Alat Pemantau Dipasang di Gunung Lokon  

TEMPO.CO, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menambah alat baru untuk memantau aktivitas Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara. "Alat Bore Hole Tilt Meter itu untuk (memantau) deformasi," kata Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Hendrasto, di kantornya, di Bandung, Jumat, 21 September 2012.

Menurut dia, alat itu dipasang di kedalaman 5 meter di bawah tanah, dalam jarak 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Alat itu untuk memantau deformasi atau kembang-kempisnya tubuh Gunung Lokon. "Dipasang sekarang karena alatnya baru datang," ujar Hendrasto.

Dengan penambahan alat ini, menurut dia, pengembangan tubuh gunung api itu bisa dicatat tiap menit sekali. Tidak semua gunung api dipasangi alat ini. Di Indonesia, alat itu hanya dipasang di tubuh Gunung Semeru dan Gunung Bromo. "Itu pun kerja sama dengan Jepang," kata Hendrasto.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sengaja memilih pemasangan alat itu di Gunung Lokon. Pertimbangannya untuk memperkuat analisis soal status gunung itu demi memastikan perlu tidaknya penduduk di seputaran gunung itu diungsikan.

Dengan tambahan alat itu, sedikitnya saat ini ada tiga jenis peralatan yang dipasang di sana. Peralatan lain adalah seismograf untuk memantau aktivitas seismik gunung itu serta sensor suhu tanah yang dipasang pada jarak 3 kilometer dari Kawah Tompaluan, sumber letusan Gunung Lokon.

Hendrasto menjelaskan, untuk sistem gunung api dengan aktivitas tinggi seperti Lokon, sulit jika hanya mengandalkan pantauan gempa vulkaniknya dengan peralatan seismik. Keberadaan Bore Hole Tilt Meter dan sensor suhu itu untuk membantu menganalisis kemungkinan besarnya letusan yang dihasilkan gunung itu.

Ia mencontohkan, kalau ada aktivitas magmatik yang signifikan, bisa terpantau dari kenaikan suhu tanah di seputaran gunung itu. Tanda letusan bisa juga dilihat dari membesarnya tubuh gunung itu. "Sebelum meletus, ada aktivitas dapur magma. Sebelum meletus, dia membengkak. Kami perlu tahu pembengkakannya seberapa besar," kata dia.

Dua alat itu sengaja dipasang untuk memastikan kemungkinan letusan besar bakal terjadi atau tidak. Analisis lembaganya saat ini, gunung itu masih berpotensi menghasilkan letusan lagi. "Pertanyaannya, seberapa besar letusannya?" kata dia.

Potensi itu terlihat dari masih terus munculnya gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal, serta tremor menerus hingga saat ini. "Dalam waktu dekat, potensi terjadinya letusan masih ada," kata Hendrasto.

Dalam sepekan ini, gunung itu sudah meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi 15 September 2012 dengan tinggi kolom asap 1,5 kilometer. Letusan kedua pada 19 September dengan tinggi kolom asap hasil letusan menembus 1 kilometer.

Letusan hari ini terjadi pukul 10.18 Wita, terhitung paling besar dalam sepekan ini, dengan tinggi kolom asap menembus 2,5 kilometer. Kendati bukan letusan terbesar gunung itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat, letusan terbesar gunung itu pernah terjadi tahun lalu dengan tinggi kolom asap menembus 3 kilometer.

Pada letusannya pagi ini, Gunung Lokon melontarkan abu dan material pijar hingga ketinggian 1,5 kilometer. "Letusannya jenis freatomagmatik. Gabungan dari letusan freatik yang menghasilkan abu, dan magmatik menghasilkan lontaran material pijar," kata Hendrasto.

Sebelum meletus pagi tadi, gunung itu sudah melepaskan sinyal berupa lonjakan aktivitas kegempaan. Selama seharian sebelum meletus, gunung itu menghasilkan gempa dalam lebih dari 50 kali, serta gempa dangkal hingga 170 kali. Letusan pagi tadi terjadi terus-menerus selama lebih dari tiga jam.

Lontaran material hasil letusan gunung itu diperkirakan hanya jatuh dalam radius 1,5 kilometer. Lembaga ini merekomendasikan untuk melarang aktivitas manusia dalam radius 2,5 kilometer. Sementara permukiman penduduk terdekat berjarak sekitar 3 kilometer dari kawah gunung itu.

Hendrasto mengatakan, lembaganya masih tetap mempertahankan status aktivitas gunung itu di level III atau siaga. Dia beralasan, masih belum perlu mengungsikan penduduk. "Selama tidak mengancam permukiman, cukup siaga saja," kata dia.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pernah merekomendasikan status awas untuk bahaya letusan Gunung Lokon pada tahun lalu. Saat itu, lembaga ini melarang aktivitas penduduk dalam radius 3,5 kilometer. Saat itu, menurut Hendrasto, sekitar 5.000 penduduk terpaksa diungsikan.

AHMAD FIKRI

Berita Terkait:

Aktivitas Gunung Tangkubanparahu Turun

Gunung Lokon Meletus Lagi

Sembur Uap Belerang, Gunung Lewotolok Waspada

25 Pendaki Nyaris Jadi Korban Gunung Gamalama

Penduduk Lawan Abu Gamalama dengan Tutup Pintu

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.