Analisis Pengamat Teroris Soal Polisi Usut Konvoi Khilafah di Cawang

Merdeka.com - Merdeka.com - Konvoi pengendara motor beratribut poster bertuliskan 'Kebangkitan Khilafah' disertai bendera bertuliskan bahasa arab di daerah Cawang, Jakarta Timur, tengah diusut polisi. Polisi bahkan membentuk tim khusus untuk memastikan penanganannya sesuai aturan berlaku.

Pengamat Terorisme Indonesia yang juga Dosen Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Al-Chaidar menilai pengusutan dilakukan polisi terhadap konvoi beratribut khilafah itu lantaran tema yang dibawa kelompok pemotor itu sangat sensitif. Namun secara aturan menurut Chaidar, tak ada yang dilanggar dalam konvoi tersebut.

"Iya memang sulit ditindak karena konvoi itu kan hal yang biasa, hanya saja memang di dalam periode sekarang membawa-bawa nama khilafah apalagi dengan cara-cara promosi yang seperti itu dianggap tidak patut saja dan karena yang dibawa yang diusung itu pun yang sangat sensitif yaitu khilafah," kata Chaidar saat dihubungi merdeka.com, Kamis (2/6).

Chaidar mengatakan bahwa konvoi beratribut khilafah tersebut tak melanggar peraturan tentang terorisme maupun kedaruratan. Menurut dia, dalam konvoi tersebut tak terlihat membawa bom seperti dalam Undang-Undang Terorisme, Serta tak terlihat membawa amunisi maupun senjata seperti tertuang dalam Undang-Undang Kedaruratan. Sehigga Chaidar menekankan penindakan terhadap kelompok yang konvoi menggunakan atribut khilafah tersebut sulit dilakukan.

"Karena ada tiga organisasi yang mengusung khilafah itu. Yang pertama HTI sudah dibubarkan yang kedua ISIS itu terlibat dengan terorisme dan banyak ditangkap dari mereka dan kemudian yang ketiga khilafatul muslimin. Nah yang khilafatul muslimin sebenarnya mereka memperjuangkan terbentuknya khilafah dengan cara-cara konvoi begitu saja artinya sebenarnya tidak membahayakan, tidak masalah begitu dan tidak begitu krusial, tidak ada yang dilanggar," ujar Chaidar.

Selain tak melanggar Undang-Undang Terorisme dan Kedaruratan, kata Chaidar, Khilafatul Muslimin tak bisa ditindak lantaran dalam akta pendiriannya disebutkan berdasarkan Pancasila.

Jejak Pimpinan Khilafah Muslimin

Dia menjelaskan, pemimpin Khilafatul Muslimin Abul Qadir Baraja memang pernah tercatat dalam sejumlah aksi teror seperti teror bom warman pada tahun 1979 dan bom Borobudur di Malang tahun 1985. Namun menurut Chaidar, jejak aksi tersebut hanya dosa masa lalu sehingga aksi konvoi beratribut khilafah tersebut tak tidak bisa dikaitkan dalam gerakan terorisme.

Kemudian ditambahkan Chaidar, sejak divonis 13 tahun penjara terkait aksi terornya, Abdul Qadir Baraja memilih membentuk organisasi yang lebih smooth tidak radikal dengan menerjermahkan khilafah dalam bentuk jemaah bukan lagi negara.

"Jadi mereka tidak lagi membentuk daulah Islamiyah," kata dia.

Menurut Chaidar, konvoi dilakukan kelompok tersebut hanya untuk menunjukkan eksistensinya dengan tujuan menambah pengikutnya. "Mereka hanya ingin mengumpulkan pengikut saja. Pengikut mereka sudah ada 8 ribu orang dan itu berimplikasi pada finansisal sodakoh infak zakat yang mereka kumpulkan dan mereka bisa memberikan manfaat itu pada para pengurus dan fungsionaris gerakan Khilafatul Muslimin yang rata-rata memang pekerja ploretariat semua ya," kata Chaidar.

Polisi Bentuk Tim Khusus Usut Konvoi Khilafah di Cawang

Polda Metro Jaya membentuk tim khusus untuk mengusut adanya konvoi sepeda motor beratribut khilafah yang melintas di daerah Cawang, Jakarta Timur. Kepolisian memastikan peristiwa tersebut akan ditangani sesuai aturan yang berlaku.

"Terkait dengan adanya konvoi khilafah di Jakarta Timur beberapa hari lalu bisa saya sampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang tidak dibenarkan. Kegiatan yang berupaya mencoba mengubah ideologi bangsa dari Pancasila menjadi ideologi tertentu adalah pelanggaran berat, kemudian Polda Metro Jaya atas perintah Kapolda telah membentuk tim khusus terkait kasus ini," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (2/6).

Zulpan memastikan penyidik masih mendalami aksi yang dilakukan oleh kelompok Khilafatul Muslimin itu. Sejauh ini, kepolisian telah memiliki data pihak-pihak yang terlibat dalam konvoi.

"Saat ini tim akan melakukan pemeriksaan dan pendalaman kemudian sikap Polda Metro tentunya terkait dalam hal ini adalah apabila ditemukan nantinya adanya unsur pidana dalam kegiatan ini, tentu akan melakukan penegakan hukum secara tegas. Kemudian bisa saya sampaikan juga fakta yang kami temukan terkait khilafah adalah jelas merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945," jelas dia.

Menurut Zulpan, kegiatan yang mengajak masyarakat untuk membangkitkan kebencian terhadap pemerintahan yang sah merupakan pelanggaran hukum yang bisa dikenakan pidana.

"Oleh sebab itu kami akan melakukan secara tegas dan terukur terhadap kegiatan tersebut," Zulpan menandaskan.

Selain di Cawang, Densus 88 Usut Motif Konvoi Motor Beratribut Khilafah di Daerah

Konvoi motor beratribut khilafah tidak hanya terjadi di Cawang, Jakarta Timur, namun juga dilakukan di beberapa wilayah. Salah satu yang juga terpantau adalah di Brebes, Jawa Tengah.

Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar menyampaikan, aksi konvoi tersebut dilakukan oleh satu kelompok yang sama.

"Mereka satu kelompok walaupun pada wilayah berbeda. Kegiatan itu diselenggarakan oleh wilayah atau daulah masing-masing," kata Aswin saat dikonfirmasi, Kamis (2/6).

Menurut Aswin, Densus 88 Antiteror Polri masih mendalami motif konvoi khilafah yang belakangan dilakukan kelompok tersebut. Terlebih menjelang Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni.

"Kita masih menyelidiki motif kegiatan ini. Meskipun ini hanya terlihat sebagai propaganda, bisa saja ada maksud lain di dalamnya," kata Aswin.

Aswin menyebut Khilafatul Muslimin dekat dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang radikal.

Menurut dia, Khilafatul Muslimin dekat kelompok yang kerap melakukan teror. Maka dari itu, dia berharap masyarakat menjauhi kelompok tersebut.

"Kelompok ini secara historis sangat dekat bahkan, ya, kita bilang bagian, ya, sangat dekat dengan gerakan-gerakan radikal dan kelompok-kelompok teror seperti Majelis Mujahidin," kata Aswin dalam keterangannya, Rabu (1/6).

Dia meminta masyarakat tak mudah terpengaruh dengan paham dari kelompok Khilafatul Muslimin maupun kelompok radikal lainnya. Ketidakpahaman masyarakat terkait ideologi kelompok ini yang harus diwaspadai.

"Seharusnya, kalau kita sama-sama memahami bagaiman sejarah kelompok dan sejarah orang-orang yang di dalamnya. Kita harus betul-betul waspda, mungkin ketidaktahuan kah atau mngkin atau hal lain," ucap Aswin. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel