Alasan Jangan Terlalu Sering Konsumsi Makanan Cepat Saji

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketika Anda malas atau memang sedang tidak masak untuk makan di rumah, membeli makanan cepat saji menjadi salah satu solusinya. Selain itu, makanan cepat saji juga merupakan salah satu makanan yang praktis dibawa ketika sedang bepergian.

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji ternyata dapat membahayakan. Apalagi jika Anda mengonsumsinya secara rutin.

Makanan cepat saji mengandung sedikit nutrisi. Umumnya, makanan cepat saji justru mengandung banyak gula, garam, lemak jenuh, kalori, serta kandungan yang kurang baik lainnya.

Jika terlalu sering dikonsumsi tentu tidak baik untuk kesehatan. Nantinya justru akan menimbulkan berbagai efek negatif pada tubuh.

Walaupun rasanya enak, namun makanan tersebut tidak banyak tercampur oleh sayuran segar atau buah. Oleh karena itu, berarti makanan cepat saji sangat rendah serat dan nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan tubuh.

Mungkin sesekali jika Anda konsumsi tidak akan menjadi masalah dan tidak memengaruhi kesehatan. Namun, ketika Anda sudah membiasakan diri bahkan hampir setiap hari mengonsumsinya tentu itu tidak baik.

Shikha Mahajan, seorang ahli gizi holistik dan pendiri Diet Podium mengatakan, membiasakan mengonsumsi makanan cepat saji akan menyebabkan kekurangan vitamin.

Selain itu, berikut ini beberapa efek negatif lainnya jika Anda terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, seperti melansir laman Timesnownews, Rabu (27/1/2021).

1. Memberikan efek pada sistem pencernaan dan gula darah

Kebanyakan makanan cepat saji berisi makanan yang mengandung karbohidrat dan sedikit atau bahkan tanpa serat. Ketika makanan tersebut masuk ke dalam tubuh, sistem pencernaan akan memecah makanan tersebut.

Karbohidrat akan dilepaskan ke aliran darah sebagai glukosa. Akibatnya gula darah akan naik. Namun, selama kondisi Anda stabil, ginjal dapat mentolerir lonjakan gula tersebut dengan baik.

2. Memberikan efek pada berat badan dan sistem pencernaan

Terkadang penambahan berat badan yang disebabkan kalori berlebih bersumber dari makanan cepat saji.

Jika sudah tidak bisa mengontrol kalori tersebut, Anda tentu akan berisiko terkena obestias. Masalah tersebut akan tersambung dengan masalah pernapasan.

Jika Anda sudah terkena obesitas, nantinya akan meningkatkan risiko masalah pernapasan, seperti asma atau sesak napas. Selain itu, juga dapat memengaruhi jantung dan paru-paru.

3. Mengandung banyak gula dan lemak

Ilustrasi burger (Photo by Taylor Harding on Unsplash)
Ilustrasi burger (Photo by Taylor Harding on Unsplash)

Kebanyakan makanan cepat saji mengandung banyak gula. Kebanyakan minuman cepat saji memiliki berat lebih dari 12 ons. Misalnya satu kaleng soda dengan berat 12 ons mengandung 8 sendok gula.

Selain itu, makanan cepat saji juga lebih banyak mengandung lemak. Lemak trans merupakan salah satu jenis yang diproduksi dari makanan cepat saji. Lemak tersebut dianggap sebagai jenis lemak terburuk jika dikonsumsi.

Dengan Anda mengonsumsi makanan yang mengandung lemak trasn tersebut, akhirnya akan meningkatkan kolesterol jahat. Risiko yang terjadi kemungkinan Anda akan terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

4. Kadar natrium tinggi

Berbagai campuran, seperti lemak, gula, dan natrium (garam) itu yang membuat makanan cepat saji lebih enak dibandingkan makanan yang lain.

Mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan natrium yang tinggi sangat berbahaya untuk penderita tekanan darah tinggi.

5. Bebas serat

Makanan cepat saji pada umumnya mengandung sedikit serat. Serat tersebut ditemukan dalam sayuran, buah, atau biji-bijian.

Walau di menu makanan cepat saji terdapat roti yang digunakan untuk sandwich, wraps, atau hamburger, kemungkinan roti yang digunakan adalah roti putih yang hampir bebas serat.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati