Anak 2 Tahun Tak Perlu Minum Susu Tambahan, Ini Kata Dokter

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Air Susu Ibu (ASI) menjadi makanan utama bayi hingga usia 6 bulan dan berlanjut sampai dua tahun. Namun, tak sedikit anak-anak yang mengonsumsi susu tambahan usai usia dua tahun. Padahal, dokter menyebut hal tersebut tak perlu dilakukan orangtua.

Dokter Anak sekaligus konsultan laktasi, dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM, mengatakan bahwa susu tumbuh kembang yang kerap diklaim berbagai produk, nyatanya tak terlalu berperan besar pada anak. Menurutnya, anak yang sudah mendapatkan ASI, usai dua tahun tak perlu lagi mendapatkan susu tambahan terlalu sering.

"Sampai usia dua tahun memang diperlukan makanan cair. Kalau sudah mendapatkan ASI sampai dua tahun, kenapa ribut-ribut usia dua tahun ke atas perlu diberi susu formula?" ujarnya dalam acara virtual bertajuk ‘Peluncuran Dokumen Bahaya Terselubung Makanan Ultra Proses’, Jumat, 29 Januari 2021.

Bukan tanpa sebab, Dokter Utami menuturkan bahwa susu bubuk yang dijajakan di Tanah Air kerap mengandung gula yang tinggi sehingga kurang baik pada kesehatan. Hal itu sejalan dengan temuan dari Hellen Keller Indonesia (HKI) pada 100 susu pertumbuhan yang dijual pada Januari 2017 hingga Mei 2019. Hasilnya, 98 persen susu tersebut mengandung satu atau lebih dari gula tambahan.

Adapun 6 jenis gula yang paling sering ditemukan di produk susu antara lain sukrosa, laktosa, fruktooligosakarida, galaktooligosakarida, turunan madu, dan sirup glukosa padat. Terbukti juga, susu pertumbuhan tersebut rata-rata mengandung 5 gula tambahan berbeda.

"Susu pertumbuhan beredar di Indonesia berdasarkan Model Nutrient Profiling dari Food Standars Agency (FFA) Inggris termasuk kategori tidak sehat dengan kandungan gula tinggi," kata perwakilan HKI, dr. Dian Nurcahyati Hadihardjono.

Diketahui, susu pertumbuhan biasanya produk yang ditujukan untuk anak usia 1-3 tahun dalam bentuk cair atau bubuk yang berbahan dasar susu sapi. Jika anak sudah terlanjur suka dengan susu dan ingin menghentikan perlahan kebiasaan itu secara perlahan, Dian menyarankan orangtua untuk detail melihat label produk.

"Perlu biasakan baca label. Kalau tujuan hanya minum susu, kita hanya minum susu saja tanpa tambahan-tambahan itu (gula dan fortifikasi lain)," jelasnya.

Sementara itu, Dokter Utami juga menyarankan agar orangtua bisa menghentikan perlahan kebiasaan minum susu yang terlalu sering. Ia pun menegaskan, anak boleh mengonsumsi susu namun bukan menjadi rutinitasnya.

"Susu bukan tidak boleh tapi tidak perlu. Tidak saban hari, saban minggu, sekali-sekali saja," paparnya.