Amerika Enggak Pernah Puas Menuduh China

·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang baru-baru ini dipublikasikan memunculkan pertanyaan baru tentang asal muasal Virus Corona jenis baru, SARS-CoV-2 atau COVID-19, yang lolos dari laboratorium.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tiga karyawan Institut Virologi Wuhan di China mencari perawatan di rumah sakit pada November 2019, kira-kira ketika SARS-CoV-2 diperkirakan mulai beredar di negara tersebut. Institut itu bekerja dengan Virus Corona yang ditemukan pada populasi hewan.

Baca: 5G Telkomsel Bukti Tangguhnya Indonesia saat Pandemi

Namun, tidak jelas seberapa sakit para peneliti itu atau apa gejalanya. Dalam sistem medis di China, mencari perawatan medis langsung dari rumah sakit daripada klinik rawat jalan adalah hal yang umum. Dengan begitu tidak ada informasi apakah karyawan tersebut rawat inap atau pasien rawat jalan.

Varian SARS-CoV-2 bermutasi secara teratur dan beberapa dari mutasi tersebut terkait dengan perubahan dalam seberapa efektif penularannya, menurut situs Science Alert, Kamis, 27 Mei 2021.

Wabah virus yang paling awal dilaporkan terjadi di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan. Awalnya, ada yang berspekulasi bahwa virus itu berpindah dari hewan ke manusia di pasar, karena hewan hidup dipelihara dan dijual di sana.

Namun, pasar basah mungkin bukan situs asli penyebarannya. Kasus awal COVID-19 kemungkinan dari kota yang tidak ada hubungannya dengan pasar itu, serta tidak ditemukannya SARS-CoV-2 di pasar hewan.

Sebaliknya, tampaknya pasar hanya tempat penyebaran super pertama yang tercatat. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan bahwa asal muasal virus yang paling mungkin adalah penyebarannya dari kelelawar ke hewan lain yang tidak dikenal, dan kemudian ke manusia.

Institut Virologi Wuhan adalah fasilitas biosafety level 4 pertama di China. Fasilitas itu dirancang untuk penelitian tentang patogen yang berpotensi berbahaya dan para peneliti mengambil tindakan pencegahan terhadap penularan aerosol.

Pada April 2020, wartawan memperoleh pesan yang ditulis oleh diplomat AS pada 2018 yang meminta lebih banyak dukungan untuk fasilitas tersebut. Pesan memperingatkan bahwa laboratorium kekurangan staf yang memadai dan pelatihan yang diperlukan untuk melakukan penelitian yang berpotensi berbahaya pada Virus Corona dengan aman.

Laboratorium ini belum membagikan data atau catatan setelah pandemi COVID-19. Pemerintah China juga tidak selalu terbuka pada awal pandemi. Misalnya, para pejabat telah menolak untuk menyediakan data mentah tentang penyakit musiman di negara tersebut pada musim gugur 2019.

Sebelumnya, COVID-19 diketahui kini sudah bermutasi dan varian baru ditemukan di Inggris. Varian baru tersebut juga dikabarkan mulai menyebar ke beberapa negara lainnya.

Kini, sebuah studi mengklaim bahwa COVID-19 sudah meningkat menjadi delapan kali lebih menular dibanding virus asli yang ditemukan di Wuhan, China. Para ilmuwan mengatakan bahwa strain baru dari virus ini yang disebabkan oleh mutasi, yang diberi label D614G, kini sudah jauh lebih menular serta paling dominan di dunia.