Alasan Dicky Chandra Campuri Kasus Bupati Garut

TEMPO.CO , Jakarta: Dicky Chandra mengungkapkan alasannya kenapa ia terkesan mencampuri kasus Bupati Garut Aceng HM Fikri Segara. Aceng -begitu sang bupati disapa- baru-baru ini tersandung kontroversi soal pernikahan singkatnya dengan Fany Octora, perempuan berusia 18 tahun.

Dicky merasa komentar-komentar pedasnya untuk Aceng terkait hal ini bukan untuk mencari keuntungan. "Saya cuma enggak mau mengindar dari teman kerja," ujar Dicky dihubungi wartawan, Senin malam, 3 Desember 2012.

Alasan kedua, menurut Dicky, lantaran Aceng tak lain adalah bekas atasannya langsung ketika ia masih menjabat Wakil Bupati Garut. Oleh sebab itu, pernyataan Dicky ke media juga sebagai sarana untuk meminta maaf kepada masyarakat Garut. "Karena saya pernah ikut berjuang (bersama Aceng)," katanya.

Awalnya, Dicky dilematis antara tidak mau mencampuri dan ikut campur. Tapi  mau tidak mau akhirnya ia terpaksa ikut campur juga setelah Fany melaporkan kasus ini kepada isterinya, Rani Permata. Seperti diketahui, Rani adalah Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut.

"Jadi kami sempat dilema. Ikut (campur) salah, enggak juga salah," ujarnya.

Nama Aceng belakangan ini disebut-sebut karena pernikahannya yang hanya berusia empat hari terkuak ke publik. Aceng menceraikan Fany dengan berbagai alasan.

YAZIR FAROUK

Berita Terkait:

Bupati Aceng: Mas Kawin untuk Fani di Atas Rata-rata 

Kasus Bupati Garut Aceng, T2: Malu Banget 

Bupati Garut Tak Bisa Sembarangan Diberhentikan

3 Alasan Bupati Garut Ceraikan Fany Octora

Dilaporkan ke Polisi, Bupati Garut: Salah Saya Apa?  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.