Analis Junior Goldman Sachs Keluhkan Melonjaknya Beban Kerja

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Survei internal yang dilakukan sejumlah analis junior di Goldman Sachs menunjukkan keluhan terkait jam kerja yang panjang sehingga mengakibatkan kelelahan.

Selain jam kerja yang panjang, tuntutan dari atasan seiring melonjaknya kesepakatan yang dipicu special purpose acquisition company (SPAC) atau perusahaan cek kosong juga berdampak.Lonjakan aktivitas telah berdampak serius terhadap kesehatan mental dan fisik analis sejak awal tahun.

Hal itu berdasarkan slide dari survei internal yang dirilis ke media sosial dan dibenarkan oleh sumber yang mengetahui hal tersebut.

"Kekurangan tidur, perlakuan bankir senior, tekanan mental dan fisik. Saya telah melaluinya dan ini bisa dibilang lebih buruk," ujar Analis Goldman, berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 13 karyawan pada Februari seperti dilansir dari CNBC, Jumat (19/3/2021).

Analis lain mengungkapkan tubuhnya sakit sepanjang waktu dan secara mental berada di tempat yang sangat gelap.Menurut sumber, slide hasil survei dibuat dengan grafik berkode warna dan format dalam gaya resmi yang dibuat setelah sekelompok analis tidak puas bersatu untuk survei rekan mereka.

Analis di tahun pertama biasanya lulusan baru perguruan tinggi dan berada di posisi terendah dalam hierarki di wall street, kemudian di atas mereka rekan kerja, diikuti wakil presiden direktur dan direktur pelaksana.Model wall street mempekerjakan ribuan pekerja dari tingkat pemula setiap tahun.

Pekerja itu merupakan lulusan terbaik dari universitas kelas atas. Merekrut lulusan terbaik tersebut untuk menciptakan saluran bagi bakat dan tenaga kerja yang didedikasikan untuk aspek luar biasa dari investment banking.

Bankir junior mengalami beban kerja melelahkan untuk mendapatkan gaji lebih tinggi dari rata-rata gaji warga Amerika Serikat, dan akhirnya mendapatkan paket kompensasi jutaan dolar AS, dan bisa menjadi direktur pelaksana.

Goldman Sachs Menanggapi Serius

Ilustrasi Goldman Sachs (AFP PHOTO)
Ilustrasi Goldman Sachs (AFP PHOTO)

Kondisi di wall street menjadi topik hangat pada 2013 setelah pegawai magang Bank of America di London meninggal setelah dilaporkan bekerja di malam hari tanpa tidur.

Industri tersebut kemudian mulai adopsi dengan tidak bekerja pada akhir pekan tanpa persetujuan manajer.Meski begitu, budaya industri tetap ada yang keras.

Responden survei Goldman Sachs menyebutkan kondisi "tidak manusiawi" mengatakan bekerja 110 jam seminggu sering kali hanya menyisakan empat jam sehari untuk tidur dan perawatan diri.

Mereka juga mengeluh karena diberi tenggat waktu yang tidak realistis dan diabaikan selama rapat. Mereka mengatakan tidak puas perseroan.Goldman Sachs pun menanggapi serius survei yang berasal dari sampel kecil karyawan itu.

Eksekutif Goldman Sachs bertemu dengan karyawan pada bulan lalu dan mengatakan akan meningkatkan untuk merekrut bankir junior sehingga mengatasi beban kerja. Menurut sumber, 13 karyawan yang membuat survei itu tidak dihukum.

"Kami menyadari bahwa orang-orang kami sangat sibuk karena bisnis kuat dan volume berada pada level bersejarah. Setelah COVID-19, orang-orang dapat dimengerti, dan itulah mengapa kami mendengarkan kekhawatiran mereka dan mengambil banyak langkah untuk mengatasinya," ujar Juru Bicara Goldman Sachs, Nicole Sharp.

Berdasarkan data Dealogic, aktivitas di wall street melonjak didorong pasar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Permintaan itu dipenuhi oleh SPAC yang mendorong pencatatan saham dan merger SPAC mencapai USD 164 miliar. Angka ini melebihi 2020.

Pada pekan lalu CFO Goldmand Sachs, Stephen Scherr menuturkan, penumpukan kesepakatan mencapai rekor pada kuartal I. Goldman termasuk salah satu konsultan merger top dunia mengalahkan JP Morgan Chase dalam total volume dan jumlah transaksi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini