Analis Deutsche Bank Ungkap Penyebab Gejolak Harga Bitcoin

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin bergejolak pekan lalu seiring pengumuman dari China dan cuitan Elon Musk. Uang kripto bahkan mulai "tidak disayangi” di wall street setelah CIO UBS Mark Haefele mempertanyakan perlunya memiliki bitcoin dalam portofolio.

Analis Deutsche Bank menyebutkan tren dalam hal gaya hidup mungkin juga berlaku dalam bitcoin. Analis Deutsche Bank Marion Laboure dalam catatan penelitian berjudul Bitcoin: tren adalah tahap terakhir sebelum norak, mengutip dari mendiang ikon mode Karl Lagerfel.

“Apa yang benar untuk glamor dan gaya mungkin juga berlaku untuk bitcoin,” tulis dia dilansir dari yahoo finance, ditulis Rabu, (26/5/2021).

Ia menuturkan, sama seperti kecerobohan mode dapat terjadi secara tiba-tiba. “Kami baru saja menerima bukti mata uang digital juga dapat dengan cepat menjadi ketinggalan zaman,” kata dia.

Dalam pemikiran Laboure, ada sesuatu yang terjadi di pasar mata uang kripto dalam tiga bulan terakhir. “Yang dibutuhkan mata uang kripto untuk keluar dari gaya adalah suatu tweet dan pernyataan pemerintah China,” tulis dia.

Pada 12 Mei 2021, CEO Elon Musk mengunggah cuitan Tesla akan berhenti menerima bitcoin untuk pembayaran karena masalah lingkungan.

"Beberapa kata itu menyebabkan nilai bitcoin anjlok dari hampir USD 60.000 pada hari-hari sebelumnya menjadi di bawah USD 48.000,” tulisnya.

Kemudian bank sentral China menegaskan kembali akan melarang token digital sebagai alat pembayaran sehingga menyebabkan bitcoin turun sedikit di atas USD 30.000 pada satu titik nilai terendah sejak Januari.

Menurut Laboure, kapitalisasi pasar bitcoin USD 1 triliun membuatnya tidak mungkin diabaikan tetapi utilitas terbatas bitcoin untuk transaksi berarti perdebatan nyata apakah naiknya valuasi saja dapat menjadi alasan cukup bagi bitcoin untuk berevolusi menjadi kelas aset dan apakah likuiditasnya tidak likuid adalah rintangan.

Inilah mengapa Laboure mengatakan, nilai bitcoin sepenuhnya didasarkan pada angan-angan. "Nilai bitcoin akan terus naik dan turun tergantung pada apa yang orang yakini layak,” tulis dia.

Tekanan Bank Sentral

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Sebuah fenomena yang menurut Laboure disebut efek tinkerbell karena kepercayaan itu penting. Laboure menuturkan, bank sentral dan pemerintah kemungkinan akan mengatur kripto pada awal tahun depan. Bahkan bank sentral berpotensi meluncurkan mata uang digital mereka sendiri seperti Federal Reserve dan mata uang digital China.

Laboure mengatakan, masa depan aset digital jangka menengah dan panjang tidak pasti dan akan membutuhkan waktu lama untuk pembayaran kripto apa pun untuk mendapatkan daya tarik yang luas. Sementara itu, bitcoin akan beredar dan nilainya dapat tetap tidak stabil.

Menurut perkiraan Deutsche Bank, 30 persen dari aktivitas bitcoin adalah untuk pembayaran dan sisanya sebagai “investasi keuangan”.

Hal ini bertentangan dengan apa yang mungkin ditunjukkan oleh volatilitasnya. Total volatilitas tidak terlalu tinggi. Tahun lalu, volume perdagangan Apple adalah 270 persen dari jumlah sahamnya, bitcoin jumlahnya 150 persen.

Sementara itu, Musk dan China, ada alasan lain mengapa mata uang kripto tetap tidak stabil.”Karena daya jual bitcoin yang terbatas, diharapkan akan tetap sangat mudah berubah, beberapa pembelian tambahan dan keluar dari pasar dapat secara signifikan mempengaruhi keseimbangan penawaran permintaan,” tulis Laboure.

Ia menambahkan, akar penyebab volatilitas bitcoin termasuk alokasi aset taktis kecil dan masuk serta keluarnya aset besar.

Selain itu, ada tekanan dari bank sentral. Ketua The Federal Reserve Jerome Powell melihat mata uang digital sebagai pelengkap dolar AS dari pada melengkapinya. Apa pun yang dilakukan the Fed akan mempengaruhi pasar kripto. Di China, pemerintah mengambil pendekatan yang lebih agresif terhadap bitcoin untuk memberi ruang bagi mata uang digitalnya sendiri.

"Jelas bahwa tindakan regulasi yang ditargetkan China dirancang untuk mendukung peluncuran mata uang digitalnya,” ujar Laboure.

Selanjutnya

Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto. Kredit:  WorldSpectrum via Pixabay
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto. Kredit: WorldSpectrum via Pixabay

Dalam catatan Deutsche Bank, dari kekuatan tangan pemerintah dalam regulasi kripto di libra. Ketika Facebook mengumumkan mata uang global futuristik yang akan mengakibatkan pemerintah memiliki lebih sedikit kendali atas pasokan uang mereka pada 2019. Namun, Facebook sejak itu mengubah rencana mata uang digital menjadi kurang ambisius.

"Produk sekarang fokus pada pengurangan biaya pembayaran dari pada bersaing dengan pemerintah dan bank sentral dengan menciptakan alat pembaran parallel. Dengan kata lain, Facebook tidak berencana membuat mata uang pesaing terhadap dolar AS, sebaliknya mereka berharap dapat bersaing dengan cara tradisional dalam membayar dolar AS,” tulis Laboure.

Ia menilai, ini bisa menjadi lensa terbaik melihat kripto bukan sebagai aset spekulasi tetapi solusi fintech untuk pembayaran global lebih cepat dan murah. “Pada akhirnya, mengatur kripto tidak sesulit itu,” tulis dia.

Ia mencatat, pemerintah akan melindungi monopoli fiskal bahkan jika membiarkan kripto sendiri karena alasan inovais untuk waktu yang lama.

"Jika tidak bisa mengalahkan, menggabungkan ke depan, transaksi bitcoin mungkin meninggalkannya untuk aset digital yang memberi lebih banyak utilitas,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini