Anak Malas Mandi dan Suka Ngamuk? Ini Solusinya

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA – Belajar itu bisa dari mana saja. Tidak belajar di bangku sekolah atau kuliah. Melihat cara orangtua memandikan anak, juga adalah termasuk proses belajar.

Termasuk pengalaman dari cerita hari ini. Saya dapat pelajaran berharga dari cucu Seruni Alifia Akbar (Runi, 3 tahun) saat dimandikan oleh ayahnya. Begini ceritanya....

Pagi-pagi cucu dan ayahnya sudah "perang urat syaraf". Si cucu dikasih sarapan, ngamuk. Ditinggal sebentar, teriak-teriak. Dikasih mainan, berantakan karena dilempar.

Sesaat kemudian, aksi ribut-ribut pagi tersebut, mendadak hilang. Sepi. Tak terdengar suara heboh, dan huru-hara lagi. Yang ada, si ayah terlihat datang menggendong si cucu Runi -- yang entah kenapa, kok tiba-tiba sudah bisa anteng (diam) di gendongan.

Kok bisa begitu? diapain nih cucuku? Ini dia jawabannya. "Setiap kali Runi ngamuk, lempar mainannya, saya bawa aja ke kamar mandi. Dimandikan. Kepala dan badannya diguyur air. Selesai itu, dipakaikan baju rapi. Selanjutnya dikembalikan ke tempatnya semula bermain," kata ayahnya si cucu Runi, yang tak lain ya anak saya juga hehe..

Hasilnya? Ya si cucu Runi selain anteng, ya kembali riang gembira dengan mainan dan cemilannya.

Sekali waktu, si nenek Runi (istri saya) merayu dia untuk mandi pagi. Tapi gagal. Mungkin, ya, karena belum tahu triknya. Si Nenek cuma bilang, "Runi mau mandi sendiri, apa dimandikan sama nenek?".

Dari jauh, saya nyeletuk. "Kalau Runi gak mau dimandikan sama nenek, biar kakek aja yang dimandikan sama nenek, eeeeaaahhh.....".

Kami, nenek dan kakek, tertawa ngakak. Biasa, sekadar selingan. Kalau pun jadi dimandiin nenek, kakek sih nurut aja, hahaha....

Nah, dari kisah di atas: kepala cucu Runi diguyur air saat mengamuk, emosian dan bikin rusuh, saya dapat pelajaran berharga, bahwa: "menghadapi orang pemarah dan suka emosian, ya bawa aja ke kamar mandi. Mandiin dia, guyur air kepalanya. Dijamin jadi anteng....hahaha...."

Marah Berlebihan, Merusak Kondisi Kesehatan

Terkait soal marah dan emosi, menurut dr. Nurul Afifah dalam buku karyanya Don’t Be Angry Mom (2019), marah yang berlebihan adalah sesuatu yang merusak, termasuk kondisi kesehatan.

Menurut dia, seperti dikutip Kompas.com, kebiasaaan marah dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.

Penjelasannya, jantung dituntut bekerja ekstra ketika Anda marah.

Organ vital ini, kata dr Nurul Afifah, jadi memompa darah lebih kuat, sehingga darah mengalir lebih banyak setiap detiknya ketimbang dalam keadaan normal.

"Saat marah, pembuluh darah juga akan kehilangan kelenturan dan berubah menjadi kaku," kata dr Nurul, founder @bundatalk.

Akibatnya, pembuluh darah tidak dapat mengembang saat jantung memompa darah melalui arteri.

Kondisi saat peredaran darah berlebih ditambah pembuluh darah kaku itulah yang menyebabkan tekanan darah meningkat.

Nah, kalau Anda ketemu orang "julid", nyinyir, suka ngebuli, emosian, suka mengamuk tanpa alasan, suka gelar aksi demo (bayaran, apa lagi), ya gampang aja. Seret ke kamar mandi, guyur kepalanya dengan air.

Kalau perlu, ceburin ke lokasi banjir biar hanyut bersama pikiran dan otak dia yang kotor. Alias PIKTOR, pikiran kotor (Nur Terbit)