Alasan BNI Buyback Saham

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyatakan, aksi pembelian kembali atau buyback saham dilakukan lantaran valuasi saham BBNI yang belum mencerminkan perbaikan fundamental dari program transformasi.

Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini menuturkan, pihaknya percaya saat ini waktu yang tepat untuk buyback saham. Hal ini karena valuasi belum mencerminkan hasil dari program transformasi.

Berdasarkan materi paparan publik yang disampaikan untuk transformasi digital yang progresif antara lain aplikasi mobile banking yang paling berkembang. Kemudian pengguna BNI Mobile Apps yang mencapai 9,3 juta atau tumbuh 58,8 persen yoy.

Memimpin ekosistem open banking dengan 283 jumlah API, tertinggi di antara peers. Selain itu, 70 persen saldo CADA dikontribusi oleh pengguna BNI Direct dan BNI Mobile Banking.

Kemudian pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang berkelanjutan dengan melanjutkan penurunan cost of fund dan kontrol belanja operasional yang disiplin. Selanjutnya kualitas aset yang semakin sehat dengan loan at risk (LaR) yang terus membaik dan pembentukan cadangan yang terus ditingkatkan.

"Program pembelian kembali saham ini tidak kontradiktif dengan aspirasi kami meningkatkan permodalan atau CAR," ujar Novita saat paparan publik live 2021, yang ditulis Selasa (7/9/2021).

Ia menuturkan, alokasi buyback saham ini untuk program insentif jangka panjang atau MESOP pada 2022. "Insentif jangka panjang. Bagian dari strategi selaraskan remunerasi dan aspirasi untuk hasilkan nilai return yang optimal bagi pemegang saham minoritas," ujar dia.

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan buyback saham dengan siapkan dana sebanyak-banyaknya Rp 1,7 triliun.

Buyback saham tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar 7,5 persen dari modal disetor perseroan.

Hal tersebut sesuai dengan SEOJK Nomor 3/SEOJK/04/2020.BNI menyebutkan, buyback saham akan dilakukan bertahap untuk periode tiga bulan terhitung sejak 22 Juli 2021-21 Oktober 2021. Demikian mengutip dari keterbukaan informasi BEI, Rabu, 21 Juli 2021.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pakai Kas Internal

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 111 saham menguat, 372 tertekan, dan 124 lainnya flat. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pelaksanaan transaksi pembelian saham akan dilaksanakan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).BNI akan memakai kas internal untuk buyback saham. Pembelian kembali saham akan dilakukan dengan harga yang dianggap baik dan wajar oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

"Berkenaan dengan transaksi itu, dampak terhadap biaya operasional perseroan tidak material sehingga laba rugi diperkirakan masih sejalan dengan target perseroan,” tulis perseroan.

Dengan melihat kondisi tersebut, BNI yakin pelaksanaan buyback saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha perseroan.Hal ini mengingat perseroan memiliki modal dan cash flow yang cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha perseroan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel