Anak Kiai Jombang Dipindah ke Sel Campur Tahanan Umum di Rutan Medaeng

Merdeka.com - Merdeka.com - Usai menghuni sel isolasi selama 7 hari, terdakwa kasus dugaan pencabulan santriwati Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi, kini telah dipindahkan ke sel umum di Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo. Ia menghuni sel tersebut bersama dengan 60 tahanan umum lainnya.

Pemindahan putra mahkota Pondok Pesantren Shiddiqiyah, Ploso, Jombang ini dibenarkan oleh Karutan Klas I Surabaya di Medaeng, Wahyu Hendrajati Setyo Nugroho. Ia mengatakan, putra Kiai Muchtar Mu’thi itu kini menghuni sel umum bercampur dengan puluhan tahanan yang lain. Setidaknya, ada sekitar 60 tahanan yang berada dalam satu sel tersebut.

"Sudah dipindahkan beberapa hari yang lalu. Ditempatkan di sel umum. Satu blok Isi 60 orang," kata Hendra, Senin (18/7).

Ia pun memastikan tak ada perlakuan khusus kepada Bechi. Tidurnya pun diakui hanya beralaskan kasur matras.

"(Tidurnya) alas kasur matras," ucapnya.

Hendra menambahkan, saat ini Bechi tengah dalam kondisi yang sehat. Selama di rutan ia juga bersosialisasi dengan para tahanan yang lain.

"Baik seperti yang lain, bersosialisasi, maksudnya tidak pendiam gitu ya. Dia bersosialisasi. Dia interaksi normal saja," pungkasnya.

Diketahui, Bechi telah dijebloskan ke Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo sejak Jumat (8/7), usai drama menyerahkan diri Kamis (7/7) lalu.

Moch Subchi Azal Tsani akhirnya menjalani sidang dakwaan, di Ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (18/7) lalu.

Sidang digelar tertutup. Bechi hadir secara daring melalui teleconference dari tempat ia ditahan, Rutan Klas I Medaeng, Sidoarjo. Dari layar, ia terlihat mengenakan rompi oranye.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim, Mia Amiati, yang langsung turun menjadi bagian tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), mengatakan bahwa Bechi didakwa sejumlah pasal berlapis.

"Kami mendakwa degan pasal berlapis dengan dakwaan alternatif dengan Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan maksimal ancaman pidana 12 tahun," kata Mia.

"Kemudian pasal 289 KUHP (tentang perbuatan cabul) dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun dan 294 KUHP ayat 2 kedua ancaman pidana 7 tahun juncto pasal 65 ayat 1 KUHP," tambahnya. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel