Anak Perempuan Pertama Dituntut Mandiri karena Keadaan, Hatinya Tegar

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: R

Sejak kecil hingga kini dewasa aku belum benar-benar tahu bagaimana kasih sayang dari seorang papa atau mama. Bukan karena aku yatim piatu. Tapi seolah aku merasa seperti itu.

Semua berawal dari perceraian antara mama dan papa, saat usiaku di bawah 5 tahun. Tapi aku bersyukur, aku masih punya nenek dan kakek yang bisa menggantikan peran mereka. Perjuangan yang mereka lakukan saat merawat, membesarkan, dan membiayai pendidikan ku hingga lulus SMK sangat besar dan sangat tulus.

Sebelum bercerai, perjuangan mamaku saat mengandung aku sangatlah berat, mama harus tetap membiayai diri bahkan keluarga/tetap bekerja demi makan sehari-hari. Padahal sudah hamil besar.

Pada suatu ketika mama hanya punya stok mi lalu papa tidak menyukainya, dan menginjak makanan tersebut. Perjuangan untuk berjualan nya sudah cukup berat, namun seperti tidak dihargai ketika tidak menyukai makanan tersebut. Jadi selain menyakiti secara mental, fisik mama pun juga terluka karena papa.

Diasuh dan Dibesarkan oleh Nenek

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wongszeyuen
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wongszeyuen

Hingga tiba pada saatnya mama ingin melahirkan, dan untung saja ada nenek dan adiknya nenek yang datang ke kos-kosan tempat mama tinggal. Dan segera dilarikan di rumah sakit terdekat di dekat kos-kosan. Dan setelah persalinan, perlengkapan bayi pun mam ku belum ada, semua dibelikan oleh adiknya nenek.

Beliau juga sangat berjasa atas hidupku, selalu berbagi dan membantu dalam hal keuangan. Papa ternyata asik nonton bola saat mama melahirkan. Dan setelah berbagai cara dan upaya mama untuk mempertahankan pernikahan akhirnya mereka pun bercerai. Ya, aku lahir sebagai anak broken home.

Tidak lama setelah bercerai mamaku terkena gangguan jiwa. Dan akhirnya semua yang urus kehidupan aku sejak di bawah 5 tahun adalah nenek dan kakek, tapi aku tetap satu rumah sama mama.

Sejak TK hingga SMK semua yang urus tentang pendidikan aku adalah nenek. Mulai dari antar-jemput sekolah, ambil raport, tanda tangan wali di dalam raport, dan hampir segala hal yang harus berkaitan dengan orang tua, nenek aku yang sangat berperan. Dan aku sangat bersyukur punya nenek yang penyayang.

Tapi karena kisah mamaku yang disakiti seorang laki-laki, nenekku jadi sangat overprotektif pada segala aspek kehidupan ku. Dari kecil hingga aku dewasa, aku tidak pernah pergi atau jalan-jalan jauh bersama teman-teman, aku tidak pernah bermain hingga menginap di rumah teman sekalipun satu perumahan, aku tidak leluasa untuk bepergian kemanapun, ketika bermain aku dibatasi oleh jam pulang, kadang baru izin mau keluar sudah ditanya mau pulang jam berapa, kadang bersama teman terdekat pun yang perempuan juga harus mereka yang izin mau kemana, sama siapa, dan pulang jam berapa.

Jangankan main, untuk hal tugas kelompok saja aku selalu di SMS atau telepon untuk pulang lebih cepat, padahal sudah izin. Bahkan itu posisinya aku sudah SMK. Hingga pernah aku ditertawakan oleh teman, dan disebut anak emak banget.

Bahkan ketika sudah lulus SMK aku datang ke pernikahan teman, dan itu malam sekitar jam 7, karena teman dekatku hanya bisa datang jam segitu, dan aku nebeng atau numpang untuk barengan berangkat kesana. Dan ekspresi teman cowokku, "Loh kondangan malem? Tumben?Nggak dicariin emak?" Padahal posisinya udah lulus SMK dan udah kerja waktu itu.

Oh iya aku pun juga dilarang untuk pacaran dari jaman sekolah, hingga sudah kerja. Jadi tiap ada teman cowok antar pulang pas kerja suka diintrogasi gitu, padahal ya cuma teman. Itu alasan aku tak mengizinkan teman cowok antar atau jemput. Bahkan tiap ada yang mau main ke rumah aja aku larang, karena takut saja dikira pacar hehe.

Suatu ketika aku bekerja di Jakarta dan karena jauh dan lama di jalan jadi aku memutuskan untuk kos bersama teman perempuan ku saat SMK. Kebetulan kita kerja di tempat yang sama. Dan alhamdulillah karena urusan pekerjaan jadi aku diizinkan, namun kewajiban untuk pulang tiap Sabtu harus dipatuhi.

Karena nenek sangat sayang padaku, dan gampang kangen gitu sih, karena aku yang suka bercandain nenek atau ngobrol tentang apa pun panjang lebar. Sampai pada akhirnya setelah sholat subuh aku melihat ponselku, ternyata ada SMS dari Tante, dan jujur aku kaget, dan spontan air mataku berkaca-kaca.

Aku gak pernah membayangkan hal ini akan terjadi di hidupku, orang yang aku sayang jatuh sakit, badannya tidak bisa digerakkan, kakiknya tidak bisa untuk berjalan. Dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Aku kerja tak fokus, aku tak bisa pulang juga karena belum libur. Setelah itu aku menangis dengan dada yang terasa sangat sakit, seperti ingin menahan nangis tapi tidak bisa, karena takut membangunkan temanku yang sedang tidur.

Nenek yang Sangat Kucintai

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu

Ternyata nenek aku terserang penyakit stroke, yang artinya segala aktivitasnya selalu membutuhkan bantuan orang lain. Berjalan sendiri pun benar-benar tidak mampu. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja tapi pulang-pergi.

Aku lakukan hal ini senantiasa karena aku berharap kesembuhan nenek ku, dan karena aku benar-benar menyayangi nya, kebaikannya yang beliau berikan padaku lebih dari apa yang aku beri. Saatnya aku membalas jasanya, adalah ketika aku selalu berada di samping beliau, merawat beliau, dan mengabdikan diri pada beliau.

Hingga beliau kadang kasihan padaku karena pulang kerja masih harus kerja lagi, lembur ngerjain tugas hingga larut malam, sekitar jam 1 dan harus berangkat pagi jam 5. Dan akhirnya atas permintaan beliau aku disuruh untuk resign, dan hanya merawat beliau. Dan karena aku anaknya nurut, aku ikuti kemauan beliau.

Setelah resign aku tetap aktif untuk mengikuti lomba-lomba atau hal positif yang bisa menghasilkan uang/menambah ilmu baru, sambil merawat beliau. Setiap pagi aku selalu menyajikan sarapan pagi untuk seisi rumah, untuk mama, kakek, dan nenekku. Dan aku selalu menyuapi nenekku, karena sulit untuk makan sendiri, sekalipun bisa hanya menggunakan tangan kiri, dan itu pasti berantakan dan lama.

Jadi aku yang menyuapi, memberikan obat, mengganti pampers, memandikan, menyisiri, dan tidak lupa untuk beres-beres rumah, mencuci baju, menjemur, dan masih banyak aktivitas lain. Hal itu berlangsung mungkin kurang lebih sekitar 2 tahun.

Sampai pada akhirnya nenek meninggal, dan aku sangat terpukul saat itu, di hari ulang tahunnya, aku sudah menyiapkan kado untuknya, namun beliau belum sempat melihat apa isi kado tersebut. Hati siapa yang tidak sakit ketika kehilangan orang yang benar-benar mencintainya dan yang sangat dicintai?

Seperti sebuah mimpi namun ini nyata. Tidak ada yang pernah tahu usia kita sampai berapa, dan berapa lama kita bisa membahagiakan orang yang kita cintai. Semua yang di dunia hanyalah semu. Bisa datang dan pergi kapan saja. Tapi aku bersyukur aku ada saat beliau sakit, hingga akhirnya beliau meninggalkan aku dengan sejuta kenangan yang indah.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel