Amerika Tuduh China Sengaja Ciptakan COVID-19 Buat Tujuan Mengerikan

Radhitya Andriansyah

VIVA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China sepertinya akan semakin memanas. Sebab, militer AS kembali menuduh Negeri Tirai Bambu sebagai pencipta Virus Corona (COVID-19) untuk tujuan yang mengerikan. Salah satunya, kampanye kekuatan di wilayah Laut China Selatan.

Virus COVID-19 ditemukan pertama kali di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019. Setelah itu, penyebaran virus mematikan itu terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sehingga, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi dunia pada 30 Januari 2020.

Menurut data WHO yang dikutip VIVA Militer, sejak 1 Desember 2019 hingga saat ini COVID-19 sudah menjangkiti 6,9 juta orang di 188 negara. Tak cuma itu, Virus Corona juga sudah membunuh 400 ribu orang lebih.

AS menjadi negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di dunia. Lebih dari 1,9 juta orang positif terjangkit. Sementara itu, sudah 111 ribu orang meninggal dunia akibat virus ini.

VIVA Militer: Armada laut Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN)

Dengan fakta tersebut, AS terus menerus menuduh China sebagai negara pencipta COVID-19. AS mengklaim, China sengaja membuat virus ini untuk berbagai tujuan. Salah satu yang menjadi tuduhan adalah, China sengaja membuat COVID-19 untuk mengalihkan perhatian dunia dalam kampanye kekuatan untuk menguasai Laut China Selatan

Sebuah pernyataan dilontarkan oleh Komandan Pasukan AS Jepang dan Angkatan Udara Kelima di Pangkalan Yokota, Letnan Jenderal Kevin Schneider. Dalam pengamatannya, Schenider menyebut melihat aktivitas Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di Laut China Selatan.

"Melalui krisis COVID-19, kami melihat lonjakan aktivitas maritim (China)," ujar Schneider kepada Reuters.

Schneider juga menyebut bahwa peningkatan aktivitas militer China tak hanya di Laut China Selatan, tetapi juga di Laut China Timur. Di mana dalam hal ini, ada sengketa wilayah dengan Jepang. 

VIVA Militer: Pasukan Angkatan Laut Tentara Pembebasan China (PLAN)

Sputnik News juga melaporkan kesaksian Schneider yang juga cukup mengejutkan.  Schneider menyebut kapal-kapal yang melintasi Laut China Selatan, mendapat intimidasi dari kapal-kapal perang Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN).

"Saya tidak melihat sebuah palung di sana. Saya melihat sebuah dataran tinggi," kata Schneider.

Sejak awal 2020, militer China kerap menunjukkan kekuatannya di Laut China Selatan. Penenggelaman kapal ikan berbendera Vietnam, ancaman terhadap kapal perang Angkatan Laut Filipina, hingga klaim atas wilayah di Kepulauan Paracel dan Kepulauan Macclesfield, adalah sederet bukti kampanye militer China di wilayah perairan tersebut.