Alasan Warga Palembang Jadi Pengemis Dadakan di Pinggir Jalan

Liputan6.com, Palembang - Pembagian sembako di tengah wabah Covid-19 dan bulan Ramadan, baik dari pemerintah, instansi, perusahaan swasta maupu komunitas, terus dilakukan di Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel).

Di tengah tingginya kepedulian tersebut, ada beberapa warga Kota Palembang yang nekat mengemis di pinggir jalan untuk mendapatkan bantuan sembako.

Belasan para warga yang menanti uluran bantuan para donatur ini, terjadi di sepanjang Jalan Gubernur H Bastari Jakabaring Palembang. Fenomena ini langsung mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Satpol-PP Palembang.

Pada hari Selasa (12/5/2020) siang, Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang dan anggota Satpol-PP Palembang dibantu petugas Polrestabes Palembang melakukan razia, di kawasan Jakabaring Palembang tersebut.

Awalnya, Satpol-PP Palembang mendapati sepasang suami istri (pasutri) lanjut usia (lansia), sedang duduk di pinggir jalan. Dengan pakaian lusuh dan masker di wajahnya, pasutri masing-masing memegang karung putih.

Samsul (70) dan Iyus (60), ternyata berasal dari Kota Lubuklinggau Sumsel, sedangkan anaknya tinggal di Kota Prabumulih Sumsel. Di Kota Palembang ini, mereka berdua tinggal tak jauh dari tempat mereka ditemui.

“Saya tinggal tak jauh dari sini, cuma mengontrak di rumah orang. Duduk di pinggir jalan, supaya dapat bantuan. Karena tidak ada kerjaan sama sekali,” ucapnya.

Pasutri ini akhirnya digiring masuk ke mobil patroli Satpol-PP Palembang. Lalu, rombongan Wawako Palembang dan Satpol-PP kembali mendapati beberapa wanita yang menjadi pengemis dadakan.

Mereka mengaku sengaja duduk di pinggir jalan membawa kantong plastik. Agar bisa mendapatkan belas kasihan para pengendara yang melintas di kawasan tersebut.

Seperti diungkapkan Dina Mulyani (34), Warga Jalan Budi Mulya 2 Jakabaring Palembang yang diciduk Satpol-PP Palembang. Dia mengungkapkan jika terpaksa duduk di pinggir jalan, agar bisa dapat bantuan dari warga yang melintas.

Biasanya dia bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), namun dia dirumahkan oleh majikannya di tengah wabah Corona Covid-19.

“Sejak Corona Covid-19 ini saya diberhentikan dari kerjaan. Suami saya menganggur, anak ada dua. Jadi terpaksa duduk di pinggir jalan ini. Tiap hari dapat uang Rp20.000, sudah tiga hari ini saya lakukan, untuk biaya hidup,” ujarnya.

Sama halnya dilakukan oleh Jujuk (39), warga Jakabaring Palembang juga terpaksa harus mengemis di pinggir jalan bersama tetangganya. Karena dia juga dipecat dari pekerjaannya sebagai PRT di rumah majikannya.

 

Bawa Anak Kecil

Pengemis dadakan di pinggir Jalan Gubernur H Bastari Jakabaring Palembang diamankan petugas Satpol-PP Palembang (Liputan6.com / Nefri Inge)

 

Bahkan Jujuk nekat membawa anak perempuannya berusia 2 tahun, untuk meminta-minta kepada warga yang lewat.

“Sudah beberapa hari, uang yang didapat untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi setelah ditemui Wawako Palembang, saya berjanji tidak akan meminta-minta di pinggir jalan lagi. Karena sudah dijanjikan akan mendapatkan bantuan secara rutin,” ucapnya.

Lalu, beberapa orang tukang becak pun turut diamankan. Diduga mereka juga sengaja memarkirkan becaknya di pinggir jalan agar mendapatkan sembako.

Saat Wawako Palembang memeriksa becaknya, ternyata sudah ada dua bungkusan paket sembako yang didapatkan oleh para tukang becak tersebut.

Wawako Palembang Fitrianti Agustinda mengungkapkan, mereka mendapati banyak warga Palembang yang meminta-minta di pinggir jalan.

"Mereka sudah kita data, terutama tempat asalnya, sudah kita berikan bantuan juga. Diharapkan jangan sampai datang lagi ke lokasi ini untuk meminta-minta," katanya.

Untuk sementara, para pengemis dadakan hingga tukang becak tersebut, diamankan dan didata di kantor Satpol-PP Palembang. Lalu akan diantar pulang ke rumahnya masing-masing.