Amerika Serikat Bakal Terima Turis Asing yang Sudah Divaksinasi Penuh Tanpa Karantina

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat berencana melonggarkan pembatasan perjalanan untuk semua pelancong asing yang sudah divaksinasi. Rencana itu akan mulai diberlakukan pada awal November 2021, kata Gedung Putih pada Senin, 20 September 2021.

Kebijakan itu diambil setelah aturan sebelumnya menyebabkan kemarahan di Eropa sehingga AS menyeragamkan persyaratan untuk semua wisatawan internasional yang masuk via udara. Aturan baru akan mensyaratkan semua pendatang dari luar negeri yang tiba di AS menunjukkan bukti mereka sudah divaksinasi penuh.

Dilansir dari CNN, Selasa (21/9/2021), Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih, Jeff Zients mengatakan tenggat waktu yang ada akan dimanfaatkan untuk mempersiapkan seluruh badan yang terlibat dan pihak maskapai. "Pencabutan pembatasan perjalanan ke AS dari beberapa negara akan disambut sebagai kabar baik untuk ribuan warga negara asing dengan keluarga yang tinggal di AS yang terpisah selama hampir masa pandemi," ujarnya.

Pemerintah, kata Zients, juga akan mengambil langkah mitigasi untuk menekan penyebaran virus Covid-19 di tiga area, yakni testing, pelacakan kontak, dan penggunaan masker. Warga negara asing dan warga AS yang sudah divaksinasi penuh yang tiba di negara itu akan diwajibkan untuk menunjukkan hasil negatif tes Covid-19 yang diambil maksimal tiga hari sebelum jadwal penerbangan mereka.

Penumpang yang sudah divaksinasi tidak akan diwajibkan menjalani karantina begitu tiba di AS. Sementara, warga AS yang kembali tanpa divaksinasi akan menjalani tahap pengecekan yang lebih ketat. Zients mengatakan, itu termasuk tes Covid-19 sehari sebelum keberangkatan dan tes tambahan saat mereka kembali.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS juga berencana mengeluarkan perintah pelacakan kontak dengan meminta maskapai mengumpulkan informasi dari pelancong luar negeri, termasuk nomor ponsel dan alamat surel. Hal ini demi memperingatkan pelancong atas potensi terpapar. Maskapai juga akan diminta terus melacak kontak informasi selama 30 hari.

"Ini memungkinkan CDC, pemerintah negara bagian, dan pejabat kesehatan publik lokal menindaklanjuti keberadaan pelancong itu dan mereka yang berada bersamanya bila orang itu potensial terekspos Covid-19 dan patogen lainnya," kata Zients, seraya menambahkan persyaratan baru akan digunakan lebih luas ke depan untuk membantu melindungi ancaman kesehatan publik di masa depan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Merujuk CDC

Ilustrasi wisatawan Amerika Serikat (Dok.Pexels/Kendall Hoopes)
Ilustrasi wisatawan Amerika Serikat (Dok.Pexels/Kendall Hoopes)

Panduan itu akan berlaku untuk semua perjalanan internasional. Zients mengatakan bahwa Gedung Putih akan merujuk CDC terkait definisi 'divaksinasi penuh', termasuk kualifikasi vaksin yang diterima. Sejauh ini, vaksin AstraZeneca belum disetujui penggunaan daruratnya di AS, tetapi digunakan secara luas di Eropa dan bagian dunia lain.

Perkembangan ini merupakan langkah awal untuk memperbaiki konflik yang muncul antara pemerintahan Biden dan pejabat di Eropa. Pertengkaran muncul antara Amerika Serikat dan Prancis mengenai kesepakatan untuk melengkapi Australia dengan kapal selam bertenaga nuklir, yang membuat Prancis kehilangan kontrak untuk menyediakan kapal selam konvensional. Para pemimpin Eropa juga menilai Biden kurang berkonsultasi terkait Afghanistan.

Di sisi lain, kebijakan ini juga akan disambut baik oleh industri perjalanan yang terlah melobi pemerintah federal agar mencabut sejumlah aturan yang mencegah wisatawan internasional. Pihak maskapai, perhotelan, dan layanan lainnya menyuarakan dukungannya untuk membolehkan wisatawan yang sudah divaksinasi kembali masuk Amerika Serikat.

Zients menyatakan bahwa pemerintah "tidak mengambil tindakan apa pun" ketika ditanya tentang kemungkinan mandat vaksin untuk orang Amerika yang bepergian ke dalam negeri. Dan dia mengatakan tidak ada pembaruan aturan yang ada tentang penyeberangan perbatasan darat dengan Kanada dan Meksiko.

Ketegangan Eropa dan AS

Ilustasi Amerika. (dok. Paul Weaver/Unsplash)
Ilustasi Amerika. (dok. Paul Weaver/Unsplash)

Kebijakan pelarangan perjalanan AS berlaku sejak awal pandemi yang dimulai dengan pembatasan perjalanan dari China oleh pemerintahan Trump pada Januari 2020. Trump kemudian menambahkan negara-negara yang tergabung dalam zona Schengen ke dalam daftar pembatasan perjalanan, termasuk Prancis, Jerman, Italia, bersamaan dengan Irlandia dan Inggris. Sementara, Brazil, Afrika Selatan, dan India ditambahkan terpisah.

Biden terus melanjutkan kebijakan pembatasan perjalanan non-esensial meski tingkat vaksinasi di Eropa terus meningkat. Hal itu menyusul situasi pandemi yang tidak terprediksi dan kemunculan varian Delta. Namun, hal itu memunculkan kemarahan dari Eropa, khususnya dari negara yang berhasil menekan kasus positif menyusul keberhasilan vaksinasi.

Di sisi lain, Eropa sudah membuka perbatasannya untuk warga Amerika Serikat sejak Juni 2021. Namun, sikap AS mendorong mereka menghilangkan AS dari daftar negara aman yang memungkinkan warganya tidak perlu dikarantina atau diminta menguji Covid-19.

5 Fakta Penting Vaksin Covid-19

Infografis Yuk Ketahui 5 Fakta Penting Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Infografis Yuk Ketahui 5 Fakta Penting Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel