Alvaro Bautista Nyaris Berhenti Balapan karena Kehabisan Uang

Xaveria Yunita
·Bacaan 2 menit

Salah satu yang terbius impian itu adalah Alvaro Bautista. Lahir di Talavera de la Reina, ia tumbuh di tengah para penggemar motorcross. Ya, di kota itu terdapat sirkuit motorcross Cerro Negro.

Perkenalan dengan beberapa pembalap motorcross membuat tekadnya makin kuat. Beruntung, keluarganya memberi dukungan penuh ketika melihat talenta sang putra meski mereka tidak kaya raya.

Keterbatasan ekonomi membuat karier Bautista hampir berhenti. Apalagi ada masa di mana tim-tim tidak mau mengontraknya sehingga mesti membiayai balapan, termasuk menyediakan motor sendiri.

“Saya terus mendaki. Saya berada di ambang kehancuran. Kami kehabisan uang, semua raib. Mungkin itu takdir, sehingga bisa berlanjut. Faktanya, orang tua saya yang membuat perbedaan,” ujarnya dikutip dari Speedweek.com.

“Selepas Movistar Cup, tak ada tim yang mau bekerja dengan saya, jadi saya berusaha maju sendiri. Kami membeli sebuah motor Yamaha karena lebih murah. Saya punya masalah besar dan tidak bisa lolos ke kejuaraan Spanyol.”

Peluang datang di tengah keterpurukan. Hanya saja mereka mesti menyiapkan modal yang tak sedikit. Pada akhirnya, orang tuanya nekat mencari dana dengan mengajukan pinjaman yang cukup besar.

“Uang raib dan keluarga memutuskan untuk meninggalkan itu. Panggilan muncul di pekan ketika saya berhenti. Sebuah tim menginginkan 18 ribu euro (sekitar Rp312 juta) untuk tiga balapan di akhir pekan,” pembalap 36 tahun itu mengenang.

“Ibu, Ayah dan saya melihat keuntungan dari pilihan tersebut. Jadi kami pergi ke bank untuk mengajukan kredit. Saya lalu berhasil menjadi salah satu yang tercepat di kejuaraan Spanyol. Setahun kemudian, bisa runner-up.”

Alvaro Bautista, Team HRC

Alvaro Bautista, Team HRC<span class="copyright">Gold and Goose / Motorsport Images</span>
Alvaro Bautista, Team HRCGold and Goose / Motorsport Images

Gold and Goose / Motorsport Images

Setahun kemudian, Alvaro Bautista menyeberang ke Honda usai diiming-imingi gaji besar, diprediksi lebih dari satu juta euro pertahun. Gaji ini membuatnya dapat mengangkat martabat keluarga.

Menjadi salah satu pembalap WSBK dengan gaji tinggi, Bautista merasa bersyukur. “Kota (Talavera de la Reina) terletak di tengah Spanyol, di antah berantah. Saya masih tinggal di sana dan ketika berpikir soal karier, saya bisa dibilang beruntung. Saya kenal banyak pembalap di wilayah saya. Berapa banyak dari mereka yang belum menemukan tempat dan waktu yang tepat?” ucapnya.