Anak Buah Mati Tertembak, Eks Panglima TNI Ngamuk Kejar Sang Pembunuh

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Jauh sebelum menduduki posisi Kepala Staf Kepresidenan Repiublik Indonesia (RI), Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko lebih dulu menghabiskan hidupnya sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Sebagai seorang prajurit, Moeldoko juga pernah ikut terjun dalam pertempuran di Timor-Timur dan Timur-Tengah.

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer (Akmil), Moeldoko adalah penerima penghargaan Adhi Makayasa. Penghargaan itu didapat Moeldoko, setelah menjadi lulusan terbaik Akmil 1981.

Sebagai seorang perwira, karier Moeldoko terbilang cemerlang. Ia pernah menjadi Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1/Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat), Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/Tanjungpura, dan Pangdam III/Siliwangi.

Tak berhenti sampai di situ, pada 2013, Moeldoko diangkat menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad). Di tahun yang sama, Moeldoko pun ditunjuk jadi orang nomor satu di TNI Angkatan Darat dengan jabatan sebagai Kasad. Pada 2013 juga, Moeldoko meraih pencapaian tertinggi setelah ditunjuk sebagai Pangluma TNI.

Punya karier yang cemerlang, bukan berarti Moeldoko meraihnya dengan cara yang mudah. Pria kelahiran Kediri 8 Juli 1957, harus bekerja sangat keras. Termasuk, melaksanakan kewajiban tugas bertempur.

Dalam pantauan VIVA Militer dalam acara #CLOSETHEDOOR Corbuzier Podcast yang ada di Youtube, Moeldoko menceritakan pengalamannya bertempur kepada Deddy Corbuzier. Menurut Moeldoko, ia hanya pernah ikut bertempur dan bukan perang.

Sebab dalam pandangannya, perang memiliki skala yang lebih besar dan unsur politik. Sementara, pertempuran menurutnya lebih ke strategi dan taktik. Disebut Moeldoko juga, sebuah pertempuran sarat dengan tipu muslihat.

***

"Pertempuran itu tipu muslihat, kalau perang itu skalanya lebih ke politik. Kalau ini lebih ke strategi dan taktik dalam pertempuran. Memang di situ akal-akalan, siapa yang banyak akalnya akan bisa mengelabui lawan, tidak melakukan sesuatu yang flat, tidak monoton. Wah itu bahaya betul, perang itu penuh dengan jebakan, penuh dengan tipu muslihat," ujar Moeldoko.

"(Saat menghadapi pertempuran) sudah lupa dengan nyawa. (Setiap saat bisa tewas) ya tahu kita. Cuma kan doktrin kita lebih baik pulang nama daripada kalah dalam pertempuran. Jadi enggak ada rasa takut," katanya.

Yang mencengangkan adalah saat Moeldoko mendapat pertanyaan soal rasa takut dalam pertempuran. Moeldoko mengaku, ia terkadang sampai larut dalam pertempuran sampai-sampai tak ingat risikonya.

Moeldoko tahu persis, dalam setiap pertempuran nyawanya bisa melayang setiap saat. Akan tetapi, doktrin yang telah ia dapatkan di pendidikan dan latihan membuatnya kadang lupa risiko tinggi yang bisa saja menghampirinya. Malahan Moeldoko ingat, pertempuran akan semakin sengit jika dalam keadaan lapar.

Pernah suatu saat, Moeldoko dan anak buahnya memunguti makanan-makanan anggota Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) yang tercecer. Sambil baku tembak, ia dan pasukannya memakan sisa-sisa makanan musuh.

"Kadang lupa sama nyawa. Jadi (perang) kayak hiburan begitu. Apalagi kalau perut lapar, kadang-kadang lupa tembakan. Makanan GPK yang tercecer kita ambil dulu kita makan karena lapar," ucap Moeldoko melanjutkan. katanya.

Cerita Moeldoko lain dalam pengalamannya bertempur adalah menyaksikan anak buahnya tewas tertembak, dengan mata kepala sendiri. Jika bagi orang biasa, momen itu jelas akan memukul rasa percaya diri. Secara psikologis maka yang melihat akan menjadi takut untuk bertempur.

***

Ternyata, hal itu tidak berlaku bagi Moeldoko. Meskipun mengakui ada anak buahnya yang menjadi ketakutan, Moeldoko justru membangun mental untuk melakukan pembalasan. Moeldoko mengaku, pernah suatu saat ia mengejar musuh penembak anak buahnya.

Saking emosi melihat anak buahnya tewas di depan matanya, tanpa mempedulikan keselamatan Moeldoko sampai melompat untuk mengejarnya. Sampai-sampai, ada salah satu anak buahnya yang menarik Moeldoko agar tidak jadi sasaran tembak musuh berikutnya.

"Ya, (ada anak buah tewas tertembak) persis di depan mata saya. Saya waktu di depan, begitu prajurit saya kena saya loncat mengejar mereka. Salah satu Bintara saya mengejar saya untuk menarik saya. Karena kalau enggak saya mungkin bisa bablas juga. Seperti itu lah kondisinya," ujar Moeldoko lagi.

"Justru yang kita bangun membalas dendam, bukan kita ketakutan. Saya menggerakkan pasukan saya untuk mengejar mereka. Kita enggak boleh takut dalam menghadapi situasi seperti itu," katanya.