Amrih, pelopor digitalisasi aksara Jawa di Yogyakarta

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 3 menit

Melestarikan budaya bangsa bisa dengan beragam cara, salah satunya seperti yang dilakukan beberapa sekolah di Yogyakarta yang menggunakan aksara Jawa secara digital dalam pembelajaran sehingga aksara peninggalan nenek moyang itu tidak punah.

Seorang filolog yang bekerja di Dinas Kebudayaan Daerah Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja, telah memelopori digitalisasi aksara Jawa ini di daerahnya, dan sudah 10 tahun aksara itu sudah digunakan secara digital dalam pembelajaran sekolah.

Baca juga: Lomba website PANDI berlanjut ke aksara Lontara


Baca juga: Pendaftaran lomba web aksara Sunda diperpanjang

Amrih yang dulunya juga merupakan seorang guru Bahasa Jawa, telah menggabungkan aksara Jawa dengan teknologi sehingga bisa dipergunakan di komputer.

“Waktu itu saya minta izin kepada Kepala Sekolah untuk di SMA 2 Bantul pendidikan basis budayanya tidak ke hal yang bersifat benda, tapi justru main di karakter dan pola pikir anak dengan aksara (Jawa)."

"Hingga di SMA 2 Bantul itu dari ulangan harian sampai ulangan akhir semester full menggunakan aksara Jawa,” ungkap Amrih, seperti dikutip dari pernyataan pers, Minggu.

Amrih mengaku pola ini dirasa cukup efektif, yaitu dengan membiasakan diri menggunakan aksara Jawa pada komputer dalam pembelajaran sehari-hari, lambat laun siswa akan terpola dan mengenal aksara Jawa secara digital, sehingga dalam praktiknya mereka sudah terbiasa dan tidak kesulitan dalam menjawab soal-soal yang dituliskan dalam aksara Jawa secara online.

“Tahun 2010 waktu saya pertama jadi guru itu saya udah bilang di kelas, anak-anak saya giring ke lab. TIK (Laboratorium Teknologi Informasi dan Komunikasi) meskipun saya bukan orang TIK tapi ada fasilitas TIK saya manfaatin, karena sudah saya biasakan untuk ulangan harian online," terang Amrih.

Hal senada juga diungkapkan kerabat satu profesi Amrih. Menurut Bekti Pangastuti, digitalisasi aksara Jawa sangat memudahkan kegiatan belajar mengajar karena dengan adanya perangkat digital siswa lebih semangat dan lebih tertantang dalam mempelajari Aksara Jawa.

Penggunaan aksara Jawa dalam aplikasi perpesanan WhatsApp dan dalam pembelajaran di sekolah. (ANTARA/HO)
Penggunaan aksara Jawa dalam aplikasi perpesanan WhatsApp dan dalam pembelajaran di sekolah. (ANTARA/HO)

"Dulu awal mengajar pembelajaran aksara Jawa masih manual. Ketika Pak Setya Amrih masuk ke SMA 2 Bantul, dari sini awal digitalisasi Aksara Jawa sampai sekarang," terang Bekti yang juga mengajar aksara Jawa di SMA 2 Bantul.

Pengakuan juga datang dari Abdul Afif Rosyidi, seorang guru bahasa Jawa, yang mengatakan bahwa hingga kini digitalisasi aksara Jawa masih terus digunakan dalam kegiatan belajar di SMA Negeri 1 Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurutnya, digitalisasi aksara Jawa sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini. Peserta didik sangat antusias, hal tesebut salah satunya terlihat dari pertanyaan dan respon peserta didik saat dikenalkan dengan aksara Jawa dalam dunia internet, baik di laptop maupun handphone.

Salah satu Alumni SMA 1 Sanden, Ageng Purwo Haryatno, menuturkan sekitar tahun 2011, semasa duduk di bangku SMA, ia diajarkan tentang bagaimana cara menggunakan aksara Jawa menggunakan komputer/laptop oleh Amrih.

Dalam perkembangannya aksara Jawa kini lebih responsif dan mudah diaplikasikan ke perangkat digital, mulai dari laptop hingga menggunakan telfon genggam, menurut Ageng hal ini dirasa sangat bermanfaat bagi kerabat yang menggunakannya

“Penggunaan aksara Jawa dalam ranah digital sangat bermanfaat bagi temen-temen yang bisa menggunakannya, baik itu untuk desain produk, dekorasi jalan dan lain-lain, terpenting bisa memperkenalkan kembali aksara Jawa dengan lebih mudah,” tambah Ageng.

Baca juga: Upaya daftarkan aksara Jawa jadi nama domain belum berhasil


Baca juga: PANDI umumkan pemenang lomba laman aksara Jawa


Baca juga: DIY dukung PANDI digitalkan aksara Jawa