Alugoro Diserahkan ke TNI AL, Indonesia Negara Pertama Asia Tenggara yang Bisa Bangun Kapal Selam

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Mimpi Indonesia memproduksi kapal selam sendiri akhirnya terwujud. Bahkan Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam.

Adalah kapal Selam Alugoro 405 yang resmi diserahterimakan ke TNI-AL.

Peresmian dilakukan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (17/3/2021).

Kapal selam Alugoro 405 produksi PT PAL Indonesia (Persero) memakai skema transfer teknologi dengan perusahaan Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME).

Melansir laman Indonesia.go.id, Minggu (21/3/2021), kapal selam tersebut sepenuhnya dibangun di fasilitas kapal selam PT PAL Indonesia (Persero).

Dalam pengerjaan joint section, PT PAL Indonesia (Persero) berhasil menyelesaikan dengan predikat zero defect.

Dengan diterimanya Alugoro ini, total terdapat tiga kapal selam buatan DSME dan PT PAL Indonesia yang masuk dalam jajaran alutsista TNI-AL.

Alugoro merupakan kapal selam jenis diesel electric U209/1400 Chang Bogo Class. Mempunyai panjang 61,3 meter, kapal itu mampu menampung 40 orang kru serta tim khusus TNI-AL.

Kemampuan jelajah Alugoro sendiri dapat bertahan hingga 50 hari pada saat menjalani operasi, dengan lifetime selama 30 tahun. Kapal selam itu mampu melaju dengan kecepatan maksimal sekitar 21 knot pada kondisi menyelam dan 12 knot ketika berada di permukaan.

Keberhasilan pembangunan armada tempur laut ini tak pelak menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam. Kelak, Alugoro 405 itu digunakan oleh Komando Armada II (Koarmada II).

Sebelum serah terima dan pengukuhan dilakukan, kapal selam Alugoro-405 menjalani berbagai proses pengujian seperti harbour acceptance test (HAT) hingga menjalani 53 item sea acceptance test (SAT).

Alugoro juga pernah menjalani tes nominal diving dept (NDD) pada 20 Januari 2020 di perairan utara Bali. Saat itu, Alugoro berhasil menyelam hingga kedalaman 250 meter.

Sebelumnya, Kemenhan RI juga telah menerima kapal selam pertama Nagapasa-403 dan kapal selam kedua Ardadedali-404. Keduanya dibangun DSME, namun pengerjaannya di Korea.

Dalam sambutannya, Menhan Prabowo menyampaikan bahwa serah terima kapal selam Alugoro itu merupakan tonggak sejarah pertahanan Indonesia.

Karena, sambung dia, untuk pertama kalinya Indonesia melalui galangan kapal nasional PT PAL Indonesia (Persero) berhasil ikut serta dalam produksi kapal selam.

Diharapkan dalam lima tahun ke depan, PT PAL Indonesia (Persero) telah mampu memproduksi kapal selam sendiri mulai dari desain hingga produksi.

Lebih lanjut dikatakan Menhan Prebowo, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dilakukan dalam rangka penguatan pertahanan nasional di tengah kondisi geopolitik yang tidak pasti. Kementerian Pertahanan akan berupaya memenuhi kebutuhan alutsista TNI melalui kerja sama industri dalam negeri nasional.

"Kita sadari bersama betapa pentingnya pertahanan kita. Kita sedang membangun kemampuan pertahanan kita. Bukan karena kita ingin gagah-gagahan. Bukan karena kita ingin mengancam siapa pun. Tidak!" ujar Prabowo dalam keterangan tertulis, Rabu (17/3/2021).

Di tengah upaya membangun kemampuan pertahanan nasional, Menhan Prabowo meminta industri pertahanan dalam negeri turut serta dalam upaya peremajaan alutsista. Mengingat, saat ini banyak alat pertahanan yang telah berusia relatif tua.

Kemandirian industri pertahanan ini juga menjadi keinginan Presiden Joko Widodo. Ketika meninjau langsung kapal selam KRI Alugoro-405 di PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya. Kepala Negara mengapresiasi kerja sama pembuatan kapal selam tersebut. Presiden berharap suatu saat Indonesia akan mampu membuatnya secara mandiri.

“Saya kira sebuah kerja sama yang bagus, ada transfer teknologi di dalam pembangunan kapal selam Alugoro. Kita harapkan pada suatu titik kita bisa mandiri, dikerjakan semuanya oleh anak-anak bangsa sendiri,” kata Presiden.

Kapal Bantu Rumah Sakit

Kapal Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso 990 bersandar di Dermaga Madura, Komando Armada II Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/2/2020). KRI dr Soeharso 990 merupakan rumah sakit kapal milik TNI AU. (JUNI KRISWANTO/AFP)
Kapal Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso 990 bersandar di Dermaga Madura, Komando Armada II Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/2/2020). KRI dr Soeharso 990 merupakan rumah sakit kapal milik TNI AU. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Kepiawaian PT PAL Indonesia (Persero) sungguh tak diragukan lagi. Mereka mengukir sejumlah keberhasilan dalam sejumlah pengerjaan pembuatan kapal untuk kepentingan TNI.

Awal 2021, PT PAL telah berhasil membuat kapal bantu rumah sakit (BRS) dan sudah diserahterimakan ke TNI-AL. Kapal BRS itu dinamai KRI Dr Wahidin Sudirohusodo-991. Sebelumnya PT PAL juga mampu mendesain ulang KRI Semarang-594 menjadi kapal BRS.

Sukses membangun kapal BRS yang pertama, mereka kini mengerjakan kapal BRS kedua. Produksi kapal BRS dengan pembiayaan multiyear di tahun anggaran 2020, 2021, dan 2022 pesanan TNI-AL itu telah memasuki tahapan keel laying atau pemasangan lunas kapal yang dilaksanakan 21 Januari 2021.

Kapal BRS merupakan kapal pendukung dalam pelaksanaan operasi militer. Kapal tersebut nature-nya merupakan kapal pendukung operasi militer perang (OMP), pada masa damai kapal tersebut dapat difungsikan dalam operasi militer selain perang (OMSP).

Berdasarkan UU TNI nomor 34 tahun 2004, dalam misi OMSP, kapal BRS dapat melaksanakan tugas operasi membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan serta membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue). Tidak terbatas pada hal itu, kapal BRS juga memiliki kapabilitas pelaksanaan misi diplomasi internasional.

Kapal BRS berbasis pada kapal landing platform dock (LPD) yang telah digunakan oleh TNI-AL, Angkatan Laut Filipina, dan diminati sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, dan Senegal.

Kapal BRS memiliki spesifikasi teknis panjang 124 meter, lebar 22 meter, dan tinggi 6,8 meter. Kapal tersebut memiliki berat 7.300 ton, dengan kecepatan maksimal 18 knot, kecepatan jelajah 14 knot, dan endurance minimal 30 hari. Dalam operasinya kapal tersebut dapat mengangkut 120 kru, 16 kru helikopter, 89 orang kru kesehatan. Kapal itu juga memiliki kemampuan menampung dan merawat 169 pasien. Dalam misi evakuasi, kapal ini sanggup mengangkut 280 orang.

Saksikan Video Ini