Alasan Firman Utina Fokus Membina Pemain Usia Muda Meski Sudah Berlisensi A-AFC

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Makassar - Nama Firman Utina pantas masuk dalam daftar pemain papan atas yang pernah beredar di Liga Indonesia. Pencapaian Firman Utina di kompetisi kasta tertinggi sepakbola di tanah air adalah membawa Sriwijaya FC meraih trofi juara musim 2011/2012.

Dua musim kemudian, gelandang kelahiran Manado, 15 Desember 1981 ini jadi bagian penting sukses Persib Bandung memupus ambisi Persipura Jayapura pada laga final yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang.

Firman Utina kemudian melengkapi pencapaiannya itu di Liga 1 2017. Di mana pada musim itu, Bhayangkara FC meraih gelar perdananya setelah bersaing ketat dengan Bali United dan PSM Makassar.

Selain gelar liga Indonesia, Firman Utina juga mengecap trofi Copa Indonesia 2005 bersama Arema Malang. Di level Timnas Indonesia, Firman membawa Indonesia juara di Piala Kemerdekaan 2008 dan runner-up Piala AFF 2010.

Ia pun jadi sosok penting timnas saat mengalahkan Bahrain 2-1 pada laga perdana Piala Asia 2017 di Stadion Gelora Bung Karno. Meski Indonesia akhirnya gagal lolos dari penyisihan grup, momen kemenangan itu tetap dikenang.

Secara personal, Firman jadi pemain terbaik pada ajang Copa Indonesia 2005 serta meraih penghargaan ASEAN Football Championship Most Valuable Player pada 2010.

Pengalaman dan berbagai trofi juara sebagai pemain sejatinya bisa jadi modal Firman menjadi pelatih sebuah klub Liga 1 atau Liga 2. Apalagi, ia kini sudah mengantongi lisensi A-AFC.

Namun, Firman memilih fokus dulu membina pemain usia muda dengan mendirikan akademi sepak bola dengan namanya sendiri pada 2016 silam.

"Sepak bola itu terus berkembang setiap waktu. Jadi sebagai pelatih, saya harus belajar dari bawah. Bagi saya, seorang pemain hebat tak otomatis menjadi pelatih hebat pula," tegas Firman dalam channel Bobotoh TV.

Menurut Firman, apa yang dilakukannya saat ini semata demi sepak bola Indonesia. Sebagai pembina atau pelatih, kita tak hanya mampu membina atau melahirkan pemain tapi menjaganya sesuai kategori usia pemain.

"Alfred Riedl (eks pelatih timnas Indonesia) pernah bilang ke saya, menangangi pemain Timnas Indonesia itu seperti kembali melatih pemula. Artinya, tugas seorang pelatih adalah meletakkan dasar-dasar sepak bola yang baik kepada asuhannya sejak dini," papar Firman.

Jadi Pelatih Persib

Gelandang Sriwijaya FC, Firman Utina, saat menghadiri peluncuran sepatu di Fisik Football, Jakarta, Senin (13/6/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Gelandang Sriwijaya FC, Firman Utina, saat menghadiri peluncuran sepatu di Fisik Football, Jakarta, Senin (13/6/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Sebagai pelatih, Firman Utina tentu menyimpan keinginan mengembangkan kariernya dengan menangani klub profesional suatu saat nanti. Termasuk kemungkinan melatih Persib, klub di mana ia pernah menjadi kapten dan meraih trofi juara.

"Tentu, ada keinginan itu (melatih Persib). Tapi, untuk saat ini, saya memulai dari bawah dulu. Apalagi, situasi dan suasana di Persib sangat berbeda dibandingkan ketika saya masih aktif sebagai pemain," terang Firman.

Menjadi pelatih memang menjadi pilihan hidup Firman agar tetap bersentuhan dengan sepak bola yang dicintainya. Ia tak pernah berpikir mejadi pengusaha tulen meski saat ini ia bersama rekannya di Bandung membuka usaha konveksi.

"Keuntungan dari usaha itu juga untuk membantu eks pemain Persib yang tidak seberuntung rekan-rekannya. Saat ini, kami sudah membentuk komunitas eks pemain Persib yang peduli dengan mereka," kata Firman Utina.

Firman juga menampik kemungkinan dirinya menjadi pengurus PSSI meski saat ini ia sudah belajar berorganisasi dengan menjadi Presiden APPI (Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia) periode 2018-2023.

"Serahkan saja sama ahlinya. Kalau pun ada ketua umum PSSI dari kalangan pemain, saya melihat potensi itu ada pada sosok seperti Bambang Pamungkas, Yeyen Tumena, Ponaryo Astaman dan Bima Sakti," tutur Firman.

Saksikan Video Pilihan Kami: