Alasan Marak Investasi Bodong Berkedok Robot Trading

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penipuan berkedok investasi seperti tak pernah habis ditumpas. Pelaku seakan memiliki sejuta jurus untuk terus beraksi. Baru-baru ini ditemukan modus baru investasi dengan penipuan berkedok robot trading.

Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Mohammad Andoko mengatakan, robot trading bukan fenomena yang benar-benar baru. Ia mengaku telah mengamati fenomena ini sekitar setahun terakhir.

Seperti penipuan investasi pada umumnya, Andoko mengatakan modus awalnya yakni menawarkan imbal hasil yang tinggi dengan cara instan.

"Robot trading itu kenapa banyak orang yang tertarik, karena dia menjanjikan keuntungan. Sama seperti investasi bodong. Di mana ditawarkan produk, dijanjikan tiap bulan dapat berapa persen. Padahal bisa jadi skemanya itu ponzi. Jadi dia dapat uang dari member yang baru,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu (2/10/2021).

Sementara itu, Pengamat dan Praktisi Investasi Desmond Wira menuturkan, marak penawaran investasi berkedok penawaran robot trading karena memanfaakan orang tidak mau kerja dan serakah.

"Cari korban mudah serakah. Modus robot trading baru, tetapi banyak belum tahu. Robot trading sebagai kedok," kata dia.

Selain itu, Desmond mengatakan, imbal hasil atau keuntungan yang ditawarkan juga tinggi. "Sehari bisa 1 persen,2 persen,3 persen,4 persen, dan 5 persen per hari," kata dia.

Kurangnya literasi investasi di masyarakat dimanfaatkan oleh penipu untuk mendulang cuan. Andoko mengungkapkan, karakteristik kebanyakan masyarakat Indonesia masih kurang cermat dalam melakukan analisa produk investasi. Sehingga rentan terjerumus dalam investasi bodong.

"Orang-orang yang melakukan hal ini (penipuan), sebenarnya sudah tahu karakteristik orang Indonesia yang senangnya dapat kepastian. Dapat return pasti dan abnormal,” kata Andoko.

Sebagai langkah antisipasi, Andoko mengimbau kepada calon investor agar mempelajari produk investasi sebelum mengambil keputusan. Selain itu, perlu juga mempelajari market dan strateginya. Jika perlu, berguru pada pihak yang memang memiliki pengalaman atau ahli dalam instrumen yang dikehendaki.

Tak kalah penting, cek pula legalitasnya. Robot trading mengacu pada platform kegiatan perdagangan jual-beli aset seperti mata uang atau forex secara otomatis. Melihat dari jenis produknya, regulasinya berada di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

"Terakhir, perlu action. Tapi rasanya belajarnya jangan langsung yang high return. Belajar bertahap dulu,” imbuhnya.

Di sisi lain, Andoko menerangkan robot trading tidak memiliki transparansi dan tidak memiliki izin regulator alias ilegal.Sebagai perbandingan, Andoko menyebutkan Single Investor Identification (SID) untuk investor pasar modal lebih bisa mengakomodasi dari sisi transparansi.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Robot Trading Hanya Alat

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan tentang fintech di Indonesia, Jakarta, Rabu (12/12). Sedangkang P2P ilegal tidak menjadi tanggung jawab pihak manapun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan tentang fintech di Indonesia, Jakarta, Rabu (12/12). Sedangkang P2P ilegal tidak menjadi tanggung jawab pihak manapun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dihubungi secara terpisah, Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L. Tobing menegaskan robot trading hanya merupakan alat untuk melakukan perdagangan. Sehingga bisa untung dan juga bisa rugi.

"Tidak akan ada keuntungan yang fix dalam trading. Masyarakat yang ingin menggunakan robot trading hendaknya adalah orang yang sudah memahami mekanisme trading, sehingga mengetahui risikonya,” kata Tongam.

Beberapa hal yang perlu diketahui adalah, keputusan investasi untuk jual atau beli mestinya berasal dari investor, bukan pihak lain.

“Jangan sekali-kali melakukan investasi perdagangan berjangka komoditi ke pihak lain yang bukan perusahaan perdagangan berjangka komoditi yang berizin dari Bappebti,” ujar Tongam.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel