Ambisi Ganjar Bisa Menjadi Potensi Perpecahan PDIP

·Bacaan 4 menit

VIVA – Walaupun Pemilu 2024 masih cukup lama, sudah banyak fakta dan isu-isu yang banyak bermunculan yang pastinya menarik perhatian masyarakat Indonesia.

Mulai dari rencana tiga periode untuk Joko Widodo yang menimbulkan pro-kontra, elektabilitas para tokoh-tokoh berpengaruh serta yang tidak kalah penting adalah siapa-siapa saja yang akan ikut meramaikan perebutan kursi presiden.

Menarik untuk dibahas tentang prediksi siapa saja yang akan manjadi capres atau cawapres di pemilu nanti.

Bedasarkan nilai elektabilitas yang dikutip dari Y-Publica , bebarapa nama yang berpotensi ikut meramaikan pesta demokrasi terebut yang mana nilai elektabilitas tertinggi mayoritas dipegang oleh kepala daerah.

Seperti Ganjar Pranowo dengan nilai 20,2 persen, Ridwan Kamil sebesar 15,9 persen dan Anies Baswedan yang mengantongi 7,9 persen.

Tingginya elektabilitas para kepala daerah tersebut tidak terlepas dari musibah Covid-19 yang melanda Indonesia lebih dari setahun ini.

Covid -19 membuat para kepala daerah tersebut mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Keingintahuan masyarakat tentang bagaimana para kepala daerahnya menentapkan kebijakan dalam rangka menangani Covid secara tidak langsung mempengaruhi nilai elektabilitas para kepala daerah tersebut.

Ganjar Pranowo adalah kepala salah satu yang paling berpeluang menjadi capres untuk pemilu 2024 mendatang. Prestasi Ganjar dalam menangani dan mengelola Jawa Tengah patut diangcungi jempol.

Beberapa kebijakan Ganjar banyak yang mendapatkan apresiasi masyarakat dan strategi Gubernur Jawa Tengah ini dalam mengambil hati masyarakatnya melalui media sosial.

Melalui media sosial seperti YouTube, Instagram ataupun Twitter Ganjar membagikan seluruh kegiatannya termasuk kegiatannya dalam menjalankan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah.

Hal itu tak pelak mengundang perhatian masyarakat luas terutama anak-anak muda. Perpaduan antara prestasi serta strategi medsos nya tersebut membuat Ganjar Pranowo menjadi nomor satu dalam hal perebutan kursi Presiden untuk saat ini..

Tapi peluang Ganjar tersebut menemui pertentangan dari partainya sendiri yaitu PDIP. Sejak awal PDIP memang tidak berencana mamasukan nama Ganjar Pranowo masuk kedalam capres/cawapres yang akan diusung partai berlambang banteng tersebut.

Pertentangan tersebut semakin nyata saat salah satu kader yang juga Ketua DPP PDIP bidang pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto. Dilansir dari kanal berita Tribun ada transkip percakapan telepon yang berisi ketidaksukaan Bambang terhadap ambisi Ganjar menjadi Capres. Secara terang-terangan Bambang pun juga menilai sikap Ganjar terkait ambisinya menjadi presiden sudah kelewatan

Seakan ingin memberi dukungan terhadap sikap Bambang, Puan Maharani pun terlihat tidak suka atas ambisi Ganjar tersebut. Walaupun tidak mengungkapkannya secara langsung tetapi hal itu terlihat kala tidak diundangnnya Ganjar Pranowo saat acara pengarahan kader PDIP di Semarang, Jawa Tengah pada bulan Mei yang juga dihadiri Puan Maharani.

Ganjar yang seorang Gubernur dan kader PDIP harusnya ada dalam acara tersebut. Ini menunjukan adanya keretakan hubungan antara Ganjar Dan Puan Maharani.

Puan Maharani dan Ganjar Pranowo
Puan Maharani dan Ganjar Pranowo

Puan Maharani dan Ganjar Pranowo

Puan Maharani sendiri merupakan tokoh sentral PDIP setelah sang ibu. Dilihat dari sikap Megawati terhadap Puan terlihat bahwa sang Ketum menginginkan putrinya menjadi suksesornya kelak.

Dengan hegemoninya di partai yang ‘menguasai’ pemerintahan, membuka jalan mudah bagi Megawati untuk menempatkan putrinya tersebut di posisi penting di pemerintahan seperti Ketua DPR.

Hal tersebut untuk mempersiapkan Puan menggapai tampuk tertinggi kekuasaan RI. Dan hal inilah yang menunjukan bahwa PDIP berpotensi akan mengusung Puan Maharani dalam Pemilu 2024.

Ambisi Ganjar Pranowo pun juga sangat beralasan. Jika dilihat dari eklektabilitas Ganjar memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan kader-kader PDIP yang lain. Membuat peluang Ganjar memenangkan Pemilu lebih tinggi dibandingkan kader-kader yang lain.

Konflik seperti Ganjar dan Puan adalah hal yang biasa dalam organisasi terutama dalam Partai Politik. Yang terpenting di sini begaimana PDIP dapat mengelola konflik tersebut.

Jika dirunut dari sejarahnya PDIP sering kali dilanda konflik. Dalam tulisan karya Muhtar Haboddin yang berjudul Konflik Partai: Perbandingan Antara PKB Dan PDIP mengungkapkan bahwa konflik di dalam tubuh PDIP sering berakhir dengan perpecahan. Perpecahan tersebut akhirnya melahirkan partai-partai baru untuk menentang partai induknya (PDIP)

Walaupun belum ada sikap dukungan terhadap ganjar dari sebagian kader PDIP tapi bukan tidak mungkin ada beberapa kader PDIP yang realistis akan peluang Ganjar di Pemilu 2024 nanti. Dan kader-kader ini diprediksi akan menentang jajaran elit di PDIP jika menghambat jalan Ganjar untuk menjadi capres. Dan di saat itulah konflik di tubuh PDIP akan semakin besar.

Di sinilah peran Megawati sebagai sosok sentral di perlukan. Hegemoni Mega di PDIP sebagai balancer sangat penting dalam dinamika politik partai. Hal itu dapat dilihat di mana PDIP adalah Parpol yang cenderung kondusif dibandingkan partai-partai lain selama 10 tahun terakhir.

Megawati sebagai ketum harus bijaksana dalam menyelesaikan konflik tersebut. Perlu diingat bahwa dalam memenangi pemilihan presiden tidak cukup berbekal pengalaman menjalankan roda lembaga pemerintahan saja tetapi yang terpenting adalah bagaimana meraih simpati publik.

Hal tersebut yang menjadi kekurangan Puan Maharani. Jika dilihat dari elektabilitas Puan tertinggal jauh dari Ganjar yang mengkantongi nilai tidak sampai 2 persen.

Ganjar sendiri adalah salah satu aset yang penting bagi PDIP selain Jokowi. Peran Ganjar sebagai obat pemulih reputasi PDIP saat beberapa kadernya terjerat kasus korupsi tidak boleh disepelekan.

Adalah suatu kerugian besar jika Gubernur tersebut akhirnya memisahkan diri dari PDIP dan bergabung dengan partai yang dapat mengakomodasi ambisinya yang akhirnya berbalik menantang Megawati.

Walapun pada akhirnya Ganjar Pranowo akhir-akhir ini cendurung membantah dan menghindari pertanyaan yang berbau capres tapi hal ini melahirkan berbagai pertanyaan.

Sikap Ganjar tersebut dikarenakan murni menghormati PDIP dan Megawati atau hanya untuk menciptakan suasana kondusif Parpol untuk sementara waktu? Menarik menantikan kiprah Gubernur yang satu ini. (Penulis: Sonny Arya)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel