Alibaba Ingatkan Pertumbuhan Pendapatan Melambat Sejak Debut IPO

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Alibaba Group Holding memproyeksikan pendapatan tahunan 2021 tumbuh dengan laju paling lesu sejak penawaran umum perdana atau initial public offering atau IPO pada 2014.

Kondisi ini disebabkan oleh hasil kuartal II meleset dari perkiraan akibat konsumsi masyarakat lambat. Selain itu faktor lain datang dari pengawasan peraturan yang lebih ketat dari regulator China.

Alibaba berharap pendapatan fiskal 2022 dapat melonjak 20 persen sehingga kenaikan dari tahun ke tahun (YoY) menjadi 23 persen. Demikian mengutip dari Channel News Asia, ditulis Sabtu (20/11/2021).

Pekan lalu, perusahaan mencatat penjualan paling lambat terjadi pada Single’s Day tahunan, sebuah festival belanja daring terbesar di dunia.

Perusahaan teknologi China sedang berada di bawah tekanan. Lantaran pemerintah China melakukan tindakan keras kepada perusahaan konglongmerat di Beijing mulai dari Alibaba hingga Didi Global. Hal ini dilakukan guna menekan antimonopoli dengan alasan keamanan.

Tindakan keras pun merugikan perusahaan gim China dan raksasa media sosial Tencent Holdings. Kedua perusahaan pun turut membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan paling rendah sejak penawaran perdana pada 2004.

Founder Alibaba Jack Ma tidak lagi terlihat setelah melakukan kritis keras atas sistem regulasi China pada tahun lalu.

Imbasnya perusahaan menghadapi pengawasan sangat ketat lantas membuat IPO Ant Group ditangguhkan pada November 2020. Dari IPO tersebut, Ant Group berpotensi mengantongi dana senilai USD 37 miliar atau Rp 524,7 triliun (asumsi kurs Rp 14.209 per dolar AS).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pertumbuhan Melambat

Fairtual menggandeng Alibaba Cloud sebagai mitra kerja strategis dalam rangkaian kegiatan Grand Launching Alibaba Cloud Scrubbing Center Indonesia yang akan digelar pada 7 April 2021.
Fairtual menggandeng Alibaba Cloud sebagai mitra kerja strategis dalam rangkaian kegiatan Grand Launching Alibaba Cloud Scrubbing Center Indonesia yang akan digelar pada 7 April 2021.

Perkembangan pendapatan raksasa e-commerce meningkat 29 persen dengan nilai 200,69 miliar yuan setara USD 31,44 miliar (atau Rp 446,7 triliun).

Selama enam bulan terakhir perkembangannya paling lambat. Tidak dipungkiri perolehan pendapatannya pun jauh berada di bawah dugaan pakar. Rata-rata analis prediksi pendapatan Alibaba sebesar 294,93 miliar yuan, menurut data Refinitiv.

Harga saham yang diperdagangkan sekitar 11,20 yuan per saham. Nominal ini di bawah perkiraan yakni sebesar 12,36 yuan.

Afiliasi fintech Alibaba, Ant Group, mencatat laba kuartalan berjumlah 19,7 miliar yuan untuk kuartal yang berakhir Juni. Perusahan milik Ma mencatat keuntungan dari Ant masih menunggak seperempat bagian lainnya. (Ayesha Puri)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel