Alasan Orang Kaya Malas Beli Properti Sekarang

RumahCom – Pemilik kapital atau orang-orang kaya saat ini segan untuk menanamkan uangnya di sektor properti. Hal ini menyebabkan industri kurang bergairah sejak beberapa tahun lalu. Apa alasannya?

Sejak beberapa tahun terakhir seiring pelemahan yang terjadi pada bisnis properti, orang-orang kaya atau pemilik kapital semakin enggan menanamkan uangnya untuk diinvestasikan pada sektor properti. Kalangan investor seperti ini yang sebetulnya membuat pasar properti lebih bergairah dari sisi peningkatan harga jualnya (gain) ketimbang konsumen end user yang membeli properti untuk digunakan.

Padahal dari sisi data keuangan catatannya cukup baik. menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tahun 2018 misalnya, jumlah tabungan masyarakat Indonesia  di perbankan terus meningkat. Nilainya sudah mencapai Rp5.414.857 miliar yang tersimpan di seratusan perbankan dengan rata-rata kenaikan simpanan mencapai enam persen setiap tahunnya.

Begitu juga dari jenis simpanan seperti tabungan, deposito, maupun simpanan dalam bentuk valuta asing, rata-rata kenaikannya mencapai 1,3 persen setiap bulannya. Sementara sektor properti justru cenderung terus melambat, kendati pada tahun 2019 lalu telah terlihat tren kenaikannya namun diprediksi akan kembali menurun akibat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director  Colliers International Indonesia (CII), sebuah lembaga manajemen dan riset properti global, kalangan pemilik kapital besar di Indonesia cenderung menahan uangnya dan tidak dibelanjakan ke sektor propeti karena saat ini dianggap kurang menarik.

Beli rumah bekas juga menjadi pilihan yang tepat. Simak video berikut ini untuk mengetahui langkah aman membeli rumah bekas.

“Para orang kaya pemilik kapital itu pastinya membeli properti bukan yang pertama, dia sudah banyak memiliki properti yang lain. Saat ini situasinya dianggap belum menguntungkan kalau menyimpan uangnya di sektor  properti dan itu salah satu yang membuat sektor properti masih seret,,” ujarnya.

Salah satu faktor orang kaya masih segan untuk membeli properti karena kenaikan nilai (gain) investasinya yang relatif kecil. Begitu juga nilai dari keuntungan yang bisa didapatkan dari penyewaan (yield) propertinya cenderung masih stagnan sejak periode pelemahan bisnis properti sejak tahun 2014 lalu.

 

Hal lainnya lagi, properti juga merupakan barang investasi yang tidak mudah dicairkan atau non liquid. Akhirnya produk perbankan seperti tabungan, deposito, maupun valuta asing lebih dipilih kendati imbal hasilnya relatif kecil namun produk perbankan dianggap bebas risiko (free risk) dan sangat likuid. Cara ini akhirnya dianggap lebih aman dibandingkan membelanjakannya di sektor properti.

“Pemegang kapital  ini malas investasi di sektor properti karena gain maupun yield-nya dianggap tidak menarik. Kita juga selalu melihat situasi politik seperti pemilihan presiden pada tahun lalu, di negara maju orang mau investasi tidak melihat politik karena ada kepastian kalaupun pemerintahnya berganti regulasi untuk sektor ekonomi akan tetap berjalan. Di sini orang akan memastikan dulu regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah baru, ditambah sekarang ada wabah Covid-19, properti semakin tidak menjadi perhatian utama dulu walaupun situasinya lagi sangat menguntungkan untuk konsumen,” bebernya.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.