Amerika Pantau Roket China yang Menghunjam Bumi

·Bacaan 2 menit

VIVA – Komando Luar Angkasa Amerika Serikat sedang memantau ketat sebuah roket besar milik China, yang jatuh tak terkendali kembali ke Bumi dan diperkirakan menghantam atmosfer sekitar Sabtu malam waktu setempat.

Kemungkinan besar pendorong inti roket Long March 5B seberat 23 ton itu akan menyerang area yang tidak dihuni manusia, yakni di lautan. Sebelumnya, Stasiun Luar Angkasa Skylab Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) pernah jatuh tak terkendali ke Bumi pada 1979 dan bobotnya jauh lebih berat, 85 ton.

Bagian inti roket ini kembali memasuki Bumi setelah lebih dari seminggu berhasil meluncurkan Tianhe, modul inti untuk pembangunan stasiun luar angkasa China ke orbit, menurut situs Space, Sabtu, 8 Mei 2021.

Bagian Long March 5B diperkirakan akan masuk kembali ke Samudera Hindia pada Sabtu malam pukul 23:53 EDT atau Minggu 11:53 WIB, yang memakan waktu 11 jam, menurut Aerospace Corp yang melacak pendorong roket jatuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin mengatakan mereka sedang melacak dengan cermat tahap inti dari roket dan sebagian besar diklaimnya akan terbakar tanpa membahayakan di atmosfer. "Kemungkinan kerusakan di lapangan sangat rendah," ujarnya.

Konon, ini adalah kali kedua roket China jatuh tak terkendali. Pada tahun lalu potongan roket dilaporkan menghantam desa-desa berpenduduk di Pantai Gading, Aftika Barat yang untungnya tidak memakan korban.

Ada banyak ketidakpastian tentang di mana dan kapan bagian inti roket itu akan menghantam, karena lokasinya bergantung pada ketinggian atmosfer bumi saat ini (yang bervariasi dengan aktivitas matahari), sudut badan roket saat menghantam atmosfer, dan ukuran kepingan yang berhasil melewatinya tanpa terbakar.

"Kemiringan orbit roket sebesar 41,5 derajat, berarti masuk kembali bisa sejauh utara Chicago, New York City, Roma dan Beijing serta selatan sejauh Selandia Baru dan Chili," tulis Aerospace Corp.

Militer AS memantau situasi dengan cermat, bersama dengan Gedung Putih. Keduanya mengatakan masalah itu adalah pengingat bagi negara-negara peluncur ruang angkasa untuk bertanggung jawab atas puing-puing luar angkasa setelah meluncurkan sesuatu ke orbit.

"Komando Luar Angkasa AS mengetahui dan melacak lokasi Long March 5B China di luar angkasa, tetapi titik masuk yang tepat ke atmosfer Bumi tidak dapat ditentukan sampai beberapa jam setelah masuk kembali," tulis mereka dalam pernyataan.

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin mengatakan departemen tersebut tidak memiliki rencana untuk menembak jatuh puing-puing ruang angkasa, seperti yang dilakukan para pejabat selama latihan uji coba dengan satelit militer AS USA-193 (NROL-21) pada tahun 2008.

"Kami tidak punya rencana untuk menembak jatuh roket. Kami berharap itu akan mendarat di tempat yang tidak akan membahayakan siapa pun, mudah-mudahan di lautan atau tempat seperti itu," imbuhnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel