Analis: kendati mengalami kemunduran, Rusia masih bersandar kepada Trump

·Bacaan 3 menit

Moskow (AFP) - Meskipun gagal mewujudkan harapan Kremlin untuk menjadi ujung tombak era baru dalam hubungan AS-Rusia, Presiden Donald Trump masih menjadi calon pilihan Moskow dalam pemilu AS daripada lawannya Joe Biden, kata para analis.

Rusia memiliki harapan tinggi kepada Trump ketika dia terpilih pada 2016, pada saat hubungannya dengan Barat memburuk dengan cepat semasa pemerintahan Barack Obama.

Menurut intelijen AS, Moskow melangkah lebih jauh untuk memperbesar kampanye Trump, khususnya dengan meluncurkan serangan peretasan terhadap Partai Demokrat.

Dan pada Rabu, direktur intelijen nasional AS menuduh Rusia dan Iran mendapatkan informasi pemilih AS dan mengambil tindakan untuk mempengaruhi opini publik dalam pemungutan suara bulan depan. Tuduhan ini dianggap Kremlin sebagai "sama sekali tidak berdasar."

Pada pertemuan puncak dengan Presiden Vladimir Putin di Helsinki pada 2018, Trump menciptakan keheranan karena menyangkal campur tangan langsung Rusia dalam pemilu AS dengan mengatakan, "Saya tidak melihat alasan mengapa hal itu dilakukan" oleh Moskow.

Tetapi Trump "bukanlah presiden yang memecahkan kebuntuan dalam hubungan Rusia-Amerika", kata Maria Lipman dari pusat penelitian Ponars Eurasia.

Tidak hanya masalah campur tangan Rusia yang selalu membayangi kepresidenan Trump, kedua negara juga banyak tidak bersepakat pada beberapa masalah global.

Washington telah meningkatkan penempatan militernya di Suriah setelah ketegangan dengan Rusia yang merupakan pendukung utama rezim Presiden Bashar al-Assad.

Amerika Serikat juga menarik diri dari dua perjanjian internasional utama -kesepakatan nuklir Iran dan pakta Open Skies- dan menarik diri dari perjanjian pengawasan senjata nuklir dengan Rusia, yakni perjanjian Pasukan Nuklir Jarak Menengah (INF).

Selain itu, Washington menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembangunan pipa gas Nord Stream 2, usaha patungan antara Rusia dan Jerman, dan meningkatkan sanksi yang membidik sekutu-sekutu Moskow, termasuk Venezuela dan bekas republik Soviet, Belarus.

Pengracunan mantan perwira intelijen Sergei Skripal di Inggris pada 2018 memicu saling usir diplomat Rusia dan AS terbesar sejak Perang Dingin.

Pada KTT Helsinki, Putin terang-terangan mengakui bahwa dia "ingin" Trump memenangkan pemilu 2016.

Namun dalam wawancara dengan TV Rusia pada awal Oktober, Putin mengeluhkan bahwa sejak dimulainya pemerintahan Trump, Rusia telah menjadi sasaran 46 kali sanksi.

Ini termasuk penjatuhan berbagai sanksi baru atau perluasan tindakan-tindakan yang sudah ada.

"Anda harus melihat segala sesuatunya secara objektif," kata dia, "niat yang dibicarakan Presiden Trump sebelumnya tidak menjadi kenyataan."

Tetapi para analis mengingatkan bahwa Moskow bisa menghadapi perjalanan yang lebih sulit pada masa pemerintahan Biden.

"Mengingat retorika Demokrat yang biasa didengar semua orang dalam empat tahun terakhir, maka akan masuk akal jika mereka menuntut sanksi yang lebih keras," kata Alexander Baunov dari Carnegie Center di Moskow.

Namun demikian, sebagai petunjuk bahwa Moskow bisa bersiap menghadapi kemungkinan Biden yang menang, Putin secara tak terduga memberikan penghormatan kepada Partai Demokrat yang menurut dia memiliki nilai-nilai sayap kiri yang sama dengan yang dia alami semasa menjadi anggota Partai Komunis pada era Uni Soviet.

Dia bahkan memuji "kandidat Biden" karena dia mendukung perpanjangan perjanjian nuklir yang menjadi tonggak penting.

Analis Alexander Shumilin dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia menilai pernyataan itu sebagai oportunistis.

"Dia menyadari bahwa dia (Biden) memiliki hasil jajak pendapat yang lebih baik," kata Shumilin.

Bagi Shumilin, Trump tetap menjadi kandidat favorit Kremlin karena presiden AS itu sudah menunjukkan bahwa "dia tidak siap memperkuat sanksi dan bahkan berusaha melunakkannya."

Trump bukan satu-satunya faktor.

Kongres AS - di mana Demokrat menguasai suara mayoritas - juga telah mempersulit Kremlin dengan cara menjatuhkan sanksi.

Pada akhirnya, "Trump atau Biden - menurut saya tidak ada prospek yang menguntungkan bagi Rusia," kata Lipman.

Hal ini diamini oleh Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara dengan saluran TV berbahasa Rusia RTVI: "Kami menyadari bahwa tidak akan ada perubahan besar dalam hubungan kami saat ini baik dengan Demokrat maupun dengan Republik."

Moskow bisa mendapatkan keuntungan dari krisis politik di AS, misalnya jika Trump menolak menerima hasil pemilu, sesuatu yang berulang kali dia kemukakan.

Skenario ini juga disebutkan oleh Lavrov.

"Kami tidak ingin melihat kekuatan global terkemuka seperti Amerika Serikat, jatuh ke dalam krisis mendalam seandainya gangguan baru ditambahkan kepada manifestasi kekerasan dan rasisme saat ini," kata dia seperti dikutip kantor berita TASS.

Bagi Lipman, "kekacauan pasca pemilu" memiliki daya tarik besar bagi Kremlin.

"Amerika Serikat akan fokus kepada urusannya sendiri dan bukan kepada Rusia. Dan (Moskow) akan memanfaatkan ini".


ml-tbm-acl/sjw/mbx