Alasan Filantropi Tumbuh Berkembang di Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Bambang Suherman mengatakan dinamika filantropi sangat kompleks dalam pertumbuhannya di Indonesia. Ia menyebut ada empat alasan filantropi tumbuh di Indonesia.

Pertama, tingkat kemiskinan di Indonesia yang menyebabkan filantropi tumbuh berkembang.

"Sampai hari ini kemiskinan tetap menjadi isu. Bahkan kalau di anekdot, kita membahas UUD 1945 pasal 34 tentang fakir miskin, ada kata-kata dipelihara yang selalu menjadi bahan bercandaan kita karena kalau dipelihara itu harus diperhatikan, bukan dihilangkan gitu. Tapi konteks ini sudah menjadi given bagi dinamika," kata Bambang, dalam Seminar bertema "Masihkah Filantropi Islam Bisa Dipercaya?" di Jakarta Selatan, Kamis (14/7).

Alasan kedua, karena ada tema tentang kebencanaan. Di Indonesia, ring of fire yang saat ini dihuni membuka peluang. Korbannya adalah orang yang punya akses terhadap kehilangan penghasilan. Jadi bencana akan menciptakan kasus kemiskinan baru.

"Karena itulah filantropi mengolah kebencanaan. Bahkan Baznas saja membuat sayap intervensi program yang bernama BTB, Baznas Tanggap Bencana," jelasnya.

Kemudian, alasan filantropi tumbuh yakni karena Indonesia rentan dan rawan konflik sosial. Ia menyebutkan saat ini cukup banyak konflik yang terjadi, dari barat ke timur, suku, dan lain-lainnya.

"Semakin ke sini, konflik yang ada itu jadi konflik sistematis yang direkayasa yang melibatkan banyak pihak. Kalau melibatkan banyak pihak biasanya efek negatifnya lebih kena ke banyak masyarakat. Dan konflik selalu menciptakan kemiskinan baru," papar Bambang.

Terakhir, yakni pandemi Covid-19. Yang mana membuat lembaga filantropi bergerak cepat dalam perkembangannya. Sebab, pandemi yang terjadi hampir dua tahun terakhir ini menimbulkan dampak yang besar terhadap masyarakat.

"Pandemi juga menjadi bagian dari dinamika yang menciptakan kemiskinan. Kita sama-sama tahu bahwa dua tahun belakangan itu adalah kehidupan yang sulit bagi seluruh masyarakat dunia, terutama di Indonesia," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Akreditasi dan Audit Lembaga Zakat Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Muhibuddin menyampaikan bahwa saat ini tercatat lembaga amil sebanyak 262, lembaga amil zakat (LAZ) sebanyak 128.

"Lembaga amil ada 262, LAZ 128, ditambah Baznas di provinsi dan kabupaten/kota," ucapnya. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel