Analis Optimistis Baidu Sukses di Bursa Saham Hong Kong

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Saham Baidu naik sedikit di bawah 1 persen pada pembukaan dalam debut di Bursa Saham Hong Kong. Raksasa teknologi China, yang sudah terdaftar di Amerika Serikat (AS) ini berhasil mengumpulkan USD 3,1 miliar atau sekitar Rp 44,68 triliun (asumsi kurs Rp 14.415 per dolar AS) dalam penawaran saham sekunder di Hong Kong.

Tidak seperti penawaran umum perdana, pencatatan saham sekunder mungkin tidak disambut antusias di hari pertama lantaran saham perusahaan sudah diperdagangkan di bursa lain.

Pencatatan saham di Bursa Saham Hong Kong adalah momen besar bagi Baidu. Perusahaan telah mengalami beberapa tahun yang sulit sejak pertengahan 2018 dan tertinggal dari pesaingnya seperti Alibaba dan Tencent.

Baidu gagal bergerak cepat karena pengguna di China berbondong-bondong beralih ke mesin pencarian seluler dan pasar periklanan yang sulit, menyumbang kerugian pada bisnis tersebut.

Akan tetapi, perubahan yang dipimpin oleh CEO Robin Li, telah meyakinkan investor raksasa teknologi itu adalah pemimpin dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan penggerak otonom dalam upaya untuk mendiversifikasi aliran pendapatannya di luar iklan. Hal itu sepertinya membuahkan hasil.

Pada pertengahan Mei 2018, saham Baidu yang terdaftar di AS ditutup pada USD 284,07 per saham, rekor tertinggi pada saat itu.

Namun, saham tersebut kemudian jatuh lebih dari 70 persen ke level USD 83,62 pada Maret 2020 di tengah jatuhnya pasar saham. Itu merupakan penutupan terendah sejak April 2013.

Akan tetapi, saham telah menguat lebih dari 200 persen dari level terendah pada Maret 2020. Dilansir dari CNBC, Selasa (23/3/2021), saham Baidu mencapai level tertinggi sepanjang masa di USD 354,82 pada Februari.

"Saya pikir EV (kendaraan listrik) adalah bagian dari cerita. Pada saat yang sama, komputasi penyimpanan (cloud), mengintegrasikan AI, ini semua adalah area di mana Baidu telah berinvestasi sangat besar sejak 2014 dan kami baru mulai melihat hasil dari kerja keras tersebut,” kata Brendan Ahern, kepala investasi di KraneShares.

Target Harga Saham Baidu

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Baidu memiliki sistem penggerak otonom yang disebut Apollo yang dapat dijual ke pembuat mobil. Perusahaan tersebut memulai perusahaan kendaraan listrik mandiri dalam kemitraan dengan pembuat mobil China Geely.

Baidu juga menguji robotaxis di kota-kota termasuk di Beijing. Dan bulan lalu, perusahaan itu meluncurkan proyek transportasi pintar di kota Guangzhou, China selatan, yang terbesar.

James Lee, analis internet AS dan China di Mizuho Securities, memiliki target harga USD 350 pada saham Baidu yang terdaftar di AS, yang 31 persen lebih tinggi dari harga penutupan pada Senin di Wall Street.

Dia mengatakan, bisnis mengemudi otonom dapat bernilai USD 40 miliar dan pemerintah China akan terus mendukung industri ini dengan kebijakan yang menguntungkan. Lee juga berharap bisnis periklanan Baidu terus mendapatkan momentum pada kuartal pertama 2021.

"Kami menyukai fundamental perusahaan dan kami terus berharap saham Baidu akan mengungguli pasar," kata Lee.

Sementara itu, Baidu terus berupaya mendiversifikasi aliran pendapatannya. Perusahaan telah mengumpulkan uang untuk unit semikonduktor kecerdasan buatan Kunlun yang bernilai USD 2 miliar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini