Allah dan Harapan Sepeda Tua Pak Harto

Syahdan Nurdin, pppadaqu
·Bacaan 3 menit

VIVA – Hampir satu tahun Indonesia bersama menghadapi pandemi Covid-19. Kemunculan virus yang menyerang saluran pernapasan ini mendatangkan dampak yang sangat luar biasa, korban jiwa berjatuhan, rumah sakit penuh, tenaga medis kewalahan dan ekonomi pun ikut lumpuh.

Banyak orang kehilangan pekerjaannya karena dampak lumpuhnya ekonomi. Pada awal Oktober 2020, Menteri Ketenagakerjaan menyebut bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaannya mencapai 6,4 juta pekerja. Salah satu yang terkena dampak PHK adalah Pak Hartopo Dwi Nugroho (65) yang tinggal di Desa Terban, Kota Yogyakarta.

Pak Hartopo kehilangan pekerjaannya sejak April 2020. Sebelumnya, Pak Hartopo bekerja di salah satu perusahaan makanan cepat saji terkenal di daerah Jl. Sudirman, Kota Yogyakarta. Sudah hampir 5 tahun Pak Harto, panggilan akrabnya, menjadi cleaning service di perusahaan tersebut. Selain bekerja menjadi cleaning service ia juga membantu membersihkan dan mengangkut sampah di toko roti dekat rumahnya.

Sebagai seorang cleaning service dan tukang sampah penghasilannya sangatlah jauh dari kata cukup, namun selama masih bisa makan dua kali dalam sehari Pak Harto sangatlah bersyukur.

Ia hanya meyakini bahwa selama mau berusaha maka rezekinya akan didapat. Tak heran walaupun ia hidup sebatang kara, ia selalu berusaha untuk tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. itulah yang mendasari Pak Harto untuk terus berjuang.

Saban hari ia akan bangun pagi-pagi sekali, mengikuti jama’ah subuh di Masjid Al-Hikmah Desa Terban, lalu berangkat ke toko roti yang belum dibuka untuk memungut sampah-sampahnya dan diantarkan ke TPS dengan memakai sepeda tuanya. Setelah selesai sekitar pukul 08.00 WIB, Pak Harto akan langsung bersiap-siap berangkat bekerja di restoran cepat saji.

Akibat omzet toko yang sangat menurun, akhirnya kebijakan merumahkan karyawan menjadi pilihan yang sangat berat bagi para pelaku usaha. Pak Harto pun menjadi salah satu orang yang terkena dampaknya.

Ia sangat sedih manakala managernya memanggil dirinya dan mengatakan bahwa mulai esok hari pekerjaannya diberhentikan terlebih dahulu. Pak Hartopo tak bisa berkata-kata, dan hanya bertanya, “Sampai kapan ya pak?,” ujarnya. Tetapi jawaban yang didapat semakin membuatnya sedih, sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Begitulah kata manajernya.

Pandemi Covid-19 menjadi salah-satu perenggut pekerjaannya, meski begitu ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa, ia sadar bahwa dalam pandemi mau tidak mau akan merugikan banyak pihak, termasuk tempatnya bekerja yang berimbas pula pada dirinya.

Kini pekerjaan yang masih ia tekuni adalah membantu membersihkan sampah dari toko roti, Saban pagi ia akan mengayuh pedal sepeda lamanya untuk membawa sampah-sampah toko roti ke TPS yang jaraknya cukup jauh.

“Pokoknya sampah-sampah itu harus dibereskan sebelum tokonya buka, kemudian saya bawa dengan sepeda ini ke TPS, biasanya saya berangkat pukul 6 pagi, lalu sekitar jam 8 itu sudah selesai,” ujar Pak Hartopo menuntun sepeda tuanya.

Alhamdulillah, pada Selasa (12/1) Pak Hartono menjadi salah satu penerima manfaat sembako dari PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta bersama Ederra Indonesia. Senyum sumringah memenuhi raut wajahnya. ia sangat bersyukur menerima satu bungkusan penuh berisi sembako itu.

“Terimakasih PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta dan Ederra Indonesia, bantuan ini sangat berharga bagi kami-kami yang membutuhkan, semoga Allah SWT. ganti dengan yang lebih baik,” ucap Pak Hartopo sambil bersyukur.

Sungguh berbagi adalah kenikmatan bagi yang menerima, pun yang memberi. Alhamdulillah, pada awal Januari 2021 total 500 bingkisan sembako sudah dapat tersalurkan pada yang membutuhkan di wilayah Kota Yogyakarta, Kab. Sleman, Kab. Bantul, hingga Kab. Gunung Kidul. Semoga aksi kebaikan akan terus lestari di tengah pandemi. Aamiin.