 2,7 triliun. Sehingga utang Protelindo meningkat.

Meskipun utang Protelindo setelah akuisisi meningkat, Fitch Ratings tetap mengafirmasi peringkat utangProtelindo di BBB dengan outlook stable dan peringkat domestik AAA.

Demikian pula dengan S&P yang tetap memandang Protelindo sebagai perusahaan berstatus investment gradedengan peringkat BBB-, outlook stable.

"Rekam jejak kami dalam mengelola keuangan dengan prudent memungkinkan kami mendapatkan pinjaman bank untuk pendanaan akuisisiini, dan kami tetap mempertahankan peringkat investment grade perusahaan kami,” kata Aming.

Pada perdagangan 1 Oktober 2021, saham TOWR ditutup melemah Rp 20 ke Rp 1.305 per saham dibandingkan sehari sebelumnya di Rp 1.325.

Reporter: Elizabeth Brahmana

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel