Alasan Kubu Napoleon Tak Hadirkan Saksi Meringankan: Tidak Lagi Perlu

Merdeka.com - Merdeka.com - Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte memutuskan tidak menggunakan hak nya untuk memanggil saksi A de Charge atau saksi meringankan dalam perkara dugaan penganiayaan terhadap Youtuber Mohamad Kosman alias M Kece.

"Kami memutuskan tidak memanggil saksi A de Charge yang mulia," kata salah satu kuasa hukum saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (21/7).

Sementara ditemui terpisah, Napoleon menyampaikan jika alasannya tak memakai hak untuk menghadirkan saksi yang meringankan dalam perkara ini. Karena dia merasa jika keterangan saksi-saksi yang dihadirkan oleh jaksa telah menguntungkannya.

"Saya tidak lagi perlu menghadirkan saksi A De Charge atau yang menguntungkan saya karena semua saksi yang dihadirkan di persidangan ini semuanya menguntungkan saya termasuk ahli yang tadi," ungkapnya.

Pasalnya, Napoleon merasa jika dalam kasus dugaan penganiayaan ini terkesan memaksakan untuk dirinya kembali mendekam di balik jeruji besi.

"Jadi sudahlah gak usah kejam memaksakan diri untuk mempidanakan saya," ucapnya.

Percaya diri Napoleon atas kasus ini semakin terlihat, ketika dalam perkara ini jaksa penuntut umum (JPU) memutuskan untuk tidak menghadirkan dua ahli pidana karena telah merasa cukup.

"Informasi yang disampaikan oleh penyidik itu yang di pemeriksaan itu sudah dibatalkan semua oleh para saksi yang hadir. Itu selama di persidangan. Sehingga otomatis keterangan ahlinya juga akan berubah di peradilan ini," ujar Napoleon.

Dengan begitu, sidang ini akan sebentar lagi memasuki tahap pembacaan tuntutan oleh JPU. Menyusul, pemeriksaan Napoleon sebagai terdakwa yang akan digelar Kamis (28/7) pekan depan.

"Jadi itulah fakta-fakta yang sudah kita dapat tinggal minggu depan saya diperiksa sebagai terdakwa," ucapnya.

Dakwaan Napoleon

Untuk diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah membacakan dakwaannya terhadap Napoleon, Kamis (31/4). Dimana Napoleon disebut turut menganiaya M. Kace dengan tinja manusia di Rutan Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan pada Agustus 2021.

Tidak hanya itu, Muhammad Kace juga diduga mengalami tindakan kekerasan dari Napoleon seperti pemukulan bersama-sama dengan terdakwa lainnya yakni Harmeniko alias Choky alias Pak RT, serta Dedy Wahyudi, Djafar Hamzah, dan Himawan Prasetyo.

Tindakan kekerasan tersebut selain fisik, M. Kece juga menerima perlakuan ketika mulutnya dilumuri kotoran tinja oleh Napoleon yang pada saat itu masuk ke dalam sel nya.

Atas perbuatan tersebut, Napoleon pun oleh JPU turut mendakwa dengan pasal 170 ayat 2 KUHP. Ayat 2 pasal itu menyebut pelaku penganiayaan dapat dipenjara maksimal hingga 7 tahun jika mengakibatkan luka pada korban.

Napoleon juga didakwa dengan pasal 170 ayat 1. Lalu, pasal 351 ayat 1 juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP dan kedua Pasal 351 ayat (1) KUHP. Pasal 351 ayat 1 mengancam pelaku tindak pidana penganiayaan dengan ancaman hukuman paling lama dua tahun. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel