Analisis Pakar Penyebab Muncul Banyak Penyakit di Tengah Pandemi Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Pandemi Covid-19 belum usai. Kini muncul penyakit Hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Selang beberapa saat ditemukan penyakit mulut dan kuku yang menyerang hewan ternak yang turut menjadi perhatian Presiden Joko Widodo.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman berpendapat munculnya banyak penyakit dipicu banyak hal. Di antaranya karena dunia rentan terhadap wabah akibat terjadi perubahan iklim yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Belum lagi perilaku manusia yang tidak menjaga harmonisasi kesehatan dengan lingkungan.

"Ini yang membuat potensi adanya wabah, terjadinya penyakit baru menjadi besar," katanya kepada merdeka.com, Rabu (11/5).

Peneliti Global Health Security ini mengatakan, kerusakan lingkungan bisa mengubah pola penyakit. Misalnya, penyakit yang seharusnya bersirkulasi di hewan dapat melompat ke manusia.

Dicky mencatat, lebih dari ratusan ribu virus yang belum diketahui pada hewan bisa menjadi wabah bagi manusia. Bila ekosistem virus ini mengalami kerusakan, mereka akan mencari host baru. Host ini bisa ditemukan pada hewan lain yang masih sehat atau manusia.

"Ketika dia (virus) sekali loncat, dia punya peluang untuk loncat lagi kan. Pada gilirannya ketika kedekatan kontak erat hewan dan manusia tidak terjaga baik, tidak ada sanitasi makanan dari hewan yang kuat, ya paparan terjadi," jelasnya.

"Itulah cikal bakal asal muasal terjadinya pandemi," imbuhnya.

Dunia Kian Rentan, Sulit Hindari Pandemi

Di tengah kondisi dunia yang semakin rentan, Dicky menilai sangat sulit menghindari adanya pandemi. Ke depan, bukan tidak mungkin muncul lagi penyakit yang berpotensi menjadi pandemi.

Namun, potensi pandemi sebetulnya bisa dicegah. Pencegahan ini tidak bisa hanya dilakukan satu lingkungan atau negara. Melainkan secara global.

Dunia, kata Dicky, sudah menyiapkan pandemic preparedness plan. Hanya saja regulasi kesehatan dunia belum berjalan maksimal. Akibatnya, negara di dunia tidak bisa menekan penularan wabah.

Menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung ini, mencegah penularan wabah lebih besar bisa dimulai dari hulu sampai hilir. Dari mulai produksi makanan sampai penyajiannya kepada publik harus bersih. Kemudian menata lingkungan, tidak merusak ekosistem, menjaga air, tanah, udara agar tidak tercemar.

"Itu semua adalah pendekatan yang harus dilakukan secara paralel dan komprehensif," tegasnya.

Versi Pakar Kesehatan

Sementara Pakar Kesehatan Masyarakat, Hasbullah Thabrany menilai munculnya banyak penyakit belakangan ini merupakan hal biasa. Menurutnya, setiap penyakit memiliki siklus naik turun atau fluktuatif.

"Misalnya DBD sebentar lagi bisa menjadi epidemi atau wabah. Karena apa? Karena ada musim hujan yang sudah akan turun, banyak genangan-genangan air bertahan beberapa minggu, itu tempat mudah berkembangnya jentik-jentik nyamuk," katanya.

Hasbullah menyadari munculnya penyakit tidak lepas dari kondisi lingkungan. Jika lingkungan berubah, maka kuman, bakteri, atau virus bisa tumbuh lebih subur.

"Kadang-kadang kalau kita melihat perubahan suhu misalnya di laut. Saya ikuti beberapa berita, perubahan suhu yang sangat sedikit sekali, setengah derajat dari rata-rata, itu sudah bisa menimbulkan sebuah plankton tertentu tumbuh subur, plankton yang lain mati. Sehingga terjadi gangguan keseimbangan," jelasnya.

Menurut Hasbullah, menjaga keseimbangan alam sangat penting. Bila terjadi perubahan cuaca, perilaku manusia, dan mobilitas orang, potensi munculnya penyakit baru meningkat. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel