Aman Belajar Tatap Muka, Kemenkes Jemput Bola Deteksi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Demi mendukung Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas, Kementerian Kesehatan berupaya 'jemput bola' melakukan surveilans deteksi COVID-19. Strategi tersebut berupa active case finding (penemuan kasus secara aktif).

Sebagai catatan, sejumlah daerah sudah melakukan evaluasi PTM surveilans COVID-19. Ada variasi metode sampling masing-masing daerah. Untuk itu, diperlukan strategi surveilans terstandar untuk evaluasi pelaksanaan PTM.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, strategi active case finding dalam surveilans COVID-19 pelaksanaan PTM Terbatas. Frekuensi surveilans ini minimal rutin dilakukan sebulan sekali atau lebih sering.

"Kasus COVID-19 kita kan sekarang sudah rendah, jadi diubah strategi surveilansnnya dengan active case finding. Ini juga dilakukan di Tiongkok. Yang tadinya surveilans passive menjadi active," jelas Budi Gunadi usai Rapat Terbatas PPKM pada Senin, 27 September 2021.

"Jadi, bukan kita menunggu kalau ada yang panas atau demam baru dites. Tapi kita keluar 'jemput bola' deteksi pelacakannya."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

5 Tahapan Surveilans Evaluasi PTM

Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten, Senin (6/9/2021). Dinas Pendidikan Provinsi Banten uji coba PTM di SMA di Kota Tangerang secara terbatas dengan sistem bergiliran serta menerapkan protokol kesehatan ketat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten, Senin (6/9/2021). Dinas Pendidikan Provinsi Banten uji coba PTM di SMA di Kota Tangerang secara terbatas dengan sistem bergiliran serta menerapkan protokol kesehatan ketat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Budi Gunadi Sadikin memaparkan 5 tahapan strategi sampling surveilans evaluasi pembelajaran tatap muka. Pertama, identifikasi sasaran. Sasaran itu sekolah yang berada di tingkat kabupaten/kota.

"Dilihat berapa jumlah sekolah yang melaksanakan tatap muka. Kedua, melakukan random sampling. Kita ambil 10 persen sekolah dari total sekolah yang melaksanakan PTM untuk sampling," paparnya.

"Ketiga, sampling kecamatan. Dari 10 persen sekolah, kita bagi alokasinya berdasarkan kecamatan. Kecamatan mana yang banyak sekolahnya, otomatis akan lebih banyak."

Lantas kenapa sampling di level kecamatan? Menkes Budi menekankan, hal itu sebagaimana saran para epidemiolog. Bahwa penularan virus Corona tidak antar kota, melainkan lebih dulu terjadi di lingkup antar kecamatan.

"Di wilayah epidemiologis kecamatan itu harus dimonitor dengan ketat dari sisi surveilans," lanjutnya.

Strategi keempat, sampling individu. Sampling dengan mengambil 30 siswa dan 30 pengajar tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah yang menjadi sasaran surveilans. Kelima, pemeriksaan (testing) menggunakan PCR.

Hasil Surveilans Tentukan Kelanjutan PTM

Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) perdana di SD Negeri 14 Pondok Labu, Jakarta, Senin (30/8/2021). Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas Tahap 1 di Provinsi DKI Jakarta digelar dengan kapasitas 50 persen pada setiap satuan pendidikan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) perdana di SD Negeri 14 Pondok Labu, Jakarta, Senin (30/8/2021). Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas Tahap 1 di Provinsi DKI Jakarta digelar dengan kapasitas 50 persen pada setiap satuan pendidikan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selanjutnya, ada 520 juta sekolah, 68 juta peserta didik, dan 5 juta tenaga pendidik dan kependidikan dengan total 73 juta orang yang akan dilakukan testing. Perhitungan kebutuhan testing PCR per bulan dengan sampel sekitar 1,7 juta per bulan, di atas sekitar 30.000 sampel per hari.

"Nanti kita lihat sekolah-sekolah yang ada kasus positif COVID-19 tapi di bawah 1 persen positivity rate-nya yang normal saja, kita cari kontak eratnya. Lalu yang positif dikarantina, kontak erat diisolasi, sekolah tetap berjalan," terang Budi Gunadi Sadikin.

"Tapi kalau positivity rate-nya sekitar 1-5 persen itu rombongan belajarnya semua kita tes, sekolah tetap berjalan. Semua yang dites ini kita karantina agar tidak menularkan

Kalau positivity rate di atas 5 persen, seluruh sekolah akan dites. Ini karena ada kemungkinan menyebar virus Corona.

"Sekolahnya kita ubah dulu menjadi online selama 14 hari sambil kita rapihin. Protokol kesehatan direview kembali oleh tim Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Dinas Kesehatan. Kemudian (setelah) 14 hari kita masukkan lagi (PTM dibuka lagi)," pungkas Menkes Budi.

Infografis Penanganan Klaster Covid-19 di Sekolah

Infografis Penanganan Klaster Covid-19 di Sekolah. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Penanganan Klaster Covid-19 di Sekolah. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel