Amerika Serikat Akui Kehebatan Senjata dan Militer Rusia

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Lloyd Austin memuji Rusia yang memiliki senjata dan militer hebat. Hal itu diungkapkan Austin dalam Forum Keamanan Internasional Halifax di Kanada pada Sabtu.

Namun demikian, kata Austin, kehebatan militer dan senjata Rusia hingga kini belum memungkinkan Rusia untuk mencapai kemenangan melawan Ukraina.

"Anda tahu, Rusia memiliki militer yang besar dan senjata yang mengesankan, "tetapi ini" tidak membantu mereka menang dalam penaklukan dan kekejaman," ujarnya, dikutip dari Russia Today, Senin (21/11).

Dalam forum itu, Austin juga memuji bagaimana Presiden AS, Joe Biden dapat menggandeng negara-negara lain untuk membantu Ukraina melawan Rusia sehingga Ukraina dapat mengambil wilayah yang diduduki Rusia.

Austin juga menyatakan AS akan mendukung Ukraina selama konflik berlangsung karena hasil konflik ini akan menentukan arah keamanan global ke depannya.

Meski mendukung, namun dia menambahkan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak akan ikut campur langsung dalam konflik ini kecuali salah satu negara anggota diserang Rusia.

Bagi Austin, pertahanan adalah sifat dari pakta pertahanan militer. Karena itu AS kembali menambah prajurit-prajuritnya untuk ditempatkan di Eropa. Jumlah prajurit yang ditempatkan AS pun diyakini telah mencapai 100.000 personel.

Terdapat beberapa prajurit yang ditempatkan pada wilayah NATO di Eropa Timur, seperti Polandia.

Baginya, prinsip dasar demokrasi sedang terancam dan kepemimpinan AS sebagai pembentuk dunia pasca Perang Dunia II tetap menunjukkan peran kunci AS di dunia.

Sebelumnya mantan presiden Rusia yang menjabat sebagai Kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev yakin kalau Rusia bukan lagi menghadapi Ukraina saja, melainkan NATO dan semua negara-negara Barat.

Rusia berkali-kali menyatakan Barat telah memperpanjang konflik yang terjadi di Ukraina. Sebelum konflik terjadi pun, Rusia kerap memberikan NATO usulan arsitektur keamanan Eropa, namun proposal itu ditolak mentah-mentah.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]