Alasan RSUD Jombang Tak Operasi Caesar Pasien hingga Bayi Meninggal saat Persalinan

Merdeka.com - Merdeka.com - Peristiwa pilu meninggalnya seorang bayi di Jombang, Jawa Timur, akibat proses persalinan disebut telah berujung damai. Perdamaian antara orangtua bayi dengan pihak RSUD Jombang ini tercapai setelah adanya dengar pendapat yang difasilitasi DPRD Jombang.

Ketua Komisi D DPRD Jombang Erna Kuswati mengatakan, dalam proses dengar pendapat yang menghadirkan pihak rumah sakit dan keluarga bayi itu didapat keterangan terkait kejelasan perkara tersebut. Erna mengatakan, saat kehamilan ibu bayi secara medis diketahui menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi dan mengidap diabetes.

Oleh karena itu kata Erna, pihak Puskesmas tidak berani melakukan tindakan medis saat awal menerima pasien. Untuk itu, ibu bayi dirujuk ke RSUD Jombang.

Erna menambahkan, namun rujukan dari Puskesmas tidak merujuk untuk dilakukan operasi caesar. Sebab, Puskesmas sudah mengetahui rekam jejak kesehatan sang ibu.

"Jadi Puskesmas tidak merujuk untuk dilakukan (operasi) caesar, karena riwayat medis si ibu bayi," kata Erna saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (2/8).

Dia menyebut, SOP (standar operasi prosedur) medis dilakukan pihak Puskesmas maupun rumah sakit sudah dianggap benar. Sebab dengan kondisi medis sang ibu yang memiliki hipertensi dan diabetes, maka tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi.

Sebab, jika hal itu dilakukan maka sangat memungkinkan akan terjadi pendarahan hebat pada sang ibu. Selain itu, pada saat persalinan, kondisi bayi disebutnya sudah meninggal karena terlalu lama tercekik akibat 'nyangkut' di jalan bayi.

"Karena ada indikasi hipertensi dan diabet RSUD tidak berani serta merta operasi. Nanti bisa terjadi pendarahan yang tidak bisa berhenti. Sedangkan saat itu sudah bukaan 8, bayinya sudah di bawah. Posisi bayinya sudah keluar," ujar Erna.

Alasan Bayi Didekapitasi

Dia melanjutkan, soal dekapitasi (pemutusan leher bayi) diakuinya sudah sesuai dengan SOP. Sebab, hal itu bertujuan untuk menyelamatkan sang ibu. Secara medis, prosedur itu memang dapat dibenarkan.

"Dari RSUD Jombang dekapitasi itu supaya ibunya bisa terselamatkan. Apalagi, bayinya meninggal karena terjepit," tutur dia.

Terkait dengan penjelasan-penjelasan itu, dia mengatakan, keluarga bayi dapat menerima keterangan yang diberikan pihak rumah sakit. Sehingga, kasus itu akhirnya dapat diselesaikan secara damai.

"Sudah clear ya. Si pengunggah informasi pertama kali di medsos itu mungkin tidak mengerti situasi medisnya. Keluarga bayi sudah dapat menerima penjelasan dari pihak rumah sakit," ujar dia.

Pertemuan itu dihadiri Ketua Komisi D Jombang Erna Kuswati, Wakil Ketua Komisi Syarif Hidayatullah, anggota Luluk Sintya, Didit Trisupriyatno dan perwakilan RSUD Jombang, Dinas Kesehatan, Perwakilan Puskesmas Sumobito serta keluarga pasien.

Kasus Viral di Media Sosial

Sebelumnya, viral di media sosial ibu hamil di Jombang dipaksa lahiran normal dan kemudian bayi meninggal dunia. Peristiwa terjadi RSUD Kabupaten Jombang.

Bayi tersebut merupakan anak dari pasangan Yopi Widianto (26) dan Rohmah Roudlotul Jannah (29), warga Dusun Selombok, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Jombang.

RSUD Jombang, membenarkan kematian seorang bayi karena penanganan medis oleh sejumlah dokter di rumah sakit pelat merah itu. Namun, pihak rumah sakit mengklaim telah sesuai prosedur penanganannya.

Berawal datang pasien rujukan puskesmas Sumobito pada kamis (28/7) lalu atas indikasi preeklamsia atau keracunan kehamilan. Pasien masuk RSUD sekitar pukul 10.50 WIB. Pasien itu adalah Rohmatul Jannah yang hendak melahirkan bayinya.

“Kondisi ibu baik, sudah masuk fase aktif dalam artian ada pembukaan jalan lahir,” kata Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Jombang, Dr M Vidya Buana kepada wartawan, Senin (1/8).

Dalam artian kepala janin sudah masuk dasar panggul. Keputusannya sudah terjadi pembukaan oleh dokter sesuai standar diupayakan lahir normal atau pervaginam.

Sembari melihat kondisi janin, setelah pembukaan lengkap tim dokter melakukan pertolongan persalinan.

“Sampai kepala bisa lahir, setelah itu terjadi kemacetan proses melahirkan, kita mengistilahkan sistosia bahu, macet pundak,” jelasnya.

Kemudian dilakukan berbagai macam upaya, mulai dari beragam manufer dikerahkan oleh tim ekspert dokter, ada 3 dokter SPOG mendampingi proses persalinan. Setelah dilakukan upaya sedemikian rupa, janin masih dalam kondisi macet.

“Kemudian kondisi bayi tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Prioritas selanjutnya adalah menyelamatkan orang tua korban, fokus menyelamatkan kondisi ibu. pihak dokter melakukan operasi untuk mengangkat janin. Karena separuh sudah lahir (bagian kepala) diputuskan dilakukan proses dekapitasi. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel