Alasan Noe Letto Pernah Atheis dan Jadi Gelandangan

Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Vokalis Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal dengan nama Noe mengaku pernah atheis. Hal itu diakuinya dalam kanal YouTube Cahaya Untuk Indonesia. Noe mengakuinya kepada Habib Husein Ja'far Al Hadar.

"Saya pernah atheis dengan sadar, dengan jalan logika. Ada saya ada milik saya, ada perbedaan itu. Jam, gelang, HP itu milik saya, itu dari luar saya akuisisi ke dalam. Terus kalau saya berarti bukan yang saya akuisisi dong, saya adalah yang diciptakan oleh Tuhan," kata Noe.

Ia melihat ke dalam dirinya. Noe merasa apa yang ada dalam dirinya itu bukan miliknya sendiri. Daging, pikiran, berasal dari luar yang ia akuisisi. Maka Noe kemudian bertanya, yang selama ini bersyahadat dirinya atau bukan.

"Kemudian saya bertanya yang bersyahadat saya atau milik saya. Kalau yang bersyahadat adalah milik saya, aslinya saya belum pernah bersyahadat. Saya hanya mengakuisisi syahadat itu. Saya tidak bersaksi, saya hanya membeo kalimat bersaksi itu, saya belum bener-bener bersaksi," katanya.

Noe ingin dirinya yang benar-benar bersaksi. Karena menurut Noe, kalimat syahdat benar-benar bersaksi dan mengalami sendiri, bukan hanya ucapan semata. Lalu Noe memulai perjalanannya.

"Saya kemudian mereset semuanya, saya bukan siapa-siapa, saya enggak tau apa-apa. Saya mau masuk Islam atau tidak, saya pun juga enggak tau," ujarnya.

Neo saat itu hidup menggelandang. Kala itu ia sedang berada di Kanada. Noe cukup lama hidup di jalan. Sampai di suatu titik, ia tidak punya uang bahkan untuk membeli makan.

"Jadi gelandangan cukup lama di luar, karena pikiran dari pada mati nih, survival, tak mampir di masjid lah. bukan urusan untuk jadi islam, urusan survival, daripada mati nih," katanya.

Selama berada di Masjid dan membantu urusan di sana, Noe sering mengikuti kajian. Sampai di suatu titik, Noe bertanya kepada salah satu Syekh. Jawaban Syekh tersebut yang buat Noe untuk kembali bersyahadat. Kejadian itu juga buat Noe sadar pemahaman dirinya tidak sebanding dengan Agama Islam.