ALI: Pengusaha logistik harus bisa beradaptasi

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Nofrisel mengatakan bahwa terdapat hal yang harus diperhatikan oleh para pelaku usaha di industri logistik agar terus bisa berkembang dan tidak digerus oleh perkembangan zaman, yaitu kemampuan beradaptasi.

"Banyak sekali kita saksikan hari ini perusahaan yang tidak adaptif, mereka terlambat dan semakin tidak eksis. Hal itu dikarenakan tidak bisa beradaptasi," kata Nofrisel di Jakarta, Rabu.

Nofrisel menjelaskan bahwa, peran adaptif dalam sebuah usaha bisnis di industri logistik sangat memiliki peran yang penting. Hal itu bertujuan untuk mengembangkan usaha logistik yang dijalankan oleh para pengusaha.

"Adaptasi itu macam-macam, ada model bisnis baru adaptasi tentang tools terbaru, teknologi terbaru hingga adaptasi kompetensi yang baru," jelas dia.

Baca juga: Ini jurus KJL digitalisasi industri logistik nasional

Menurutnya, adaptasi memang menjadi "kata kunci" bagi mereka yang hendak ingin menjalankan bisnis di industri logistik yang kian hari kian menggiurkan. Menurut catatan, pada 2021 yang lalu volume pengiriman barang logistik di Indonesia mencapai 8,8 juta per harinya.

Untuk tahun ini sendiri, dia mengatakan bahwa terdapat 11,5 juta shipment. Perkembangan itu akan diperkirakan terus meningkat mencapai 15 juta shipment per hari di tahun 2023.

"Jadi menurut saya, adaptasi itu adalah kata kunci keberhasilan," ucap dia.

Selain adaptasi, para pelaku usaha juga disarankan untuk melakukan berbagai kolaborasi dengan banyak pihak. Karena, industri logistik tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa adanya kerjasama dari pelaku usaha lain.

"Tidak mungkin bisnis logistik itu bisa berjalan sendiri, maka itu dibutuhkan adanya kolaborasi dan itu sudah kewajiban," jelas dia.

Sebagai informasi tambahan, secara spasial, hampir 60 persen pergerakan barang berpusat di pulau Jawa dan sekitar 20 persen berada di Sumatera. Jakarta sendiri mencatat lebih dari 7 juta shipment setiap harinya.

Jika tidak ditangani dengan baik, bisa rawan terjadi mismatching, bottlenecking dan mengakibatkan penurunan kualitas logistik. Salah satu strategi peningkatan efisiensi logistik adalah mengotomasi jaringan supply chain lewat digitalisasi teknologi.

Baca juga: McEasy kenalkan fitur terbaru mereka "Route Optimization"

Baca juga: Pelindo layani kapal peti kemas besar dukung kelancaran logistik

Baca juga: Pengiriman logistik WSBK 2022 dari Bandara Lombok tuntas