Anak muda Korea Selatan ikuti pelatihan Korps Marinir di pantai

Oleh Daewong Kim

POHANG, Korea Selatan (Reuters) - Ratusan pelajar Korea Selatan bertahan menantang suhu musim dingin yang membeku minggu ini untuk menguji diri mereka menghadapi kerasnya kamp pelatihan Korps Marinir.

Pertama dimulai pada 1997, kamp selama seminggu bertujuan untuk menantang peserta mengenai kekuatan fisik mereka, tetapi juga menginspirasi calon potensial untuk perekrutan anggota militer Korea Selatan.

Hampir 600.000 tentara Korea Selatan ditempatkan di seluruh negara itu, yang sebagian besar bertujuan untuk menghalangi Korea Utara melintasi Zona Demiliterisasi yang dijaga ketat (DMZ) dan membelah kedua negara.

Mengenakan seragam tempur, baik pria dan maupun wanita muda naik kapal amfibi lapis baja pada Selasa dalam simulasi serbuan pantai tiruan, termasuk dengan menggunakan bom asap.

Kegiatan yang lebih menuntut kondisi fisik prima itu, termasuk diantaranya membawa perahu karet yang berat di sepanjang pantai, berlari melalui rintangan dan belajar berbaris.

"Saya terkejut karena pelatihan itu lebih menantang daripada yang saya kira, tetapi saya berhasil," Moon Eun-ji, seorang siswa sekolah menengah berusia 18 tahun yang ingin menjadi seorang Marinir.

Kim Tae-un, seorang guru pendidikan jasmani, mengatakan dia membawa murid-muridnya ke kamp untuk membantu mereka mengembangkan kekuatan mental.

"Meskipun sangat sulit, kami bersenang-senang dengan mengandalkan satu sama lain, saling membantu dan berkomunikasi," katanya.

Dihadapkan dengan menurunnya jumlah pria muda yang memenuhi syarat, militer Korea Selatan berencana untuk mengurangi jumlah pasukan tugas aktif dari hampir 600.000 menjadi 500.000 pada 2025, dan menghabiskan miliaran dolar untuk senjata baru guna memodernisasi pasukan, menurut Kementerian Pertahanan.

Korea Selatan adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki wajib militer wajib untuk semua pria berbadan sehat, tetapi hal itu semakin mendapat sorotan, ketika Mahkamah Agung mengizinkan adanya keberatan atas dasar hati nurani untuk pertama kalinya pada 2018.

Pemerintah juga mengumumkan bahwa masa latihan militer akan dipersingkat, menjadi 18 bulan dari sebelumnya 21 bulan.